MENGAPA BULAN NAMPAK LEBIH TERANG PADA MALAM HARI?

Kita hidup di planet Bumi yang mempunyai atmosfer. Atmosfer planet Bumi bertahan karena ada kesetimbangan antara energi Matahari yang diterima dengan gaya tarik gravitasi planet Bumi. Atmosfer berfungsi untuk melindung mahluk hidup dari sinar yang berbahaya bagi kehidupan seperti sinar UV. Juga atmosfer melindungi dari batuan meteoroid (kecil) yang menabrak Bumi, sehingga batuan memasuki angkasa Bumi bisa habis terbakar atau meledak di angkasa karena gesekan dengan angkasa Bumi yang menimbulkan pemanasan yang tinggi (di atas titik lebur besi) sehingga gas yang ada di dalam batuan mengembang dan bisa terjadi ledakan. Atmosfer mengandung atom, molekul dan aerosol (campuran debu dan gas). Siang hari (saat Matahari di atas horizon) sorot cahaya Matahari menerpa atmosfer Bumi dan disebarkan oleh partikel yang ada dalam atmosfer Bumi. Cahaya biru lebih banyak disebarkan oleh partikel dalam atmosfer planet Bumi, sehingga dikatakan “langit biru” pada siang hari. Sebaran cahaya ini sangat kuat sehingga bintang – bintang tak tampak oleh mata manusia pada siang hari, begitu pula sabit bulan yang amat tipis. Teknologi pengamatan dengan teropong yang dilengkapi filter inframerah masih memungkinkan melihat/mendeteksi sabit bulan tipis pada siang hari (lihat wesite Observatorium Bosscha). Intensitas cahaya Bulan sabit tipis dalam inframerah relatif lebih kuat dibanding dengan sebaran cahaya inframerah oleh Matahari.
Atmosfer planet Bumi bersifat transparan terhadap cahaya tampak (daerah panjang gelombang visual), sebagian cahaya benda langit sebagian diserap dan dihamburkan atau dipantulkan kembali ke ruang angkasa, sebagian diteruskan, cahaya benda langit teredam, makin dekat horizon makin kuat peredamannya. Pada malam hari angkasa Bumi tidak terkena sorot cahaya Matahari, sehingga mata manusia bisa melihat secara langsung benda – benda langit yang relatif terang, seperti bintang – bintang terang. Keterbatasan penglihatan oleh mata bugil manusia semata – mata oleh luas “lensa mata” bukan karena kuat cahaya Matahari. Bila digunakan teleskop yang lebih besar, kolektor cahaya yang lebih luas ternyata masih banyak benda langit, galaksi – galaksi atau gugus galaksi yang tak diketahui dengan mata bugil manusia.
Pupil mata manusia bisa membesar dan bisa mengecil secara otomatis, pada malam hari pupil mata akan membuka lebih lebar dibanding siang hari. Sangat berbahaya bila mata manusia dipaksa melihat Matahari secara langsung atau melihat gerhana Matahari total dekat dengan momen berakhirnya gerhana matahari total. Pada momen gerhana matahari total masih bisa dilihat dengan mata bugil manusia, tapi ketika berakhirnya gerhana matahari total mata kita masih menatap bisa terjadi silau. Silau menjelang akhir gerhana itu karena mata kita yang masih terbuka lebar pada saat menatap gerhana matahari total tak sempat mengecilkan pupil dan cahaya Matahari yang masuk bisa dalam ukuran berlebihan dan bisa membakar retina sehingga bisa menimbulkan kebutaan.
Bulan juga seperti planet terkena sorot cahaya Matahari dan memantulkan cahaya Matahari. Material Bulan terdiri dari Gray-Tan material. Sorot cahaya Matahari ke Bulan hanya 7% yang dipantulkan kembali dalam cahaya tampak, selebihnya dipergunakan untuk memanasi batu karang Bulan (maksimum hingga mencapai lebih dari 100? C; temperature permukaan Bulan minimum 390K dan minimum 110K, subsolar 386K) dan dipancarkan kembali dalam cahaya merah atau inframerah. Bulan purnama atau bulan separuh atau bulan fasa bulan lainnya yang terlihat pada malam hari akan menjadi obyek yang paling terang. Pada momen bulan purnama (skala terang -12.5 atau sejuta kali lebih lemah dari Matahari dan skala terang Matahari -26.5) pupil mata manusia mengecil sehingga bintang – bintang yang terang sebagian tak tampak oleh mata manusia. Bulan juga masih bisa dikenali siang hari, sering dinamakan Bulan kesiangan. Tapi cahaya bulan jauh lebih lemah dibanding cahaya Matahari maka kontribusi cahaya Bulan pada siang hari tidak berarti, sehingga mata manusia tidak merasakan langit siang lebih terang bila ada bulan kesiangan.

Moedji Raharto
Catatan: Sebagian materi tulisan ini diterbitkan pada buku Anak Bertanya di edit oleh Bpk Hendra Gunawan (2014)

Leave a Reply

To use reCAPTCHA you must get an API key from https://www.google.com/recaptcha/admin/create