Handicap

Handicap; itulah sebuah kata yang kiranya cocok untuk menjadi kata kunci jawaban yang berkaitan dengan perbedaan perlakuan yang diterima. Dari beberapa kasus yang ada, satu kasus yang mencolok adalah adanya kemandegan pelaksanaan dan penyelesaian tugas yang diberi “permakluman”, atau dispensasi, kata orang. Sudah sekian lama kemandegan itu terjadi, sehingga lambat laun sorotan berpindah dari masalah di atas ke keadaan bahwa si pelaksana tugas merasa “kerepotan” dan perlu dibantu (baca: dimaklum). Untuk itu mari kita lepaskan tugas itu dari si pelaksana (dapat beberapa orang), demikian kata orang yang lain menilik “handicap” yang dimiliki-nya (atau mereka).
Gejala ini menjadi “trend”. Jadi, tidak perlu “ngoyo” mengerjakan tugas, toh nantinya juga “dimaklum”. Luar biasa. Kalau tugas itu dibebankan ke saya, wah.. wah.., segudang amunisi diberondongkan ke saya kalau bekerja se-kena-nya dan tiada ampun, tidak bisa dimaklum. Kata singkatnya: “haram” bagiku melakukan hal yang sama seperti si pelaksana di atas karena (mungkin) saya berada di kasta yang berbeda. Tidak diperkenankan berpindah kasta karena handicap saya berbeda.

Adakah reward dan punishment bekerja? Tidak perlu reward dululah, punishment itu saja toh praktis tak ada. Adakah sebabnya? Ya, ada, yaitu: handicap yang menjadi benteng kuat yang meniadakan punishment.

Posted in Policy | Leave a comment

Asteroid’s Dancing

Berbekal hasil pekerjaan Poincare sekitar 120 tahun lalu untuk keadaan ideal, dilakukan telaah orbit asteroid yang mendiami lokasi resonansi (mean-motion) dengan planet terestrial. Telaah orbit ini dilakukan pada rotating frame, sehingga tampak “dancing” dari asteroid tersebut.

Seleksi data dilakukan secara ketat pada database JPL dengan mengambil orbit asteroid yang very-well determined. Diperoleh sekitar 300 asteroid pada resonansi orde-satu dan -dua untuk Venus, Bumi, dan Mars. Integrasi orbit dilakukan untuk beberapa puluh tahun untuk memantau asteroid’s dancing. Telaah lanjutan berikutnya adalah memeriksa kestabilan orbit asteroid tersebut.

Posted in Research | Leave a comment

Komputasi

Beberapa pekan lalu dilakukan komputasi terhadap lebih dari 3000 asteroid yang berlokasi di resonansi (mean-motion) sebelum inner Main-belt. Sejumlah asteroid ini diekstrak dari data JPL untuk ditelaah evolusi orbitnya hingga 10 juta tahun ke depan. Salah satu tujuan yang ingin dicapai adalah untuk menentukan berapa besar fluks asteroid tersebut mencapai daerah dekat-Bumi.

Dengan perangkat komputasi yang ada, rupanya dibutuhkan hampir 2 pekan waktu komputasi yang dibagi ke dalam 4 sesi yang masing-masingnya mencakup 800-an asteroid. Repot juga, meskipun sudah menggunakan algoritma integrasi yang andal saat ini. Perlu perangkat yang lebih mumpuni untuk menghitung ribuan obyek seperti ini. Suatu kebutuhan yang dalam waktu dekat dirasakan semakin mendesak.

Posted in Research | Leave a comment

Teladan…

Beberapa waktu belakangan ini, teladan mungkin merupakan kata yang enggan untuk diangkat. Sukar memang. Keteladanan merupakan loko penarik bagi pengikutnya. Kalau loko ini tidak baik, maka bisa salah arah jalan yang ditempuh. Keteladanan merupakan barang mahal yang pelakunya boleh jadi harus menentang arus kebiasaan yang ada di lingkungannya.

Memberi kuliah dengan baik dan menegur yang asal-asalan, menuntaskan tugas dengan seksama dan menindak yang bekerja sekenanya atau tak-tuntas,  merupakan sebagian nilai keteladanan. Perlakuan ini hendaknya sama diterapkan, tidak mengenal kelompok, agar tidak muncul kasta. Sanksi dan reward diperlukan di sini sehingga keadilan dapat ditegakkan.

Kalau ini tidak berjalan, jangan salahkan pengikut untuk mengambil sikap mengikuti kebiasaan yang ada, yang sudah mendapat permakluman dalam gelanggang kebiasaan itu sendiri.

Posted in Policy | Leave a comment