Kalendar sebagai sebuah kebutuhan Masyarakat

HISAB DAN RUKYAT MENUJU UNIFIKASI SISTEM PENANGGALAN HIJRIAH DI INDONESIA*)

 

Moedji Raharto

Peneliti Observatorium Bosscha dan Kelompok Keilmuan Astronomi FMIPA ITB

moedji@as.itb.ac.id atau mraharto2009@gmail.com

 

*) Disampaikan pada Acara Muzakarah tentang Hisab dan Ru’yah dalam Penentuan Awal Ramadhan dan 1 Syawal 1434 H, diselenggarakan oleh Majelis Muzakarah Masjid Agung Al-Azhar (tahun 1434H/2013M) pada tanggal 8 Juni 2013/29 Rajab 1434 H, bertempat di Universitas Al-Azhar Jl. Sisingamangaraja Kebayoran Baru Jakarta Selatan.

 

PENDAHULUAN

 

Astronomi dalam kurun waktu abad 7 hingga abad 14 diberi label sebagai Astronomi Islam, karena perkembangan astronomi didorong oleh implementasi penentuan waktu – waktu ibadah umat Islam. Waktu – waktu ibadah umat Islam menggunakan posisi benda langit – benda langit sebagai indikator waktu – waktu ibadah. Misalnya posisi Matahari di meridian sebagai acuan untuk menetapkan masuknya waktu shalat zhuhur, panjang bayang – bayang sebuah tongkat istiwa pada waktu zhuhur ditambah panjang tongkat dipergunakan untuk indikator masuknya waktu shalat asar, waktu terbenamnya Matahari untuk acuan penetapan waktu maghrib, pendek kata indikator waktu shalat lima waktu umat Islam menggunakan posisi Matahari. Begitupula terang cahaya Matahari dan posisinya selain dapat dipergunakan sebagai indikator waktu shalat, juga dapat dipergunakan untuk penentuan arah Kiblat dan indikator jarak dari tempat kita berada ke Mekah. Selain Matahari umat Islam menggunakan Bulan dalam menetapkan awal bulan Islam dan kalendar Islam. Umat Islam menggunakan keteraturan fenomena penampakan Bulan di langit dengan ketentuan yang al Qur’an dan al Hadist sebagai dasar acuan perhitungan dalam penyusunan kalendar Islam. Ayat – ayat al Qur’an tersebut telah menggerakkan para ahli ilmu Falaq dan Astronom muslim mempelajari benda langit Bulan dan Matahari tidak hanya dorongan keingin tahuan tapi juga atas dasar dorongan motivasi beribadah.

 

  • QS Yunus ayat 5 : Huwal ladzi ja’alasy syamsa dhiyaa-aw wal qamara nuuraw-waqaddarahuu manaazila li ta’lamuu’adadas sinnina hisaaba maa khalaqallaahu dzaalika illaa bil haaqqi yufashshilul aayaati liqaumiy ya’lamuun
  • Dialah yang menjadikan Matahari bersinar dan Bulan bercahaya, dan Dia (menentukan perjalanannya) menetapkan tempat-tempat beredarnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun dan (hisab) perhitungan (waktu). Allah menjadikan tidak lain kecuali dengan benar. Dia menerangkan tanda-tanda (kebesaran)-Nya bagi kaum yang mengetahui.

 

 

Pada masa sekarang manusia memahami bilangan tahun berkaitan dengan periode planet Bumi mengelilingi Matahari, setahun tropis rata – rata 365.2422 hari. Periode sideris Bulan yaitu periode orbit Bulan mengelilingi Bumi 27.32166 hari sedang periode sinodis Bulan atau penampakan dua fasa Bulan yang sama secara berurutan 29.530589 hari (umumnya hingga 5 digit dibelakang koma 29.53059 hari, ketelitian orbit Bulan hingga 0.864 detik, hampir 1 detik). Realitas selang waktu siklus sinodik Bulan selama 5000 tahun dari 1000 SM hingga tahun 4000 M terdapat siklus sinodik terpendek 29,2679 hari dan siklus sinodik terpanjang 29,8376 hari. Siklus sinodik Bulan rata-rata yang diadopsi adalah 29,530589 hari. Sebagian mengadopsi periode sinodis rata – rata Bulan 29.5305869 hari. Sedang dalam kalendar Gregorian setahun rata – rata adalah [97 x 366 + 303 x 365] /400 hari = 365.2425 hari. Hubungan antara tahun tropis rata – rata (kalendar) dengan periode sinodis rata – rata sebagai berikut: 5700000 tahun (kalendar Gregorian) = 5700000 x 365.2425 hari = 2081882250 hari = 70499183 lunasi = 70499183 x 29.5305869 hari = 2081882250 hari.  Jadi 70499183 lunasi = 5874931.917 tahun Qamariah/Bulan atau tahun Hijriah.

 

 

Apakah umat manusia terdahulu tidak memanfaatkan benda langit Bulan dan Matahari sebagai acuan penyusunan kalendar?

 

Walaupun generasi manusia terdahulu menggunakan keteraturan siklus fenomena Bulan dan Matahari sebagai dasar penyusunan kalendar, namun kalendar Islam mempunyai kekhasan tersendiri, berbeda dengan kalendar lainnya. Hari – hari libur keagamaan di Indonesia seperti hari libur Waisak (tahun baru pemeluk Buddha), hari raya Nyepi (tahun baru Saka pemeluk Hindu), Imlek (ungkapan rasa syukur etnis Cina lepas dari musim dingin), tahun baru Hijriah (tahun baru umat Islam, tahun tegaknya ajaran Islam), 1 Januari (tahun baru internasional), hari wafat Isa Al-Masih (pemeluk Kristiani), Kenaikan Isa Al-Masih  (pemeluk Kristiani), merupakan contoh bahwa setiap umat beragama mempunyai sistem kalendar masing – masing untuk menentukan hari – hari penting keagamaan.

 

Hari Raya Waisak

 

Hari – hari penting keagamaan itu juga mengacu pada keteraturan fenomena fasa Bulan dan tahun tropis Matahari, sistem ini dinamakan dengan sistem Luni-Solar. Hari Raya Waisak, pemeluk ajaran Budha memperingati kelahiran, kebangkitan dan wafatnya Budha, ditetapkan Oposisi Hakiki atau Astronomical Full Moon (Bulan Purnama) yang berlangsung antara 6 Mei – 6 Juni, Untuk penentuan tanggal  Waisak  dipergunakan fenomena full moon antara 6 Mei dan 6 Juni dengan mengacu  “zona waktu negara India”  (= UT + 5.5) bila waktu oposisi dalam WIB = UT + 7 jam. Jika terjadi 2 oposisi antara tanggal 6 Mei – 6 Juni, maka referensinya adalah Waisak tahun sebelumnya, kalau Waisak tahun sebelumnya berlangsung bulan Mei maka pada kasus ada dua bulan purnama antara tanggal 6 Mei – 6 Juni maka tanggalnya dipilih bulan Mei. Kasus semacam ini bila oposisi Bulan (Bulan Purnama) berlangsung 7 Mei dan 5 Juni. Bersifat tidak tetap tapi terbatas antara 6 Mei dan 6 Juni. Hari raya Waisak 2557 bertepatan dengan hari Sabtu, tanggal 25 Mei 2013, bulan Purnama pada tanggal 25 Mei 2013 jam 11:26 wib.

 

Paskah

 

Contoh lainnya yang bersifat tidak tetap “tanggal” dalam kalendar Masehi Gregorian yaitu penentuan hari Libur pemeluk Katholik/Kristen Wafat Isa Al-Masih/Yesus Kristus dan Kenaikan Isa Al-Masih/Yesus Kristus. Keduanya ditetapkan mengacu pada hari Paskah, sedangkan hari Paskah ditetapkan berdasarkan dengan sistem Luni Solar. Hari Paskah adalah hari Minggu/Ahad setelah bulan Purnama sesudah tanggal 21 Maret.  Hari libur Wafat Isa Al-Masih dua hari sebelum Paskah, selalu jatuh pada hari Jum’at. Hari libur Kenaikan Isa Al-Masih hari Kamis hari ke 40 setelah Paskah/Easter Sunday. Paskah paling cepat tanggal 22 Maret dan paling lambat tanggal 25 April. Pada tahun 2013 bulan Purnama hari Rabu tanggal 27 Maret 2013, Paskah Ahad 31 Maret 2013, Wafat Isa Al-Masih Jum’at, 29 Maret 2013 dan  Kamis, 9 Mei 2013.

 

 

Hari raya Imlek

 

Hari pertama dalam bulan kalendar Cina adalah  merupakan hari terjadinya bulan baru dengan meridian waktu (UT+ 8 jam), atau perhitungan mengacu pada meridian 120° ( bujur timur 120°). Hal ini sama dengan WITA = (UT + 8 jam) bukan WIB = (UT + 7 jam). Tahun biasa (pendek) terdiri 12 bulan, tahun (panjang) dengan sisipan (intercalary) terdiri dari 13 bulan. Winter solstice P – 11 selalu jatuh pada bulan ke 11. Dalam tahun panjang: intercalary month (bulan sisipan) adalah bulan tanpa nomor “principle term”.  Sebagai bulan yang mendahului/ sebelumnya dengan catatan sebagai bulan sisipan. Jika terdapat dua bulan intercalary (bulan sisipan) dalam tahun intercalary terdiri tanpa principle term, hanya bulan setelah winter solstice yang dipertimbangkan sebagai sisipan. Periode sinodis bervariasi 29.27 sampai 29.84 hari, setahun bisa 12 atau 13 bulan sinodis. Batas atas bila ada 12 bulan sinodis dalam setahun : (12 x 29.84) < 358 hari atau batas bawah bila ada 13 bulan sinodis dalam setahun :13 x 29. 27 > 380 hari

 

Tabel 1: Ijtimak (WITA = UT + 8 jam) dan Hari Raya Imlek

 

 

Gregorian/Masehi

Ijtimak/Konjungsi

WITA

Hari raya Imlek  2554

1 Februari 2003

1 Februari 2003

18 49 25

Hari raya Imlek  2555

22Januari 2004

22 Januari 2004

05 05 57

Hari raya Imlek  2556

9 Februari 2005

9 Februari 2005

06 29 05

Hari raya Imlek  2557

29 Januari 2006

29 Januari 2006

22 15 42

Hari raya Imlek  2558

18 Februari 2007

18 Februari 2007

00 15 22

Hari raya Imlek  2559

7 Februari 2008

7 Februari 2008

11 45 35

Hari raya Imlek  2560

26 Januari 2009

26 Januari 2009

15 56 21

Hari raya Imlek  2561

14 Februari 2010

14 Februari 2010

10 52 23

Hari raya Imlek  2562

3 Februari 2011

3 Februari 2011

10 31 44

Hari raya Imlek  2563

23 Januari, 2012

23 Januari, 2012

15 40 21

Hari raya Imlek  2564

10 Februari 2013

10 Februari 2013

15 21 12

 

 

 

 

Tabel 2: Tahun Baru Cina dan Hari Raya Imlek

 

CINA – DI INDONESIA

Tahun Kalendar Cina

Zodiak

Tanggal Masehi

Hari raya Imlek  2554

4701

Ram/Sheep /Kambing

Feb. 1, 2003

Hari raya Imlek  2555

4702

Monkey /Monyet

Jan. 22, 2004

Hari raya Imlek  2556

4703

Rooster /Ayam Jago

Feb. 9, 2005

Hari raya Imlek  2557

4704

Dog /Anjing

Jan. 29, 2006

Hari raya Imlek  2558

4705

Boar /Babi Hutan 

Feb. 18, 2007

Hari raya Imlek  2559

4706

Rat /Tikus

Feb. 7, 2008

Hari raya Imlek  2560

4707

Ox /Sapi Jantan

Jan. 26, 2009

Hari raya Imlek  2561

4708

Tiger /Harimau

Feb. 14, 2010

Hari raya Imlek  2562

4709

Hare/Rabbit /Kelinci

Feb. 3, 2011

Hari raya Imlek  2563

4710

Dragon/Ular Naga

Jan. 23, 2012

Hari raya Imlek  2564

4711

Snake/Ular

Feb. 10, 2013

 

 

 

 

Hari Raya Nyepi/Tahun Baru Saka

 

Kalendar Saka merupakan kalendar Syamsiah-Qamariah, penentuan awal dan akhir tahun ditetapkan berdasar New Moon atau konjungsi atau ijtimak atau bulan Mati berdekatan dengan tanggal 21 Maret atau disebut juga tilem kasanga, tilem yang berdekatan dengan tanggal 21 Maret, momen tilem saat Matahari dekat dengan ekuator langit.

 

Tabel 3: Tahun Baru Saka dan waktu Ijtimak (WIB = UT +7 jam)

 

Gregorian/Masehi

Ijtimak/Konjungsi

wib

Hari raya Nyepi 1925S

2 – Aprl 2003

2 Aprl 2003

02 19 46

Hari raya Nyepi 1926S

21 – Maret 2004

21 Mrt 2004

05 42 24

Hari raya Nyepi 1927S

9 – Aprl 2005

9 – Aprl 2005

03 33 05

Hari raya Nyepi 1928S

30 – Maret 2006

29 – Mrt 2006

17 16 20

Hari raya Nyepi 1929S

19 – Maret 2007

19 – Mrt 2007

09 43 39

Hari raya Nyepi 1930S

7 – Maret 2008

8 – Mrt 2008

00 15 18

Hari raya Nyepi 1931S

26 – Maret 2009

26 – Mrt 2009

23 07 00

Hari raya Nyepi 1932S

16 – Maret 2010

16 – Mrt 2010

04 02 10

Hari raya Nyepi 1933S

5 Maret  2011

5 Maret  2011

03 46 57

Hari raya Nyepi 1934S

23 Maret  2012

22 Maret  2012

21 38 12

Hari raya Nyepi 1935S

 12 Maret  2013

12 Maret  2013

02 52 06

 

 

 

Tabel 5: Sistem Kalendar Syamsiah: Caka Bali

 

Bulan ke

Nama Bulan Caka Bali

Rentang waktu Gregorian

Jumlah hari

1

Mesha

22 Maret – 20 April

30

2

Wrishaba

21 April – 21 Mei

31

3

Mithuna

22 Mei – 21 Juni

31

4

Rekata

22 Juni – 22 Juli

31

5

Singa

23 Juli – 22 Agustus

31

6

Kaniya

23 Agustus – 22 September

31

7

Thula

23 September – 22 Oktober

30

8

Mericika

23 Oktober – 21 November

30

9

Dhanuh

22 November – 21 Desember

30

10

Makara

22 Desember – 20 Januari

30

11

Kumba

21 Januari – 19 Februari

30

12

Mina

20 Februari – 21 Maret

30 atau 31

 

 

Tabel 6: Sistem Kalendar Qamariah: Candra Bali

 

Nama Bulan Candra Bali

Awal Bulan

Jumlah hari

1

Caitra/Kesanga

tanggal 1- Tilem

29 atau 30 hari

2

Waicaka/Kedasa

tanggal 1- Tilem

29 atau 30 hari

3

Jhista/Jhista

tanggal 1- Tilem

29 atau 30 hari

4

Sadha/Sadha

tanggal 1- Tilem

29 atau 30 hari

5

Srawana/Kasa

tanggal 1- Tilem

29 atau 30 hari

6

Bhadrapada/Karo

tanggal 1- Tilem

29 atau 30 hari

7

Aswina/Katiga

tanggal 1- Tilem

29 atau 30 hari

8

Kartika/Kapat

tanggal 1- Tilem

29 atau 30 hari

9

Margasira/Kalima

tanggal 1- Tilem

29 atau 30 hari

10

Pausha/Kaenem

tanggal 1- Tilem

29 atau 30 hari

11

Magha/Kapitu

tanggal 1- Tilem

29 atau 30 hari

12

Palguna/Kawulu

tanggal 1- Tilem

29 atau 30 hari

total

354 atau 355 hari

Nampih Sasih (bulan sisipan)

384 atau 385 hari

 

 

 

 

 

 

 

Kalendar Masehi Gregorian

 

Pembahasan singkat tentang beberapa kalendar keagamaan tidak terlepas dari kalendar Syamsiah Gregorian yang telah dipergunakan secara luas/Internasional. Kesalahan yang terdapat pada kalendar Syamsiah Gregorian dapat berdampak pada penetapan awal tahun dari berbagai sistem kalendar lainnya. Sistem kalendar Syamsiah Gregorian bukan sesuatu sistem yang sempurna, namun saat ini akurasinya (Kedudukan Matahari akan 3 hari lebih cepat mencapai titik Aries dalam 10000 tahun) sudah cukup memadai untuk keperluan kalendar lainnya.

 

Sekitar 4000 tahun SM masyarakat di Arab telah menggunakan kalendar Matahari setahun 360 hari (kalendar difungsikan sebagai antisipasi fenomena banjir tahunan di Sungai Nil). Kemudian  melalui pengamatan pergeseran posisi terbit atau terbenam Matahari selang waktu dalam setahun  dikoreksi  (dengan penambahan 5 hari) menjadi 365 hari dan bahkan lebih presisi lagi 365.25 hari.

 

  • 1 tahun Julian = 365.25 hari (Matahari Rata – rata)
  • 1 tahun Tropis (dari equinok kembali ke equinok) = 365.242199 hari
  • 1 tahun Sideris (dari bintang kembali ke bintang yang sama) = 365.25636 hari
  • 1 tahun anomalistik (dari perihelion ke perihelion) = 365.25964 hari
  • 1 tahun gerhana (dari titik simpul Bulan ke titik simpul Bulan yang sama ) = 346.62003 hari

 

Cikal bakal sistem kalendar Masehi yang dipergunakan sekarang adalah kalendar Romawi. Semula Julius Caesar mengusulkan bulan Maret merupakan bulan awal kalendar Matahari, namun para senator mengusulkan agar mempertahankan tradisi yang telah ada yaitu bulan Januari adalah sebagai bulan awal kalendar Matahari. Julius Caesar mereformasi jumlah hari dalam tiap Bulan dari luni – solar menjadi kalendar Matahari.  Pada masa – masa sebelum Julius Caesar (46 SM) pada masa tersebut sistem penanggalan Romawi menggunakan sistem Luni-Solar, jumlah hari setahun 355, 377, 355 dan 378 hari. Pada zaman kekuasaan Julius Caesar (63 SM), sistem luni solar mengalami perubahan dengan penambahan bulan sisipan untuk mengembalikan Maret ke equinox hingga akhirnya mendapat bentuk kalendar Matahari pada tahun 45 SM.

 

 

 

Tabel 7a: Kalendar Luni – Solar (Sisipan intercalaris), cikal bakal Kalendar Masehi

 

Nama Bulan Jumlah Hari Nama Bulan Jumlah Hari
martius

31

martius

31

maius

31

maius

31

quintilis= juli

31

quintilis= juli

31

october

31

october

31

ianuarius

29

ianuarius

29

aprilis

29

aprilis

29

iunius

29

iunius

29

sextilis=agustus

29

sextilis=agustus

29

september

29

september

29

november

29

november

29

desember

29

desember

29

februarius

28

februarius

23

total setahun

355

Sisipan intercalaris

27

Total setahun

377

 

Tabel 7b: Kalendar Luni – Solar (sisipan mercedonius), cikal bakal Kalendar Masehi

 

Nama Bulan Jumlah Hari Nama Bulan Jumlah Hari
martius

31

martius

31

maius

31

maius

31

quintilis= juli

31

quintilis= juli

31

october

31

october

31

ianuarius

29

ianuarius

29

aprilis

29

aprilis

29

iunius

29

iunius

29

sextilis=agustus

29

sextilis=agustus

29

september

29

september

29

november

29

november

29

desember

29

desember

29

februarius

28

februarius

23

total setahun

355

sisipan mercedonius

28

total setahun

378

 

Sebulan 31 hari dan 29 hari kecuali februarius 28 hari atau 23 hari + bulan sisipan 27 atau 28 hari. Jadi 1 tahun rata – rata = (355+377+355+378)/4 = 366.25 hari satu hari lebih cepat dari tahun tropis. Ketidak mampuan dan kesalahan kesalahan dalam penetapan tahun kabisat oleh para pendeta pada kalendar menyebabkan Julius Caesar (JC) memutuskan untuk menggunakan kalendar Matahari pada tahun 45 SM dan struktur kalendar tersebut menjadi mantap pada abad 8 M. Struktur kalendar Masehi sebelum 4 M tidak diketahui dengan pasti, karena pada masa Augustus Caesar menangguhkan penggunaan tahun kabisat hingga tahun 4 M. Kelahiran nabi Isa juga diketahui antara 8 SM hingga 4 SM bukan pada tahun 1 Masehi, namun tahun masehi tetap berjalan walaupun tidak sempurna dan mengalami masa – masa gelap dalam sejarah pembentukannya.

 

Tabel 8: Perbandingan Jumlah Hari Pra Julius Caesar (JC) dan pada zaman JC

 

Nama Bulan

Jumlah Hari

Pra JC

Jumlah Hari

JC-Basit

Jumlah Hari

JC-Kabisat

Nama Bulan (Indonesia)

martius

31

31

31

Maret
maius

31

31

31

Mei
quintilis= juli

31

31

31

Juli
october

31

31

31

Oktober
ianuarius

29

31

31

Januari
aprilis

29

30

30

April
iunius

29

30

30

Juni
sextilis=agustus

29

31

31

Agustsus
september

29

30

30

September
november

29

30

30

November
desember

29

31

31

Desember
februarius

28

28

29

Februari

355

365

366

 

 

Julius Caesar (46 SM) membuat koreksi  kalendar Matahari yang dibuat oleh pendeta dan memperkenalkan sistem kalendar  Matahari  setelah 3 tahun berturut – turut 365 hari kemudian diikuti dengan setahun 366 hari. Sistem kalendar diberi nama sistem kalendar Julian dan kalendar Matahari Julian ini berlangsung hingga tahun 1582 M. Kalendar Julian telah berlangsung  lama tanpa ada koreksi presesi sumbu rotasi Bumi, keberadaan Matahari ke arah titik Vernal Equinox  (titik Aries) menjadi 10 hari lebih cepat dari yang seharusnya pada tanggal 21 Maret. Setahun tropis didefenisikan Matahari  kali melewati titik Aries dua berurutan, jadi kalau selalu dimulai dengan tanggal 21 Maret maka berikutnya Matahari akan mencapai titik Aries kurang dari 365.25 hari. Oleh karena itu perlu reformasi Kalendar Matahari.  Paus Gregorius XIII (Pope Gregory XIII, periode 1572 – 1585) mereformasi kalendar tersebut yang dideklarasikan pada tanggal 24 Februari 1582. Reformasi ini tidak dilaksanakan serempak, negara – negara di dunia terpecah dalam penggunaan kalendar Masehi, di Inggeris dan koloni Inggeris reformasi dilaksanakan tahun 1752, di Eropa Timur reformasi baru selesai pada abad 20. Jadi proses penyatuan kalendar berlangsung sekitar 4 abad. Kini sebagian masyarakat dunia berpendapat bahwa kalendar Gregorian sebagai kalendar universal.  “Ketidak sempurnaan” Kalendar Masehi dalam penetapan awal tahun, bukan tahun kelahiran Isa Al-Masih, dan tanggal  25 Desember juga “bukan tanggal kelahiran Isa al Masih yang sebenarnya” memberikan sebutan sebagai Common Era (CE) untuk sebutan tahun Masehi (M) atau dulu disebut dengan (huruf capital kecil) AD = anno Domini (bahasa latin) dan tahun “sebelum masehi (SM)”  (BC = before Christ) dinamakan BCE (Before Common Era). Di Indonesia sejak kemerdekaan sudah mengadopsi/menggunakan kalendar Gregorian sebagai kalendar negara. Walaupun kalendar masehi tidak sempurna, namun kalendar matahari tersebut didukung pula dengan sistem waktu jam Matahari, kini dapat dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan praktis manusia misalnya komunikasi (jadual penerbangan internasional, pemesanan hotel dsb) dan keperluan transaksi maupun perjanjian (sistem ATM, HP, Internet, mesin otomatis lainnya) secara luas di seluruh dunia.

 

  • Aturan Kalendar Julian, tahun kabisat (tahun panjang) terdiri dari 366 hari dan tahun basit (tahun pendek) terdiri  365 hari. Tahun kabisat adalah tahun yang habis dibagi 4, selain itu adalah tahun basit. Oleh karena itu rata – rata setahun Kalendar Julian = (3 x 365 + 1 x 366) / 4 = 365.25 hari.
  • Sedang setahun tropis (pengamatan) 365.2422 hari. Oleh karena itu (365.25 – 365.2422) hari = 0.0078 hari atau  Matahari akan lebih cepat 78 hari  berada pada arah titik Aries setelah 10000 tahun kemudian, atau sekitar 8 hari dalam 1000 tahun.
  • Aturan dalam Kalendar Gregorian Tahun kabisat adalah tahun yang habis dibagi 4, kecuali tahun yang habis dibagi 100 tetapi tidak habis dibagi 400 adalah tahun basit.  Jadi  setahun rata – rata  (303 x 365 + 97 x 366 ) / 400 = 365.2425 hari.

 

Pemahaman manusia yang belum sempurna tentang presesi sumbu Bumi, Paus Gregorius mereformasi kalendar matahari yang digagas oleh Julius Caesar (45 SM) sehingga jumlah hari pada bulan Oktober 1582 H dihapus 10 hari, hari Kamis tanggal 4 Oktober 1582 keesokannya hari Jum’at tanggal 15 Oktober 1582, urutan hari tetap tak berubah, urutan tanggal mengalami perubahan.  Reformasi itu mengembalikan kedudukan Matahari ke arah titik Aries atau vernal equinox pada tanggal 21 Maret dan memperbaiki ketelitian dari kedudukan Matahari mencapai titik Aries lebih cepat 78 hari per 10000 tahun menjadi lebih cepat 3 hari per 10000 tahun. Bagi yang mereformasi pada abad 20 tentunya perlu menghapus 13 hari, bukan 10 hari. Walaupun kalendar masehi telah dipergunakan secara luas di seluruh dunia namun tidak bisa mematikan kalendar – kalendar lain yang ada karena salah satu fungsinya adalah ada aspek jadual ritual, jadual ibadah atau astrologi yang melekat pada sistem kalendar.

 

Siklus Matahari dari arah Vernal equinox kembali arah Vernal Equinox = satu tahun tropis (tropical year) = 365.24220 hari. Tropis berasal dari bahasa latin tropic berarti to turn, atau berubah/berbelok. Titik Aries merupakan salah satu titik potong ekuator langit dan ekliptika, matahari melewati titik tersebut dari belahan langit selatan ke belahan langit utara. Karena presesi maka titik Aries bergeser 50″.3 ke arah barat. Hal ini sangat diperlukan untuk koreksi posisi Matahari dalam jangka panjang. Kedudukan pergeseran titik Aries dalam jangka panjang dapat dilihat dalam Tabel di bawah ini:

 

Tabel 9: Lokasi Titik Aries pada masa yang panjang

 

Rasi lokasi titik Aries

Mulai

Berakhir

Aries

2000 BC

100 BC

Taurus

4500 BC

2000 BC

Gemini

6600 BC

4500 BC

Cancer

8100 BC

6600 BC

Leo

10800 BC

8100 BC

Virgo

12000 AD

15300 AD

Libra

10300 AD

12000 AD

Scorpius

8600 AD

10300 AD

Sagittarius

6300 AD

8600 AD

Capricornus

4400 AD

6300 AD

Aquarius

2700 AD

4400 AD

Pisces

100 BC

2700 AD

 

Tabel 10: Struktur dan Nama Bulan dalam kalendar Syamsiah Gregorian di Indonesia

 

Nama Bulan

Jumlah Hari tiap Bulan Tahun  Basit

Jumlah Hari tiap Bulan Tahun Kabisat

Januari

31

31

Februari

28

29

Maret

31

31

April

30

30

Mei

31

31

Juni

30

30

Juli

31

31

Agustus

31

31

September

30

30

Oktober

31

31

November

30

30

Desember

31

31

Total

365

366

 

 

 

 


 

 

Kalendar Hijriah

 

Penggunaan sistem waktu (penanggalan) tak lepas dari bagian kehidupan manusia untuk menyusun berbagai rencana-rencana hidupnya. Masyarakat yang lebih luas hingga mencakup sebuah negara mutlak memerlukan suatu sistem pengaturan waktu yang baku sebagai acuan dalam menyusun berbagai kebijakan yang harus ditetapkan. Oleh karenanya tidak khayal jika pengetahuan tentang penanggalan (kalender) merupakan hal dasar yang harus diketahui oleh manusia.

 

Uraian tentang sistem kalendar Masehi yang dipergunakan sehari – hari mengandung sesuatu yang kurang sempurna, jumlah hari dalam tiap bulan mempunyai rentang 28 hingga 31 hari dan memerlukan aturan yang lebih kompleks dalam penentuan tahun kabisat pada masa yang amat panjang. Kalendar – kalendar Luni-Solar yang juga mengacu pada kalendar syamsiah Gregorian itu perlu mengikuti perkembangan perubahan yang terjadi pada aturan baru yang mungkin akan lahir dikemudian hari.

 

Kalendar Arab pra Islam kemungkinan juga menggunakan sistem Luni-Solar. Model kalendar tidak diketahui dengan pasti. Hal ini berkaitan dengan nama – nama bulan Islam yang berkaitan dengan musim, sedang musim merupakan bagian dari sistem kalendar Syamsiah/Matahari. Menilik dari nama – nama bulan tersebut yang sebagian berasosiasi dengan musim dan kegiatan spiritual, kemungkinan kalendar tersebut berkaitan dengan kalendar syamsiah atau kalendar luni – solar yang dipergunakan pada zaman pra-Islam. Misalnya Ramadhan (bulan yang sangat panas) apakah Ramadhan berkaitan dengan posisi Matahari pada bulan Agustus, September? Menurut Tantawi al-Jauhari dalam Azhari (2007) nama – nama bulan Islam yang sekarang diadopsi berasal dari zaman Kilab bin Murrah salah satu kakek Nabi Muhammad saw. Nama-nama bulan Islam itu adalah :

(1) Muharram (bulan yang disucikan), (2) Safar (bulan yang dikosongkan), (3) Rabi’ul awal (musim semi pertama), (4) Rabi’ul akhir (musim semi kedua), (5) Jumadal Ula (musim kering pertama), (6) Jumadal Akhirah (musim kering kedua), (7) Rajab (bulan pujian), (8) Sya’ban (bulan pembagian), (9) Ramadhan (bulan yang sangat panas), (10) Syawal (bulan untuk berburu), (11) Dzulkaedah (bulan istirahat) dan (12) Dzulhijjah (bulan ziarah).

 

Praktek operasional sistem penanggalan Islam telah ada sejak zaman Nabi, turunnya wahyu yang dipergunakan sebagai rujukan sistem kalendar ISLAM cukup menjadi bukti bahwa penataan kehidupan di zaman Nabi telah mempergunakan sistem kalendar Islam. Deklarasi yang dikenal adalah deklarasi tentang konsep Hisab Urfi sebagai kalendar Islam pada zaman kekhalifahan Umar bin Khatab. Nama nama Bulan Islam pun mencari nama yang telah dikenal dalam masyarakat pada waktu itu. Deklarasi penanggalan Islam tidak lepas dari penggunaan penanggalan sebagai penentuan jadual ritual umat Islam, Ramadlan, Syawal dan Dzulhijjah oleh umat Islam, kemungkinan jadual lengkap umat Islam itu sudah dapat dilaksanakan pada waktu Hijriah Nabi dari Mekah ke Medinah. Awal tahun Islam merujuk pada peristiwa hijriah yang disepakati sebagai tonggak sejarah tegaknya ajaran Islam.

 

Dalam sistem penanggalan Islam setahun merupakan siklus 12 bulan Islam, (QS at Taubah 9:36 yang menjadi rujukan). Dengan turunnya ayat ini tidak ada lagi bulan sisipan, atau pengunduran bulan Muharram (karena ada sisipan bulan pada sistem Luni-Solar, terutama bila dalam setahun terdapat 13 ijtimak/konjungsi, setiap 19 tahun terdapat 12 tahun dengan 12 konjungsi dan 7 tahun dengan 13 konjungsi).

 

Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram (Rajab, Zulqaiddah, Dzulhijjah dan Muharram). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang takwa. [QS at Taubah 9:36]

 

Sebulan  kalendar Islam merupakan siklus sinodik Bulan, dari visibilitas hilal ke visibilitas hilal yang berikutnya.  Awal bulan Islam dengan visibilitas hilal itu merupakan bagian tradisi umat Islam. Awal penanggal Islam 16 Juli 622 M, hal ini merujuk bahwa ijtimak bertepatan dengan tanggal 14 Juli 622 jam, untuk posisi di Mekah maupun di Medinah secara teoritis hilal baru bisa diamati pada 15 Juli 622. Secara Tradisi itu mempunyai landasan QS 2: 189 dan Hadist Nabi tentang pengamatan hilal. Tradisi yang ada sejak zaman Nabi itu yang menjadikan asal muasal implementasi “visibilitas hilal” menjadi rujukan untuk penentuan awal Bulan Islam. Apapun alasannya kriteria visibilitas hilal yang perlu dicari, dipelajari dan dikembangkan.

 

 

Kalendar/Penanggalan  Islam juga dinamakan dan dikenal sebagai kalendar atau penanggalan Hijriah dan merupakan kalendar Bulan atau Qamariah, kalendar yang menggunakan siklus fasa Bulan sebagai dasar perhitungannya. AWAL TAHUN ISLAM (tahun 1 Hijriah) disepakati pada tahun berlangsungnya fenomena Hijriah nabi Muhammad saw bersama pengikutnya dari Mekah ke Yatsrib, (kemudian diberi nama/diganti nama Madinat an Nabi (kota Nabi) atau Madinah), fenomena Hijrah itu merupakan pembentukan masyarakat dan negara Islam pertama oleh Nabi Muhammad saw dan disepakati sebagai tanda tegaknya ajaran Islam. Tanggal 1 Muharram 1 H bertepatan dengan hari Kamis, tanggal 15 atau Jum’at, 16 Juli 622 (JD 1948440.0).

 

Secara lebih detail awal bulan Islam di tentukan dengan adanya hilal atau visibilitas hilal. Penggunaan hilal dalam penentuan waktu ibadah Hajji dan perhitungan waktu ditegaskan dalam QS Al Baqarah ayat 189 : Yas aluunaka’anil ahilah(ti), qul hiya mawaaqiitu linnaasi wal hajj(i) … Diterjemahkan: Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit (hilal). Katakanlah: Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (ibadah hajji) ………

Landasan operasional tentang hilal adalah Hadist Nabi: Shuumuu liru’yatihi wa afthiruu liru’yatihi wa in ghumma‚ alayikum faa’kmiluu‚ iddata sya’baana tsalatsiina  [Berpuasalah karena melihat Hilal (awal Ramadhan) dan berbukalah (berlebaran, ber Idul Fitri) bila kamu melihat Hilal (awal Syawal). Bila Hilal (awal Ramadhan) tertutup awan sempurnakanlah jumlah hari dalam bulan Sya’ban menjadi 30 (tiga puluh) hari]. Hadist riwayat Muslim.

 

Hilal menjadi kata kunci untuk penetapan awal Bulan Islam dan aturan penetapan awal Ramadhan atau awal bulan Syawal terdiri 29 hari atau 30 hari. Tidak hanya sebatas pada kedua Bulan dalam kalendar Islam tapi juga untuk semua Bulan dalam kalendar Islam.

 

  • Pernyataan Hadist itu bisa juga diinterpretasikan sebagai bagian hisab yaitu kontrol arah perhitungan jumlah hari dalam satu bulan Islam dan juga sebagai bagian rukyat agar hasil rukyat yang dipergunakan dalam penetapan awal Bulan telah diverifikasi terlebih dahulu.
  • Hasil rukyat yang dipergunakan tidak bisa sembarang, perlu ada kontrol dan profesionalisme. Dalam sains hilal diketahui ada batasan untuk penentuan kapan rukyat dilakukan? Segera setelah ijtimak, kalau rukyatul hilal dilakukan beberapa hari setelah ijtimak apakah masih dikatakan rukyatul hilal?
  • Penentuan waktu ijtimak perlu dilakukan dengan hisab yang presisi. Setiap tahun ada dua atau tiga musim gerhana yang perlu menjadi perhatian, terutama jadual berlangsungnya gerhana Matahari dalam penetapan waktu ijtimak.

 

Jadi satu bulan Islam dari visibilitas hilal ke visibilitas hilal berikutnya, sebulan paling pendek  terdiri 29 hari dan terpanjang 30 hari. Setahun terdiri dari 12 bulan terpendek terdiri 354 hari dan terpanjang 355 hari.

 

Berdasarkan ayat al Qur’an dan al Hadist sudah sangat jelas bagi umat Islam di seluruh dunia bahwa awal bulan Islam (awal Ramadhan, awal Syawal dan awal Dzulhijjah) ditetapkan berdasarkan hilal.

 

 

Hisab Urfi

 

Atas prakarsa Khalifah Umar r.a pada tahun 639 M dibangun kalendar Islam pertama dengan menggunakan acuan periode sinodis Bulan rata – rata sebagai sistem penanggalan Hijriah berdasar tabulasi Hisab Urfi. Pada awal sistem kalendar Hijriah pendekatan yang dilakukan dengan tabulasi, tentunya setiap tahun akan menghadapi 12 masalah sinkron atau tidaknya di setiap awal bulan apabila akan dibandingkan dengan rukyat awal Bulan Islam. Sedang dalam kalendar Syamsiah hanya satu masalah sinkronisasi selang waktu satu tahun, walaupun dalam pembagian tahun ke dalam 12 bulan bisa terjadi penyimpangan sistematik. Sedang dalam kalendar qamariah akan berhadapan dengan ujian simpangan yang mungkin terjadi pada setiap awal bulan 12 bulan, karena yang diuji adalah siklus bulanannya terhadap visibilitas hilal. Sehingga orang cenderung untuk tidak melakukan pengujian tersebut secara terus menerus, tetapi memasang aturan yang berbeda. Namun aturan – aturan itu mungkin bisa meminimalkan tetapi tidak bisa menghapusnya, sehingga keunikan kalendar hisab Urfi juga tidak bisa dipertahankan tanpa ada kesepakatan.

 

Penetapan Awal Tahun Hijriah

 

Hari dan tanggal awal tahun Hijriah ditetapkan pada zaman khalifah Umar bin Khatab ra setelah 17 thn kaum Muslimin hijrah bersama Rasullulah ke Madinah zaman kedaulatan Khalifah Umar (637 M). Acuan penanggalan pada umumnya menggunakan siklus benda-benda langit seperti Matahari atau Bulan. Sedangkan permulaan dari penanggalan yang digunakan merupakan hasil kesepakatan bersama, seperti kalender Gregorian yang diawali dari kelahiran Isa Al-Masih, dan kalender Hijriah yang digunakan umat Islam diawali dari peristiwa hijrahnya nabi Muhammad SAW  dari Mekah ke Madinah. Mengapa peristiwa ini dipilih sebagai permulaan kalender Hijriah?

 

Pengorbanan terbesar yang dilakukan oleh umat Islam adalah peristiwa hijrah dari Makkah ke Madinah pada 16 Juli 622 Masehi (1 Muharram 1 Hijriah). Hijrah tidak sekedar pindah dari satu tempat ke tempat yang lainnya, namun diharuskan pula meninggalkan semua sahabat, kerabat, dan harta benda yang dimiliki demi tegaknya agama Islam di bumi Allah.

 

Pemilihan siklus bulan sebagai acuan penanggalan Islam tidak lain karena telah diperintahkan di Al-Qur’an. Alasan yang lebih mudah untuk diterima oleh berbagai kalangan (tidak dapat membaca Al-Qur’an atau belum mengkaji Al-Qur’an) adalah karena siklus dan perubahan harian kenampakan Bulan adalah fenomena alam yang dapat diamati dengan mata telanjang, dalam kondisi atmoster yang memenuhi sarat penampakan hilal. Oleh karena itu kalender Bulan telah digunakan beratus-ratus tahun sebelum masehi baik oleh bangsa Babilonia maupun oleh bangsa Cina (Ilyas 1984).

 

Secara sederhana, perubahan kenampakan Bulan (fase Bulan) terjadi karena perubahan posisi Bumi, Bulan, dan Matahari. Setengah dari permukaan Bulan yang terkena cahaya Matahari akan selalu gelap, sedangkan setengah bagian lainnya, yang tampak dari Bumi, akan bervariasi dari bulan penuh hingga bulan baru. Selang waktu yang diperlukan dari salah satu fase bulan untuk kembali ke fase yang sama disebut sebagai periode sinodis. Misal dari bulan-baru ke bulan-baru berikutnya atau purnama kembali ke purnama selanjutnya adalah satu periode sinodis. Periode sinodis terpendek adalah 29.2679 hari dan periode sinodis terpanjang adalah 29.8376 hari. Periode sinodis rata-rata adalah 29.530589 hari. Variasi periode sinodis ini disebabkan karena posisi Bulan yang miring 5? dari garis edar Matahari.

 

Sistem Hisab Urfi berdasarkan siklus rata-rata sinodis bulan (29.53059 hari), selang waktu bulan pada fase yang sama, misalnya dari fase konjungsi atau ijtimak ke fase konjungsi atau ijtimak berikutnya. Siklus ini mirip dengan siklus rata-rata dua penampakan hilal. Dalam sistem hisab Urfi jumlah hari dalam satu bulan Islam, ditetapkan bergantian 30 hari dan 29 hari. Jumlah hari dalam bulan Ramadhan selalu 30 sedang bulan Dzulhijjah bisa 29 atau 30 hari bergantung pada tahun kabisat atau basit. Secara keseluruhan bulan Muharram terdiri dari 30 hari, Safar 29 hari, Rabi’ul awal 30 hari, Rabi’ul akhir 29 hari, Jumadil awal 30 hari, Jumadil akhir 29 hari, Rajab 30 hari, Sya’ban 29 hari, Ramadhan 30 hari, Syawal 29 hari, Zulkaedah 30 hari dan Zulhijjah 29 (untuk tahun basit) atau 30 (untuk tahun kabisat) hari. Tahun kabisat ditetapkan untuk tahun yang bila dibagi 30 bersisa 2, 5, 7, 10, 13, 16 (atau 15), 18, 21, 24, 26 atau 29 (dalam 30 tahun terdapat 11 tahun kabisat (355 hari) dan 19 tahun basit (354 hari)); awal penanggalan bersesuaian dengan 16 Juli 622, ada yang menetapkan 15 Juli 622. Jumlah hari dalam sebulan bisa terdiri dari 29 hari atau 30 hari dan setahun bisa terdiri 355 hari atau 354 hari. Ada 4 model hisab Urfi, perbedaannya terletak pada penetapan tahun kabisat pada daur 30 tahun. Semua model memnuhi komposisi jumlah tahun kabisat dan tahun basit adalah 11 tahun kabisat dan 19 tahun basit.

 

 

 

 

Tabel 11: Beberapa Model Hisab Urfi

 

Model Tahun Kabisat Daur 30 tahun

Model 1

Model 2

Model 3

Model 4

1

2

2

2

2

2

3

4

5

5

5

5

5

6

7

7

7

8

8

8

9

10

10

10

10

11

11

12

13

13

13

13

13

14

15

15

16

16

16

16

17

18

18

18

19

19

19

20

21

21

21

21

21

22

23

24

24

24

24

24

25

26

26

26

27

27

27

28

29

29

29

29

30

30

 

 

 

 

 

 

 

Hisab Hakiki

 

Pendekatan hisab hakiki sebenarnya menghapus semua penyimpangan yang ada. Tetapi tetap pada akhirnya akan dihadapkan pada pilihan – pilihan kriteria yang berujung pada ketidak unikan dan memerlukan kesepakatan.

 

Sebagai contoh perbandingan awal bulan Hijriah antara Hisab Urfi dan Hisab Hakiki dapat dilihat pada table berikut:

 

Tabel 12: Contoh Perbedaan Awal Bulan Islam antara Hisab Urfi dan Hisab Hakiki

 

Awal Bulan Islam Urfi vs Hakiki (Taqwim Standard)

Jumlah hari perbulan

Beda H – U

Urfi

Hakiki

Bln

Thn M

Bulan Islam

Thn H

Jmh -Hakiki

Jmh -Urfi

1

24

25

Jan

2012

Rabi’ul Awal

1433

29

30

0

23

23

Feb

2012

Rabi’ul Akhir

1433

30

29

1

23

24

Mar

2012

Jumadal Ula

1433

30

30

1

22

23

Apr

2012

Jumadal Akhirah

1433

29

29

1

21

22

Mei

2012

Rajab

1433

30

30

1

20

21

Jun

2012

Sya’ban

1433

30

29

2

19

21

Jul

2012

Ramadhan

1433

29

30

1

18

19

Ags

2012

Syawal

1433

29

29

2

16

18

Sep

2012

Dzulkaedah

1433

30

30

1

16

17

Okt

2012

Dzulhijjah

1433

29

29

1

14

15

Nov

2012

Muharram

1434

30

30

1

14

15

Des

2012

Safar

1434

29

29

1

12

13

Jan

2013

Rabi’ul Awal

1434

30

30

1

11

12

Feb

2013

Rabi’ul Akhir

1434

29

29

1

12

13

Mar

2013

Jumadal Ula

1434

30

30

1

11

12

Apr

2013

Jumadal Akhirah

1434

29

29

1

10

11

Mei

2013

Rajab

1434

30

30

1

9

10

Jun

2013

Sya’ban

1434

30

29

2

8

10

Jul

2013

Ramadhan

1434

29

30

1

7

8

Ags

2013

Syawal

1434

30

29

2

5

7

Sep

2013

Dzulkaedah

1434

29

30

1

5

6

Okt

2013

Dzulhijjah

1434

30

30

1

4

5

Nov

2013

Muharram

1435

29

30

0

4

4

Des

2013

Safar

1435

30

29

 

 

 

 

 

 

Seputar Penyatuan Kalendar/Penanggalan  Hijriah/Islam

 

Syariah dan sains hilal, diperlukan untuk menjadi pilar kesepakatan dalam penyatuan kalendar Islam/Hijriah, dalam pandangan astronomi hal itu sangat dimungkinkan, karena gagasan awal komponen penyusun struktur kalendar Islam telah mapan.  Awal tahun Hijriah telah disepakati yaitu pada waktu tahun Hijriah Rasullullah yaitu 15 atau 16 Juli tahun 622 M.  Jumlah bulan dalam setahun telah disepakati yaitu setahun 12 bulan, jumlah hari dalam sebulan dalam kalendar Islam antara 29 atau 30 hari telah disepakati dan tidak ada masalah atau kontradiksi dengan ilmu pengetahuan astronomi.

 

Umat Islam menggunakan hilal sebagai acuan untuk menentukan awal bulan Islam. Awal bulan Islam ditandai dengan keberhasilan melihat hilal. Bila kini umat Islam telah berada pada tanggal 2 Muharram tahun 1431 H,  berarti telah ada 17161 kali hilal pernah ada di langit sejak awal penanggalan Hijriah. Namun belum banyak umat Islam yang pernah menyaksikan sosok hilal dengan mata kepala sendiri. Secara umum telah disepakati bahwa keberadaan hilal mempunyai waktu setelah ijtimak, dan hilal bisa diamati setelah Matahari terbenam.

 

Pengamatan sistematis di beberapa tempat yang tersebar luas di bola Bumi sangat diperlukan untuk membangun sains dan pengetahuan tentang hilal.  Dalam pandangan astronomi, hilal merupakan bagian dari proses pembentukan dan perubahan sabit Bulan yang kontinu dalam fenomena fasa Bulan. Fenomena terbentuknya sabit Bulan itu sangat berkaitan erat dengan geometri kedudukan Bumi, Bulan dan Matahari. Orbit Bulan mengelilingi Bumi berbentuk ellips, bidang orbitnya juga beregresi dan berotasi, cukup  kompleks. Kompleksitas orbit Bulan mengelilingi Bumi itu akibat berbagai gangguan benda lain dalam tatasurya misalnya Matahari, gaya tarik gravitasi mengganggu Bulan. Kompleksitas ini yang menyebabkan diskripsi posisi Bulan yang presisi melalui perhitungan tidak mudah dilakukan dimasa silam. Berbagai cara dan model perhitungan telah berkembang dan dikembangkan sejak zaman keemasan Islam hingga sekarang.

 

Fenomena visibilitas hilal secara alamiah merupakan sabit Bulan yang dihasilkan oleh geometri atau kedudukan Bumi, Bulan dan Matahari. Kombinasinya cukup banyak tidak sederhana dan oleh karena itu sebenarnya kriteria visibilitas hilal tidak sederhana, misalnya tinggi bulan di atas 2 derajat dsb. Hingga saat ini masih terdapat perbedaan dalam penetapan awal bulan Islam oleh ormas Islam di Indonesia.

 

Kesepakatan bahwa pada hari menurut penanggalan Islam (dari maghrib ke maghrib berikutnya) terjadi ijtimak dan tinggi Bulan pada saat Matahari terbenam atau pergantian hari itu mempunyai tinggi  > 2 derajat sudah dianggap ada hilal di Indonesia merupakan kriteria kesepakatan yang mengorbankan realitas hilal bila dipandang dari ilmu astronomi. Sabit bulan yang terbentuk masih sangat tipis dan masih sangat lemah cahayanya dibanding dengan cahaya senja sehingga mustahil bisa menyaksikan hilal dengan mata bugil, menerima hasil rukyat pada ketinggian bulan yang belum memenuhi ukuran sebuah hilal berarti menerima kekeliruan pengamatan realitas hilal. Penyederhanaan kriteria hilal semacam itu berarti membuat kriteria hilal yang berlainan dengan hilal yang dimaksud dengan hilal yang diperoleh dengan cara rukyatul hilal di zaman Rasullulah.

 

Hasil rukyatul hilal yang melaporkan melihat hilal padahal langit mendung atau hujan juga berarti membuat kriteria hilal yang berlainan dengan hilal yang dimaksud dengan hilal yang diperoleh dengan cara rukyatul hilal di zaman Rasullulah. Awan dan debu sebagai penghalang dalam visibilitas hilal adalah realitas angkasa Bumi yang telah ditegaskan dalam hadist.

 

Sebaiknya penyatuan kalendar Islam dilakukan melalui pemahaman tentang fisik hilal dan sains tentang fisik hilal. Pemikiran penyatuan kalendar Islam adalah mencari kriteria visibilitas hilal dengan menggunakan pengetahuan tentang hilal yang lebih presisi (berdasar pengalaman rukyat dan hisab) dan menggunakan/mengamalkan pengetahuan tentang hilal itu sebagai kriteria yang disepakati dalam pengamalan al Qur’an dan al Hadist, hilal sebagai penentu awal dan akhir bulan Islam. Kriteria tentang hilal yang lebih presisi itu merupakan sebuah sinergi antara pengamalan ayat al Qur’an, al Hadist dan ilmu pengetahuan atau sains tentang fisik Hilal.

 

Masyarakat Islam di seluruh dunia telah terbiasa hidup dalam berbagai sitem kalendar Bulan dan Matahari, atau Luni-Solar yang sebagian juga mempergunakan fasa Bulan atau ijtimak sebagai acuan pergantian bulan, oleh karena itu penting adanya program sosialisasi secara lisan maupun tulisan melalui pelatihan atau bagian dari kurikulum di sekolah umum/madarasah. Pengetahuan tentang kalendar Hijriah dalam berbagai aspek sains maupun historis dan implikasinya bagi umat Islam tersebut akan menjadi pilar tradisi masyarakat luas dalam menerima konsekuensi sistem kalendar Hijriah yang mengatur sebagian ritme aktivitas kehidupannya.

 

 

BEBERAPA ALASAN PENYATUAN KALENDAR ISLAM

 

Penyatuan Kalendar Islam merupakan sebuah kebutuhan untuk agenda dan aktivitas rutin ibadah maupun transaksi lainnya. Aktivitas ibadah shaum Ramadhan, shaum sunnah pertengahan bulan Islam, perhitungan zakat memerlukan kepastian jadual dan kepastian awal Bulan Islam. Fokus pada penentuan awal bulan Islam? Apakah bisa dicapai? Berapa lama bisa dicapai?

 

Ada semangat dan keinginan masyarakat Islam untuk mempunyai kalendar Islam yang unik dalam lingkup nasional, regional maupun global. Ada contoh di zaman Rasullulah (dan zaman sahabat, hisab Urfi di zaman Umar bin Khattab misalnya) umat Islam bisa bersatu dan tertib dalam penentuan jadual ibadah shaum Ramadhan maupun Haji. Namun pada saat itu masih terbatas pada kawasan yang relatif kecil belum mendunia?

 

Banyak hal yang diperlukan dalam sebuah struktur penanggalan Islam telah menjadi kesepakatan umat Islam di seluruh dunia. Antara lain  (a) setahun terdiri dari 12 bulan Islam,  (b) tiap bulan Islam bisa terdiri paling sedikit 29 hari atau paling banyak 30 hari (c) awal Bulan Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah secara eksplisit ditentukan dengan adanya hilal, hal ini dapat dipergunakan sebagai dasar menggunakan aturan yang sama bagi penetapan semua awal bulan Islam lainnya mengingat dalam tiap Bulan Islam terdapat jadual ibadah (sunnah) yang waktunya bergantung pada penetapan awal Bulan, (d) tradisi merukyat hilal oleh umat Islam sejak zaman Rasullullah hingga sekarang di suatu tempat pada permukaan Bumi (di bukit, di menara masjid atau di tepi pantai) menunjukkan bahwa hilal yang dimaksud adalah sabit Bulan yang paling tipis dan masih bisa di amati atau dikenali melalui mata bugil manusia, (e) awal tahun Islam telah ditetapkan pada tahun peristiwa sejarah Islam, Hijriah Rasullullah dari Mekah ke Medinah.

 

Tradisi merukyat hilal menunjukkan bahwa hilal yang dimaksud dalam teks Hadist maupun Qur’an adalah Hilal yang merupakan bagian dari fenomena fasa bulan, hilal yang dapat disaksikan oleh mata. Pernyataan adanya awan dan debu penghalang yang bisa menghapus penglihatan adanya hilal menunjukkan bahwa fisik hilal yang diamati memang sabit bulan yang tipis diamati dari permukaan Bumi yang mempunyai lapisan angkasa.

 

Terdapat batas tempat yang memungkinkan melihat hilal dan tempat yang tidak memungkinkan melihat hilal. Batas itu merupakan garis batas tanggal, visibilitas hilal merupakan acuan untuk menentukan awal bulan Hijriah.

 

Perhitungan yang akurat bisa mendiskripsikan posisi Bulan dan Matahari setiap saat dengan baik, sesuai dengan prediksi perhitungan. Perhitungan yang akurat itu telah menjadi pengetahuan manusia dewasa ini.  Bahkan telah banyak software yang dibuat dan memudahkan untuk telaah atau studi dalam jangka panjang melalui bantuan komputer. Begitupula pembandingan hasil perhitungan di Indonesia dapat dilakukan dengan masyarakat Islam di belahan Bumi lainnya melalui internet.

 

 

KALENDAR ISLAM: KALENDAR PERSATUAN UMAT

 

Awal bulan dalam Kalender Hijriah ditentukan dari kenampakan sabit bulan beberapa saat setelah konjungsi (ijtima’). Sabit jenis ini biasa disebut sebagai hilal. Konjungsi terjadi saat Matahari dan Bulan berada pada bujur yang sama di bidang ekliptika.

 

Panjang bulan dalam Kalender Hijriah ditentukan oleh kenampakan hilal hingga kenampakan hilal berikutnya. Pergantian hari dalam Kalender Hijriah dimulai waktu maghrib atau beberapa saat setelah Matahari tenggelam.

 

Pengamatan hilal sangat gencar dilakukan terutama untuk menentukan hari-hari besar bagi umat Islam seluruh dunia. Hari-hari besar tersebut seperti awal bulan Ramadhan yang menunjukkan dimulainya hari berpuasa bagi umat Islam, akhir bulan Ramadhan (awal bulan Syawal) yang menunjukkan berakhirnya hari berpuasa sekaligus menentukan hari besar Idul Fitri, dan awal bulan Dzulhijah sebagai penentu waktu wuquf di Arafah dan Hari Raya Idul Adha. Apabila hilal tidak tampak saat dilakukan pengamatan maka pergantian bulan pada Kalender Hijriyah dilakukan dua hari berikutnya artinya panjang bulan digenapkan menjadi tiga puluh hari.

 

Pengamatan hilal bukan pekerjaan yang mudah. Pengamatan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti faktor waktu, tempat, dan kecerlangan langit senja, dengan mengasumsikan kondisi langit yang cerah tidak berawan. Faktor waktu menyangkut terbenamnya Matahari dan hilal, serta usia hilal yaitu selang waktu penampakan hilal setelah konjungsi. Sedangkan faktor tempat menyangkut posisi geografis pengamat di permukaan Bumi.

 

Faktor lain yang cukup berpengaruh terhadap keberhasilan pengamatan hilal adalah pengalaman, ketajaman penglihatan, dan pengetahuan astronomis pengamat. Semua itu akan berakumulasi dalam pengamatan yang dilakukan. Seorang pengamat yang telah berpengalaman dan memiliki ketajaman penglihatan yang baik akan lebih mudah dalam mengamati sebuah obyek daripada yang lainnya.

 

Pengetahuan astronomis pengamat akan mempengaruhi kebenaran obyek yang diamati. Ada beberapa kasus yang menceritakan keberhasilan seseorang dalam mengamati hilal yang bertentangan dengan perhitungan astronomi karena kesalahan obyek yang diamati. Hal ini mungkin terjadi karena kemiripan antara sabit planet Venus dengan sabit bulan. Namun jika pengetahuan posisi benda langit telah dipahami sebelumnya maka kesalahan di atas tidak akan terjadi.

 

Sulitnya pengamatan hilal juga ditentukan oleh usia Bulan. Semakin muda usia hilal akan semakin dekat posisinya dengan Matahari. Beda azimuth antara keduanya masih sangat kecil menyebabkan jarak sudut antara Matahari dan Bulan juga sangat kecil. Hal ini berarti Bulan akan tenggelam beberapa saat setelah Matahari tenggelam. Pengamat hanya memiliki waktu yang singkat untuk dapat melihat hilal.

 

Selain itu cahaya hilal juga sangat lemah bila dibandingkan dengan cahaya Matahari dan kecerlangan langit senja. Sehingga diperlukan kondisi langit yang cukup gelap untuk dapat mengamati hilal. Artinya diperlukan kontras yang mencukupi agar hilal dapat teramati.

 

Terlepas dari keterbatasan-keterbatasan dalam mengamati hilal, kalender Hijriah hendaknya dapat digunakan sebagai penyatu umat Islam. Perbedaan penyelenggaraan hari besar keagamaan merupakan misfungsi dari kalender Hijriah. Mengapa hal ini terjadi? Perbedaan pemahaman tentang hilal, persepsi atas dasar hukum dan dalil-dalil yang digunakan terus menerus menghambat terbentuknya suatu penanggalan Islam yang baku. Memang perlu waktu yang tidak singkat untuk meciptakan suatu kalender yang dapat digunakan oleh seluruh umat di dunia. Setidaknya waktu singkat yang saat ini kita miliki dimanfaatkan untuk mempelajari sains hilal demi kepentingan umat Islam. Karena penyempurnaan sistem kalender tidak akan pernah selesai hanya dengan satu atau dua orang saja.

 

Revolusi Bumi mengelilingi Matahari tak berhenti, rotasi planit Bumi tak berhenti,  revolusi Bulan mengelilingi Bumi tak berhenti, gerak benda langit tersebut ibarat sebuah jarum jam penanggalan. Manusia penumpang planit Bumi menikmati gerakan rutin tersebut, manusia memahami, mengkuantisasikan dan memanfaatkannya. Sebagian manusia memanfaatkan gerakan rutin benda langit itu sebagai sistem penanggalan Matahari, penanggalan Bulan atau campuran Bulan dan Matahari.

 

Kalendar Hijriah yang mendasarkan fenomena alam semesta, di dalamnya terkandung fenomena social dan kebangkitan spiritualitas manusia. Islam menjadi obor pencerahan dalam menata kehidupan manusia, menata hubungan antara sesama manusia, manusia dengan Tuhannya dan manusia dengan alam. Perjalanan sejarah kehidupan umat manusia melalui abad kegelapan, kemudian  Islam lahir sebagai sebuah obor pencerahan, fenomena sejarah 7 abad abad 7 ke abad 14 merupakan sebuah fenomena universal kehidupan mahluk cerdas.

 

 

 

 

HISAB – RUKYAT

 

Kebijakan Pemerintah melalui pendekatan mendudukkan Hisab dan Rukyat dalam satu badan BHR (Badan Hisab Rukyat) Nasional [atau BHR Provinsi dan Daerah] memungkinkan dialog Hisab dan Rukyat bisa terus berlangsung untuk mencari solusi dalam penyatuan kalendar Islam. Begitu pula kegiatan Musyawarah Kerja (MUKER) yang mengakomodasi hasil perhitungan posisi Bulan dan Matahari maupun waktu ijtimak dengan beragam cara akan memperjelas duduk persoalan yang harus diselesaikan agar penyatuan penanggalan Islam bisa diwujudkan. Dialog bisa melahirkan pemahaman baru misalnya untuk mengetahui adanya hilal melalui Hisab (perhitungan) tentang waktu ijtimak dan hasil Rukyat (pengamatan) hilal bisa dipergunakan untuk keperluan menyusun sebuah kriteria visibilitas hilal yang dipergunakan untuk menyusun penanggalan Islam yang bisa dipergunakan untuk keperluan ibadah dan transaksi perbank-an syariah maupun agenda kenegaraan.

 

Pemahaman lainnya mungkin dimulai dengan pertanyaan (1) Apakah adanya „hilal“ bisa ditetapkan dengan hisab? Misalnya sebuah kriteria visibilitas hilal diadopsi dan dipergunakan untuk menyusun kalendar Islam. Pertanyaan selanjutnya : Apakah kriteria visibilitas hilal yang diadopsi cukup akurat ? (2) Ataukah adanya hilal bisa ditetapkan dengan hisab dan rukyat? Misalnya untuk posisi hilal yang sudah jelas dari pengalaman bahwa hilal tidak mungkin dilihat atau hilal mungkin dilihat maka walaupun mendung bisa ditetapkan dengan cara hisab sedang yang masih ragu – ragu ditetapkan dengan cara rukyat. (3) Ataukah adanya hanya bisa ditetapkan dengan rukyat saja? Misalnya setiap awal Bulan Islam diverifikasi melalui pengamatan hilal. Pemahaman umat Islam dibangun atas dasar dialog dan menghargai pendapat untuk mencari solusi yang terbaik kriteria visibilitas hilal.

 

Pengetahuan kalendar Syamsiah/Masehi yang didasarkan atas regularitas siklus tropis Matahari dan kalendar Hijriah yang disadarkan pada siklus sinodis Bulan dapat diketahui setahun siklus tropis (365 atau 366 hari) lebih panjang 10 hingga 12 hari dibanding dengan setahun Hijriah (354 atau 355 hari) atau 12 kali lunasi Bulan. Jadi Bulan dalam kalendar Hijriah setiap tahun akan bergeser 10 hingga 12 hari lebih cepat dari tahun sebelumnya. Akibatnya bulan Ramadhan bisa berlangsung pada berbagai bulan Syamsiah/Masehi atau berlangsung pada berbagai musim di panet Bumi. Dari pengetahuan astronomi dapat diketahui bahwa pada tanggal 22 Juni dan 22 Desember posisi hilal bisa seperti Matahari pada esktrim titik Utara pada tanggal 21 atau 22 Juni dan pada esktrim titik Selatan pada tanggal 22 Desember.  Akibat adanya titik ekstrim tersebut ada bagian di permukaan Bumi yang tidak bisa melihat hilal. Misalnya muslim di Australia atau New Zealand pada bulan Juni akan sangat sukar hingga tidak mungkin melihat hilal, apakah mereka tidak dikenai kewajiban shaum Ramadhan karena tidak bisa atau tidak mungkin melihat hilal? Bagaimana menetapkan awal dan akhir Ramadhan untuk kondisi semacam ini?

 

Begitupula di negeri Utara senja sipil dan nautika bisa sangat panjang sehingga atau bahkan Matahari di atas ufuq selama 24 jam mereka akan terlambat melihat hilal (bisa 3 atau 4 hari setelah konjungsi/ijtimak) dibanding dengan kawasan dekat equator/khatulistiwa.

 

Struktur jumlah hari dalam bulan Islam bisa beberapa kali 29 hari berurutan, bila langit mendung beberapa kali dalam pengamatan hilal maka akan terjadi istikmal beberapa kali dan bisa berakibat awal Bulan Islam yang berikutnya bisa lebih cepat. Oleh karena itu perlu ada pendekatan Hisab dan Rukyat sebagai pendekatan dalam menyusun kalendar maupun pertimbangan dalam penetapan awal Bulan Islam.

 

Inna’iddatasy syuhuri’indal laa hitsaa’asyara syahran … Diterjemahkan: Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah itu (ada) dua belas bulan…QS At Taubah: 36

Satu tahun terdiri dari 12 bulan (Muharram=bulan ke-1, Safar=2, Rabiul awal=3, Rabiul akhir=4, Jumadal Ula=5, Jumadal Akhirah=6, Rajab=7, Sya’ban=8, Ramadlan=9, Syawal=10, Zulkaedah=11 dan Zulhijjah=12)

 

Al Qur’an memberi arahan Hilal untuk penetapan waktu ibadah Hajji, selain itu juga untuk mengerti bilangan tahun atau jumlah hari dalam setahun, sedang penjelasan Hadist Nabi untuk menetapkan awal dan akhir Ramadhan.

 

Walaupun konteks hilal berkaitan dengan waktu ibadah Haji (bulan Dzulhijjah) dan dalam hadist berkaitan dengan waktu shaum Ramadhan, keduanya bisa digabung karena menggunakan hilal sebagai penentuan awal Bulan.

 

QS 9:37 mempunyai konteks lainnya pada waktu terdahulu (sebelum Islam) dipergunakan sistem luni – solar yang membolehkan adanya “bulan” sisipan, bulan tanpa nama, karena sangat memungkinkan dalam setahun terdapat 13 bulan baru. Akibatnya adalah pengunduran posisi bulan Muharram dan sekaligus melepas ikatan dengan kalendar syamsiah, menjadikan kalendar Hijriah yang murni kalendar Bulan. Dalam 19 tahun (syamsiah) terdapat 7 tahun (syamsiah) dengan 13 bulan baru atau konjungsi/ijtimak dan 12 tahun (syamsiah) dengan 12 bulan mati atau konjungsi/ijtimak.

 

Tradisi umat Islam dunia merukyat hilal dengan mata bugil dari dulu hingga sekarang memperkuat bahwa hilal yang dimaksud adalah fisik hilal yaitu sabit bulan yang masih tipis tapi harus memenuhi ukuran sehingga bisa dilihat dengan mata bugil manusia. Bila „fisik hilal“ ini disepakati sebagai penentuan awal bulan Islam, maka berdasar pengetahuan fisik hilal dapat disusun sebuah sistem penanggalan Islam.  Bulan satu – satunya satelit alam planet Bumi. Bulan mengorbit planet Bumi mengikuti hukum alam  tentang orbit benda langit.  Hilal merupakan bagian proses rutin pada tahap pembentukan fasa bulan seperti fasa purnama, fasa kuartir awal (bulan separuh nampak pada sore hari). Jadi keberadaan hilal mengingkuti kaidah atau aturan hukum – hukum astronomi tentang peredaran fisik Bulan dan keteraturan fasa Bulan.

 

Tradisi pengamatan hilal telah berlangsung zaman Rasullulah berdasarkan banyak Hadist yang meriwayatkan pengamatan hilal. Selang waktu 14 abad telah memberikan banyak pengalaman dan perubahan dalam pengetahuan tentang pengamatan hilal dan sains hilal.

Secara ringkas historis awal tradisi pengamatan hilal pada zaman Rasullulah sebagai berikut : Februari 624 (Sya’ban 2 H) perubahan Arah Kiblat dari baitul Maqdis ke Masjidil Haram, setelah perintah Shalat 5 waktu (Isra’ Mi’raj, 620 M) dan Hijriah Rasullullah (September 622 M). Perintah shaum Ramadhan pada tahun 2 H ? Februari – Maret 624 M (Ramadhan 2 H),    Rasullullah wafat 12 Rabi’ul awal 11 H setelah haji wada 10 H. Sosok kalendar Islam pertama sistem Hisab Urfi ditetapkan Khalifah Umar bin Khatab pada tahun 637 M.

 

 

Jadi  puasa/shaum Ramadhan  zaman Rasullullah 2 H – 10 H. Sebagian besar Ramadhan di zaman Rasullulah ada di sekitar Medinah, sekarang masjid Nabawi.  Laporan pengamatan hilal mungkin lebih tepat bila mempergunakan posisi geografis Madinah (?Ma = + 24° 28¢ & l Ma= 39° 36¢) dari pada Mekah (?Me = +21° 25¢ & lMe = 39° 50¢.  Apakah akan terdapat perbedaan? Bagaimana pengetahuan masyarakat Arab tentang kalendar (luni solar, solar atau qamariah?) dan fasa Bulan dimasa Rasullulah?

 

Pengamatan hilal telah dilakukan oleh perukyat dalam unit – unit Kementrian Agama RI, dukungan pengamatan hilal tersebut juga datang dari Kementrian Komunikasi dan Informasi yang bekerjasama dengan Observatorium Bosscha, FMIPA, ITB (Institut Teknologi Bandung) telah berlangsung selama tiga tahun 1428, 1429 dan 1430 H telah memberikan respon masyarakat yang positif. Kerjasama ini perlu didukung karena hal ini juga menunjukkan (1) keseriusan umat Islam dan pemerintah Indonesia dalam berpartisipasi menyelesaikan agenda penyatuan kalendar Islam (2) adanya wawasan baru bagi umat Islam di Indonesia tentang pengamatan hilal dengan sains dan teknologi yang mutakhir (3) adanya pengkayaan data based hasil pengamatan hilal di Indonesia.

 

PENAMPAKAN BULAN

 

Tidak selamanya kita melihat Bulan di langit malam atau di langit siang, bahkan ada suatu waktu kita tidak melihat Bulan di langit malam atau di langit siang, walaupun sosok Bulan tidak pernah lenyap dari orbitnya mengelilingi Bumi. Bagi kita yang berdiam di dekat equator bisa lebih sering melihat perubahan penampakan Bulan di langit, namun tidak demikian bagi yang berdiam di dekat kutub Utara atau kutub Selatan Bumi. Bulan Purnama pada bulan Desember tidak mungkin diamati oleh penghuni di kawasan langit di atas kutub Selatan. Dan sebaliknya fasa Bulan Purnama pada bulan Juni tidak bisa diamati oleh penghuni di kawasan kutub Utara. Begitupula sabit Bulan setelah fasa Bulan Baru, tidak selamanya bisa diamati dari seluruh permukaan Bumi. Dalam kurun waktu setahun masehi, bisa berlangsung 12 sampai 13 kali konjungsi (bulan Mati) atau oposisi (bulan Purnama). Fasa – fasa Bulan yang paling dikenal terutama di kawasan ekuator atau subtropis adalah fase Bulan Purnama(beda bujur ekliptika Bulan dan Matahari adalah 180 derajat), Bulan nampak Bundar Penuh sepanjang malam, dari sejak Matahari terbenam hingga Matahari terbit kembali. Fasa Kuartir Awal(beda bujur ekliptika Bulan dan Matahari adalah 90 derajat), Bulan nampak Setengah Bundaran terbit pada tengah siang dan di dekat meridian pada sore hari hingga terbenam tengah malam. Sedang fasa Kuartir Akhir (beda bujur ekliptika Bulan dan Matahari adalah 90 derajat), Bulan nampak Setengah Bundaran terbit pada tengah malam dan di dekat meridian pada pagi hari hingga terbenam tengah siang. Sedang ijtimak /konjungsi (beda bujur ekliptika Bulan dan Matahari adalah nol derajat) Matahari dan Bulan di arah langit yang hampir sama. Jadi beralasan mengamati hilal, sabit Bulan yang tipis yang dapat diamati pertama kali setelah konjungsi (defenisi untuk di ekuator dan subtropis?) pada sore hari ketika Matahari sudah terbenam dan di lokasi pengamatan di arah dekat dengan terbenam Matahari. Skema sederhana tentang fase Bulan dapat dilihat pada gambar 1.

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1: Skema satu siklus Fasa Bulan, dari Bulan Mati ke Bulan Mati berikutnya

 

 

HISAB DAN RUKYAT DALAM PENENTUAN AWAL RAMADHAN DAN 1 SYAWAL 1434 H

 

Penentuan awal Ramadhan dan awal Syawal ditetapkan dalam sidang itsbat yang dihadiri oleh pimpinan MUI dan pimpinan Peradilan Agama dan sidang dipimpin oleh Menteri Agama RI.

Jadual ijtimak sepanjang tahun 2013 diperlihatkan dalam table sebagai berikut.

 

Tabel 13 : Ijtimak/ Konjungsi Tahun 2013

 

LI (ILn) LA ILVn Ijtimak Penentu Awal  Tanggal Ijtm(2013) Jam (wib) Ijtmk Ijtmk USNO/NASA
          J:m (wib) J:m (wib)

17199

1114

44

Rabi’ul Awal 1434 12 Januari (Jm) 02:44 02:44

17200

1115

45

Rabi’ul Akhir 1434 10 Februari (Ah) 14:20 14:20

17201

1116

46

Jumadil Awal 1434 12  Maret (Sl) 02:51 02:51

17202

1117

47

Jumadil Akhir 1434 10 April (Rb) 16:35 16:35

17203

1118

48

Rajab 1434 10  Mei (Jm) 07:28 07:28

17204

1119

49

Sya’ban 1434 8  Juni (Sb) 22:56 22:56

17205

1120

50

Ramadhan 1434 8 Juli (Sn) 14:14 14:14

17206

1121

51

Syawal 1434 7  Agustus (Rb) 04:51 04:51

17207

1122

52

Dzulkaedah 1434 5  Septmber (Km) 18:36 18:36

17208

1123

53

Dzulhijjah 1434 5  Oktober (Sb) 07:34 07:34

17209

1124

54

Muharram 1435 3 Novmber (Ah) 19:50 19:50

17210

1125

55

Safar 1435 3 Desmber (Sl) 07:22 07:22

 

 

 

       

 

Jumlah awal BI = (1125 – 1114) + 1 = 12 atau  ( 17210 – 17199)+ 1 = 12

BI = Bulan Islam, TH = Tahun Hijriah, LA = Lunasi Astronomi, LI = Lunasi Islam atau ILn = Islamic Lunation Number [ LI = (TH – 1) x 12 + BIs; Muharram = 1, Safar = 2, Rabi’ul Awal = 3, Rabi’ul Akhir = 4, Jumadil Awal = 5, Jumadil Tsani = 6, Rajab = 7, Sya’ban = 8, Ramadhan = 9, Syawal = 10, Dzulkaedah = 11, Dzulhijjah =  12; LI – LA = 16085 ], ILVn = Islamic Lunation Variant Number (1, 2, 3, …235), ILVn = 1, semua ILn=1 + n x 235, ILVn = (Frac (ILn / 235)x235)

Ah=Ahad, Sn=Senin, Sl=Selasa, Rb=Rabu, Km=Kamis, Jm= Jum’at, Sb=Sabtu.

GMC = Gerhana Matahari Cincin, GMS = Gerhana Matahari Sebagian, GMT = Gerhana Matahari Total, GBT = Gerhana Bulan Total, GBS = Gerhana Bulan Sebagian, GBP = Gerhana Bulan Penumbra

 

 
Tabel 14: Periode Sinodis

 

tahun tanggal Jam UT ILn ILVn Bulan Hijriah Tahun Hijriah P-Sinodis Julian Day/Date
2013 Jan 11 19  43  32 17199 44 Rabi’ul Awal 1434 H 29,48372 2456304,32189
2013 Feb 10 07  20  05 17200 45 Rabi’ul Akhir 1434 H 29,52147 2456333,80561
2013 Mar 11 19  50  60 17201 46  Jumadil Awal 1434 H 29,57246 2456363,32708
2013 Apr 10 09  35  21 17202 47  Jumadil Akhir 1434 H 29,62025 2456392,89955
2013 Mei 10 00  28  31 17203 48 Rajab 1434 H 29,64441 2456422,51980
2013 Jun 8 15  56  28 17204 49 Sya’ban 1434 H 29,63745 2456452,16421
2013 Jul 8 07  14  24 17205 50 Ramadhan 1434 H 29,60861 2456481,80166
2013 Ags 6 21  50  48 17206 51 Syawal 1434 H 29,57321 2456511,41028
2013 Sep 5 11  36  14 17207 52 Dzulkaedah 1434 H 29,54052 2456540,98349
2013 Okt 5 00  34  35 17208 53 Dzulhijjah 1434 H 29,51068 2456570,52402
2013 Nov 3 12  49  57 17209 54 Muharram 1435 H 29,48082 2456600,03469
2013 Des 3 00  22  20 17210 55 Safar 1435 H 29,45264 2456629,51551

 

Kolom 1: Tahun Masehi, Kol 2: tanggal &bulan (waktu ijtimak), Kol 3: Jam (UT) waktu Ijtimak, Kol 4& 5:  , LI = Lunasi Islam atau ILn = Islamic Lunation Number [ LI = (TH – 1) x 12 + BIs; Muharram = 1, Safar = 2, Rabi’ul Awal = 3, Rabi’ul Akhir = 4, Jumadil Awal = 5, Jumadil Tsani = 6, Rajab = 7, Sya’ban = 8, Ramadhan = 9, Syawal = 10, Dzulkaedah = 11, Dzulhijjah =  12, ILVn = Islamic Lunation Variant Number (1, 2, 3, …235), ILVn = 1, semua ILn=1 + n x 235, ILVn = (Frac (ILn / 235)x235),  Kol 6&7:  Bulan Islam/Hijriah, TH = Tahun Hijriah, Kol 8: Periode Sinodis Bulan Islam, Kol 9: Julian Date/Day pada saat Ijtimak

 

 

 

Tabel 15: Tinggi Bulan pada saat Matahari Terbenam di PELABUHAN RATU 2013 (prog-ascript) (Ref: muker 2010 : BT 106° 33¢ 27.8” atau 106°.5577222 dan LS  -7° 01¢ 44.6” atau -7°.029055556, tinggi tempat: 52.685 m),  U=USNO, US Naval Observatory)

 

Tgl Ijtimak (wib)

( tahun 2013)

Mthr Terbenam Bln Terbenam Tinggi Bln F (%) Awal bulan Hijriah
  (wib) (wib)      
11 Januari (Jm) 18:17 17:46 -07° 46'22".1 0 13 Januari (Ah)
12 Januari (Sb) 18:17 18:44 +05° 17' 12".4 1  
     

 

   
10 Februari (Ah) 18:19 18:13

-02  09 58.9

0 12 Februari (Sl)
11 Februari (Sn) 18:19 19:02

+09 42 40.1

2  
     

 

   
12 Maret (Sl) 18:08 18:25

+03  09 43.4

1 13 Maret (Rb) [atau 14 Maret (Km)]
13 Maret (Rb) 18:08 19:10 +13 50  1.8 3  
           
     

 

   
10 April (Rb) 17:54 17:48

- 02 12 43.6

0 12  April (Jm)
11 April (Km) 17:54 18:33 +08 19  09.2 1  
     

 

   
10 Mei (Jm) 17:45 18:01 +02 49 55.6 0 11 Mei (Sb) atau 12 Mei (Ah)
11 Mei (Sb) 17:44 18:48 +13 38 21.6 2  
     

 

   
8 Juni (Sb) 17:44 17:33

-  03 22 16.6

0 10 Juni (Sn)
9 Juni (Ah) 17:45 18:21 +07 13 53.5 1  
     

 

   
8 Juli (Sn) 17:51 17:54

-  00  07 00.9

0 10 Juli (Rb)
9 Juli (Sl) 17:51 18:42

+10 51 27.4

1  
     

 

   
7 Agustus (Rb) 17:55 18:13

+03 21 34.1

0 8 Agustus (Km) atau 9 Agustus (Jm)
8 Agustus (Km) 17:55 18:59 +14 33  03.3 2  
     

 

   
5 Septmber (Km) 17:52 17:42

- 03 07 47.3

0 7 Septmber (Sb)
6 Septmber (Jm) 17:52 18:30

+08 23 17.1

1  
     

 

   
5 Oktober (Sb) 17:48 18:03

+02 47 28.4

0 6 Oktober (Ah)
6 Oktober (Ah) 17:48 18:57 +15 15 36.9 2  
           
3 Novmber (Ah) 17:48 17:40 - 02 46 02.3 0 5 Novmber (Sl)
4 Novmber (Sn) 17:49 18: 38 +10 19 57.9 1  
           
3 Desmber (Sl) 17:59 18:22 +04 13 20.6 0 4 Desmber (Rb) atau 5 Desember (Km)
4 Desmber (Rb) 17:59 19:24 +18 18 21.6 3  
           

 

Keterangan Tabel : Kolom 1 : tanggal Masehi untuk perhitungan waktu terbenam Matahari dan Bulan di Pelabuhan Ratu pada kolom 2 dan 3, Pada kolom 4 dan 5 adalah Tinggi Bulan dan Fraksi Illuminasi Bulan (dalam %) pada saat Matahari terbenam (kolom 2), kolom 6 estimasi awal bulan Hijriah.

 

 

 

AWAL RAMADHAN 1434 H

 

Ijtimak akhir Sya’ban 1434 H bertepatan dengan tanggal hari Senin tanggal 8 Juli 2013 jam 14:14 wib. Di Pelabuhan Ratu kedudukan Bulan pada saat Matahari terbenam 17:51 wib adalah -0? 07’. Pengalaman empiris memberitahukan bahwa pada kedudukan tersebut hilal mustahil untuk bisa diamati dengan mata bugil/telanjang. Kedudukan Bulan saat Matahari terbenam tersebut juga kurang dari 2? yang merupakan kriteria taqwim standard. Jadi kemungkinan 1 Ramadhan 1434 H (shaum hari pertama) bertepatan dengan hari Rabu tanggal 10 Juli 2013 wib. Taqwim Standart menunjukkan bahwa Sya’ban 1434 H terdiri dari 30 hari dan 1 Ramadhan 1434 H bertepatan dengan hari Rabu 10 Juli 2013. (Awal Ramadhan tanggal 9 Juli 2013 setelah maghrib dan shalat tarawih pertama 9 Juli 2013). Ada kemungkinan sebagian umat Islam memulai shaum Ramadhan 1434 H sehari lebih awal, 9 Juli 2013, karena tinggi telah positif dibeberapa lokasi di wilayah Indonesia walaupun belum mencapai kriteria taqwim standart. Kepastian penetapan awal Ramadhan 1434 H menunggu sidang itsbat 1 Ramadhan 1434 H yang insyaallah akan diselenggarakan pada tanggal 8 Juli 2013.

 

 

AWAL SYAWAL 1434 H

 

Ijtimak akhir Sya’ban 1434 H bertepatan dengan tanggal hari Rabu tanggal 7 Agustus 2013 jam 04:51 wib. Di Pelabuhan Ratu kedudukan Bulan pada saat Matahari terbenam 17:55 wib adalah +03? 21’. Pengalaman empiris memberitahukan bahwa pada kedudukan tersebut hilal tidak bisa diamati dengan mata bugil/telanjang. Kedudukan Bulan saat Matahari terbenam tersebut lebih dari 2? yang merupakan kriteria taqwim standard. Jadi kemungkinan 1 Syawal 1434 H bertepatan dengan hari Kamis tanggal 8 Agustus 2013 wib. Pada kalendar Taqwim Standard 1 Syawal 1434 H bertepatan dengan hari Kamis tanggal 8 Agustus 2013, tanggal 5,6 dan 7 Agustus 2013 adalah cuti bersama sedang hari libur Idul Fitri 1434 H bertepatan dengan tanggal 8 dan 9 Agustus 2013. Bila awal Ramadhan 1434 H pada tanggal 10 Juli 2013 dan awal Syawal 1434 H pada tanggal 8 Agustus 2013 maka Ramadhan 1434 H terdiri dari 29 hari. [tanggal 7 Agustus 2013 setelah maghrib takbir dan shalat Ied 1434 pada hari Kamis 8 Agustus 2013]. Kepastian penetapan awal Syawal 1434 H menunggu sidang itsbat 1 Syawal 1434 H yang insyaallah akan diselenggarakan pada tanggal 7 Agustus 2013.

 

 

 

Bandung, 7 Juni 2013/28 Rajab 1434 H

One Response to “Kalendar sebagai sebuah kebutuhan Masyarakat”

  1. Cheapest Apple Laptop Says:

    Cheapest Apple Laptop…

    [...]moedji raharto » Blog Archive » Kalendar sebagai sebuah kebutuhan Masyarakat[...]…

Leave a Reply

To use reCAPTCHA you must get an API key from https://www.google.com/recaptcha/admin/create