GERHANA BULAN TOTAL 4 April 2015

Planit Bumi, bola batu yang berisi lebih dari 70% cekungan air dan berangkasa juga tidak luput dari sorot cahaya Matahari. Keberadaan sumber cahaya bola gas pijar Matahari dengan radius 700 ribu kilometer itu juga membentuk bayang-bayang umbra dan penumbra Bumi. Lokasi dalam ruang, bayang-bayang penumbra Bumi seolah membungkus umbra. Angkasa Bumi menambah luasnya kawasan ruang umbra maupun penumbra Bumi hingga mencapai 2% dari radius bola Bumi. Kerucut bayang-bayang umbra Bumi yang terpanjang bisa mencapai 1406000 km, yaitu saat planet Bumi berada pada aphelion, titik terjauh terhadap Matahari. Kerucut bayang-bayang umbra Bumi terpendek adalah 1360000 km yaitu saat Bumi di perihelion, titik terdekat terhadap Matahari. Oleh karena itu diameter umbra Bumi bervariasi dari 1.28 derajat hingga 1.56 derajat atau sekitar 2.5 hingga 3.0 kali diameter sudut Bulan. Sedang jarak Bumi-Bulan bervariasi antara 356400 km jarak pada saat di perigee, titik terdekat dengan Bumi, sampai 406700 km pada saat Bulan berada di apogee, titik terjauh dengan Bumi, oleh karena itu kerucut bayang – bayang umbra Bumi bisa menyapu kawasan orbit Bulan sehingga gerhana Bulan bisa berlangsung saat kerucut bayang-bayang umbra Bumi terpendek yaitu pada saat Bumi di perihelion, panjangnya 1360000 km atau sekitar 3.3 kali jarak Bumi – Bulan saat Bulan di titik Apogee.

Bila musim gerhana tiba dan Bulan hanya melewati kawasan penumbra Bumi saja maka akan terjadi Gerhana Bulan Penumbra (GBP). Ketika Bulan Purnama melewati kawasan Penumbra Bumi, sorot cahaya Matahari ke permukaan Bulan berkurang, di kawasan tersebut masih menyaksikan gerhana Matahari, sebagian bundaran Matahari di blok oleh Bumi. Posisi Bulan Purnama yang sedang berada dalam Penumbra Bumi yang semakin dekat dengan kawasan Umbra Bumi akan mengalami makin besar pengurangan sorot sinar Matahari ke Bulan, makin besar bagian Matahari yang di blok oleh planit Bumi. Jadi pengurangan sorot cahaya Matahari ke permukaan Bulan pada saat Bulan di Penumbra Bumi tidak merata, bundaran Bulan yang makin dekat dengan kawasan Umbra akan relatif lebih dingin dibanding dengan kawasan lainnya.
Bila kelangsungan bulan Purnama setelah melewati kawasan Penumbra Bumi kemudian hanya sebagian bundaran Bulan melewati kawasan Umbra Bumi maka akan terjadi gerhana Bulan Sebagian (GBS). Bila kelangsungan bulan Purnama, perjalanan Bulan selain melewati penumbra Bumi kemudian juga melewati umbra Bumi hingga seluruh bundaran Bulan memasuki kawasan Umbra Bumi maka akan terjadi Gerhana Bulan Total (GBT). Gerhana Bulan Sebagian maupun gerhana Bulan Total dikelompokkan sebagai gerhana Umbra. Pada gerhana Umbra manusia bisa dengan mudah melihat bagian bundaran Bulan Purnama yang menghitam karena 100% tidak terkenai sorot sinar Matahari, sinar Matahari ke arah kawasan tersebut 100% diblok oleh planit Bumi. Secara perlahan bagian yang hitam pada awal gerhana Umbra akan nampak membesar hingga mencapai maksimum bila kedudukan (pusat bundaran) Bulan sudah berada dekat sumbu Umbra Bumi. Apabila hanya sebagian budaran Bulan yang memasuki Umbra, dan luas maksimum bagian yang berwarna hitam tersebut dicapai maka kondisi gerhana Bulan mencapai tahap Gerhana Maksimum, pada saat itu pengurangan sorot cahaya Matahari mencapai maksimum.
Dalam GBT ada tahapan-tahapan gerhana Bulan yaitu fase bundar purnama (BP), kemudian dimulai dengan fase awal GBP saat sebagian sisi bundaran Bulan bersentuhan dengan kawasan Penumbra Bumi. Fase GBS baru dimulai kalau sebagian sisi bundaran Bulan bersentuhan dengan kawasan Umbra Bumi dan fase GBT dimulai bila seluruh bundaran Bulan berada di dalam Umbra Bumi. Kemudian fase GBT berakhir bila sebagian sisi bundaran Bulan keluar dari Umbra Bumi dan fase gerhana memasuki fase GBS. Bila seluruh bundaran Bulan keluar dari Umbra maka fase gerhana Bulan Sebagian berakhir dan bulan memasuki fase GBP. Selanjutnya bila seluruh bundaran Bulan keluar dari kawasan Penumbra maka Bulan kembali nampak dalam fase (sesudah) BP. Momen bulan Purnama biasanya berlangsung pada saat momen gerhana mencapai maksimum atau pada sekitar pertengahan gerhana Bulan.
Dalam GBS hanya terdapat urutan fase (menjelang) BP, kemudian dimulai dengan fase awal GBP saat sebagian sisi bundaran Bulan bersentuhan dengan kawasan Penumbra Bumi. Fase GBS baru dimulai kalau sebagian sisi bundaran Bulan bersentuhan dengan kawasan Umbra Bumi dan fase maksimum terjadi bila luas bundaran Bulan maksimum yang bisa dicapai pada momen gerhana Bulan Sebagian berada di dalam Umbra Bumi. Bila seluruh bundaran Bulan keluar dari Umbra maka fase gerhana Bulan Sebagian berakhir dan bulan memasuki fase GBP. Selanjutnya bila seluruh bundaran Bulan keluar dari kawasan Penumbra Bumi maka Bulan kembali nampak dalam fase (sesudah) BP.
Dalam GBP hanya terdapat urutan fase BP, fase awal GBP saat sebagian sisi bundaran Bulan bersentuhan dengan kawasan Penumbra Bumi. Fase maksimum terjadi bila luas bundaran Bulan maksimum yang bisa dicapai pada momen gerhana Bulan Penumbra berada di dalam Penumbra Bumi. Selanjutnya bila seluruh bundaran Bulan keluar dari kawasan Penumbra Bumi maka Bulan kembali nampak dalam fase (sesudah) BP.
Diantara tiga macam gerhana Bulan itu, GBT yang paling menarik, sedangkan GBS dan GBP mungkin kurang menarik, karena kurang spektakuler. Sebenarnya momen kedua gerhana itu masih bisa dipergunakan untuk mempelajari karakter permukaan Bulan, perubahan kecerlangannya akibat sebagian sorot cahaya Matahari ke permukaan Bulan diblok oleh bola karang planit Bumi.
Pada gerhana Bulan Total terdapat fenomena perubahan warna wajah bulan yang meredup misalnya membandingkan wajah Bulan Purnama dengan wajah Bulan saat menyaksikan wajah bulan sejam menjelang gerhana Bulan Umbra dimulai. Keberadaan aerosol akibat letusan gunung berapi, atmosfer Bumi, debu meteor pada ketinggian 120 -150 km bisa menjadi penyebab lebar diameter umbra dinamis secara umum bertambah sebesar 2%. Andaikan Bumi terbungkus debu meteor yang lebih tebal, diameter umbra Bumi bisa beberapa persen lebih tebal sehingga gerhana Bulan Sebagian bisa lebih sering berlangsung.
Seperti halnya cahaya Matahari yang menutupi pengetahuan langit siang dengan kemilau cahayanya. Bulan purnama mengingatkan kita akan peran Matahari di siang hari. Wajah Bulan Purnama selain menyimpan pengetahuan tentang karakteristik penumbra dan umbra Bumi juga mengubur penampakan benda atau fenomena langit yang relatif lemah cahayanya. Pengamat gerhana Bulan Total bisa memanfaatkan melakukan cacah bintang lemah yang berada di sekitar Bulan saat seluruh bundaran Bulan berada di dalam Umbra untuk mengetahui kecerlangan Gerhana Bulan Total.
Fenomena gerhana Bulan maupun gerhana Matahari merupakan fenomena tahunan yang dapat disaksikan oleh mahluk penghuni planet Bumi. Dalam setahun bisa berlangsung hingga tujuh gerhana dengan komposisi dua gerhana Bulan dan lima gerhana Matahari atau tiga gerhana Bulan dan 4 (empat) gerhana Matahari. Gerhana Bulan dalam setahun minimal 2 kali hingga maksimal 5 kali. Pada musim gerhana tahun ini termasuk tahun minimalis dengan dua gerhana Bulan dan dua gerhana Matahari.
Pada tahun 2015 terdapat dua gerhana Bulan Total (GBT), satu gerhana Matahari Total (GMT) dan satu gerhana Matahari Sebagian (GMS). Diskripsi singkat keempat gerhana tersebut sebagai berikut:
1. GMT 20 Maret 2015 : Merupakan gerhana Matahari ke 61 dari 71 gerhana Matahari dalam seri Saros 120. Bertepatan dengan konjungsi atau ijtimak akhir Jumadil Awal 1436 H pada tanggal 20 Maret jam 16:36 wib dan durasi totalitasnya 2 menit 47 detik. Gerhana ini tidak dapat disaksikan dari wilayah Indonesia. GMT 20 Maret 2015 dapat disaksikan dari wilayah Iceland, Eropa, Africa Utara, Asia Utara. Jalur gerhana Matahari Total melewati Utara laut Atlantik, Pulau Faeroe dan Svalbard.
2. GBT Apr 4, 2015: merupakan Gerhana Bulan ke 30 dari 71 gerhana Bulan dalam seri Saros 132, GBT Apr 4, 2015 dapat disaksikan dari seluruh wilayah Indonesia, GBT maksimum (terdekat ke sumbu Umbra) berlangsung pada jam 19:02 wib dan fasa Bulan Purnama 19:06 wib. GBT Apr 4, 2015 juga dapat disaksikan di Asia, Australia, Amerika, Lautan Pasific. Gerhana akan berlangsung selama 3 jam 29 menit dan Gerhana Bulan Totalnya hanya berlangsung singkat sekitar 5 menit.
3. GMS 13 September 2015: merupakan gerhana Matahari ke 54 dari 73 gerhana Matahari dalam seri Saros 125. Konjungsi atau ijtimak akhir Zulkaedah 1436 H bertepatan dengan tanggal 13 September pada jam 13:41 wib. GMS 13 September 2015 ini tidak dapat disaksikan dari wilayah Indonesia. Gerhana Matahari Sebagian ini dapat disaksikan di kawasan Afrika Selatan, Lautan India bagian selatan dan Antarctica.
4. GBT Sept 28, 2015: Merupakan Gerhana Bulan ke 28 dari 81 gerhana Bulan dalam Saros 137 mencapai maksimum jam 10:23 wib dan fasa Bulan Purnama berlangsung pada jam 09:50 wib. GBT Sept 28, 2015 ini tidak dapat disaksikan dari wilayah Indonesia. Gerhana Bulan dapat disaksikan di sebagian wilayah Asia Tengah, Timur Tengah, Arab Saudi , Afrika , Eropa, Amerika Latin, Amerika Serikat. Gerhana Bulan Total berlangsung selama 1jam 12 menit, durasi gerhana 3 jam 20 menit. Pertengahan Bulan Dzulhijjah 1436 H.
GERHANA BULAN TOTAL 4 APRIL 2015
Diantara dua gerhana Bulan Total (GBT) pada tahun 2015 hanya gerhana Bulan Total pada hari Sabtu tanggal 4 April 2015 yang dapat disaksikan dari wilayah Indonesia. Gerhana Matahari Total (GMT) dan gerhana Matahari Sebagian (GMS) pada tahun 2015 tidak dapat disaksikan dari wilayah Indonesia. Jadual GBT 4-April 2015 selengkapnya: (1) Momen Bulan memasuki penumbra jam 16:01 wib, dilanjutkan dengan (2) momen Bulan memasuki kawasan umbra Bumi pada jam 17:16 wib, (3) momen mulai gerhana Bulan Total pada jam 18:58 wib, (4) momen pertengahan gerhana Bulan Total jam 19:00 wib, (5) momen gerhana Bulan Total total berakhir pada jam 19:03 wib, (6) momen umbra berakhir pada jam 20:45 wib gerhana, (7) momen gerhana penumbra berakhir pada jam 21:59 wib. Momen gerhana umbra berlangsung selama 3 jam 29 menit dari jam 17:16 hingga jam 20:45 wib. Momen fasa Bulan Purnama akan berlangsung pada jam 19:06 wib.
Secara umum di Indonesia Bulan terbit dalam keadaan gerhana, pada momen GBT dimulai pada jam 18:58 wib tinggi Bulan berkisar antara 2 derajat hingga hampir 50 derajat. Gerhana Bulan tidak berbahaya untuk ditatap dengan mata bugil, tanpa alat bantú. Hari Jum’at 3 April 2015 merupakan libur Nasional (Wafat Isa Almasih) dan hari Sabtu 4 April 2015 merupakan hari libur sebagian pekerja merupakan momen yang baik untuk menyaksikan dan mengabadikan gerhana Bulan Total. GBT 4 April 2015 berlangsung hari Sabtu sore hari, antara waktu shalat maghrib dan Isya, kesempatan yang baik untuk dapat mengajak dan menjadualkan kegiatan anak – anak dan remaja untuk shalat gerhana maupun menyaksikan pengamatan gerhana Bulan. Bagi yang ingin menyaksikan dan mengabadikan momen – momen gerhana Bulan perlu mencari daerah yang lapang,(tidak terhalang bangunan, pohon atau mungkin bukit) ke arah horizon timur. Setelah gerhana Bulan Total 4 April 2015, dari wilayah Indonesia baru berkesempatan menyaksikan GBT pada tanggal 31 Januari 2018 dan 28 Juli 2019 mendatang.
Momen Gerhana Bulan Total terlama bisa mencapai 1 jam 46 menit, GBT 4 April 2015 hanya 5 menit atau 21 kali lebih singkat dari gerhana Bulan Total terlama. Gerhana Bulan total 4 April 2015 (seri gerhana Bulan ke 30 dari 71 gerhana dalam seri Saros 132, pertengahan bulan Jumadil Akhir 1436 H) merupakan gerhana Bulan total yang relatif singkat hanya sekitar 5 menit (dari jam 18:58 – 19:03 wib), walaupun singkat GBT ini menjadi penting karena membentuk deretan gerhana bulan tetrad kedua dalam millenium ke 3 ini. Keempat gerhana Bulan total yang merupakan deretan gerhana bulan tetrad kedua dalam millenium ke 3 adalah gerhana Bulan total 15 April 2014 (Seri gerhana Bulan ke 56 dari 75 gerhana Bulan dalam seri Saros 122, pertengahan bulan Jumadil Akhir 1435 H), gerhana Bulan total 8 Oktober 2014 (Seri gerhana Bulan ke 42 dari 72 gerhana Bulan dalam seri Saros 127, pertengahan bulan Dzulhijjah 1435 H), gerhana Bulan total 4 April 2015 (seri gerhana Bulan ke 30 dari 71 gerhana dalam seri Saros 132, pertengahan bulan Jumadil Akhir 1436 H), dan gerhana Bulan total 28 September 2015 (seri gerhana Bulan ke 28 dari 81 gerhana Bulan dalam seri Saros 137, pertengahan bulan Dzulhijjah 1436 H).
Diantara 4 gerhana Bulan Total Tetrad tersebut tiga diantaranya dapat disaksikan dari wilayah Indonesia yaitu gerhana Bulan total 15 April 2014 gerhana Bulan total 8 Oktober 2014 dan gerhana Bulan Total 4 April 2015.
Semoga langit malam pada tanggal 4 April 2015 cerah dan dapat menyaksikan pagelaran unik alam semesta, proses gerhana Bulan Total yang relatif singkat, semoga mengesankan dalam sepenggal kehidupan kita didunia fana ini.
Dalam perspektif al Qur’an fenomena gerhana Bulan merupakan tanda kekuasaan Allah swt. (S. Ali Imraan 3:27) Engkau masukkan malam ke dalam siang (Tuulijul laila finnahaari ) dan Engkau masukkan siang ke dalam malam (watuulijun nahaara fillail(i)). Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki (dengan tiada terhitung) tanpa hisab (batas).”

Allah maha Kuasa dan Maha berkehendak, hubungan dua keadaan yang berbeda tapi bisa menyatu disuatu tempat, misalnya di satu Bumi bisa berlangsung keadaan malam dan sisi lainnya dalam keadaan siang. Bulan Purnama yang dalam keadaan siang dimasukkan ke dalam suasana malam umbra Bumi yang kita saksikan sebagai fenomena gerhana Bulan.

Tuulijul laila finnahaari watuulijun nahaara fillail(i), watukhrijul hayya minal mayyiti watukhrijul mayyita minal hayyi, watarzuqu man tasyaau bighairi hisaab(in) (S. Ali Imraan 3:27)

Bandung, Kamis 19 Maret 2015
Moedji Raharto
Staf Pengajar Prodi Astronomi dan Staf Peneliti di Observatorium Bosscha
Institut Teknologi Bandung
HP: 085221088854

Leave a Reply

To use reCAPTCHA you must get an API key from https://www.google.com/recaptcha/admin/create