AWAL RAMADHAN DAN AWAL SYAWAL 1436 H*)

Moedji Raharto**)

 

*) Disampaikan pada acara Majelis Mudzakarah Masjid Agung Al Azhar  yang diselenggarakan oleh  Pengurus Takmir Masjid Agung Al Azhar – Yayasan Pesantren Islam Al Azhar, pada hari Selasa, 16 Rajab 1436 H / 5 Mei 2015 M bertempat di Aula Buya Hamka Masjid Agung Al Azhar , Jl Sisingaraja  Kebayoran Baru Jakarta Selatan

**) Anggota Kelompok Keahlian/Keilmuan Astronomi FMIPA ITB, Peneliti Astronomi di Observatorium Bosscha ITB

 

 

  1. PENDAHULUAN

     

Secara “de facto” umat Islam telah mempergunakan kalendar Islam, namun setiap tahun umat Islam juga masih melakukan sidang itsbat untuk menetapkan awal bulan Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah.  Adanya penentuan awal bulan Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah untuk keperluan ibadah ditentukan dengan cara hisab dan rukyat, maka diperlukan sidang itsbat awal bulan Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah. Di Indonesia sidang itsbat tersebut diperlukan untuk mendapatkan kepastian dalam mengawali dan mengakhir ibadah shaum Ramadhan, begitupula untuk keperluan ibadah Haji dan Idul Qurban.

 

Secara garis besar umat Islam telah menyepakati bahwa sistem kalendar Islam merupakan  sistem kalendar bulan murni atau sistem kalendar qamariah, bukan luni-solar atau bukan solar kalendar.  Awal penanggalan Islam 1 Muharram 1 H = 16 Juli 622 M (15 Juli 622 M). Satu tahun terdiri dari 12 bulan Islam dengan tatanan Muharram= bulan ke 1, Safar=2, Rabi’ul awal=3, Rabi’ul akhir=4, Jumadil awal/ Jumadal Ula =5, Jumadil akhir/ Jumadal Akhirah=6, Rajab=7, Sya’ban=8, Ramadhan=9, Syawal=10, Zulkaedah=11 dan Zulhijjah=12.

 

Ciri keberaadaan kalendar Islam misalnya, umat Islam dan kalendar Hijriah seluruh dunia sepakat bahwa sekarang telah berada pada bulan Rajab 1436 H sebentar lagi akan memasuki bulan Sya’ban dan Ramadhan 1436 H. Walaupun sebuah sistem kalendar Islam disusun dengan cara hisab jumlah hari dalam setahun paling sedikit 354 hari (tahun basit) dan paling banyak 355 hari (tahun kabisat). Dalam 30 tahun kalendar Islam (hisab Urfi) terdapat 11 tahun kabisat oleh karena itu setahun terdiri dari (354 + 11/30) hari = 354.3666667 hari atau 1 bulan Islam rata – rata (19 X 354 + 11 x 355) hari /(30 x 12) = (10631/360) hari = 29.53055556 hari. Dalam 30 tahun atau dalam 360 bulan Islam, hanya terdapat 11 tahun kabisat yang berarti komposisi jumlah bulan Islam dengan 29 hari (180 ? 11) = 169 bulan dan jumlah bulan Islam dengan 30 hari (180 +11) = 191 bulan.  Jadi (169 x 29 + 191 x 30) hari = (19 X 354 + 11 x 355) hari = 10631 hari. Secara astronomi hal ini menjelaskan bahwa bulan Islam dengan 30 hari lebih banyak dibandingkan dengan bulan Islam dengan 29 hari.  Jadi hingga 1437 H terdapat (1437 ? 1) x 12 bulan Islam = 17232 bulan Islam dan minimal (1436/30) x 11 ? 526 tambahan bulan Islam dengan 30 hari. Dengan demikian komposisi bulan Islam dengan 30 hari adalah (17232 / 2) + 526 = 8616 + 526 = 9142 atau (9142/17232) x 100% = 53.05% berbanding bulan Islam dengan 29 hari adalah (17232 / 2) ? 526 = 8616 ? 526 = 8090 atau (8090/17232) x 100% = 46.95%. Secara keseluruhan satu bulan Islam (dalam sistem hisab Urfi atau hisab Hakiki) dengan 30 hari lebih banyak dibandingkan dengan satu bulan Islam dengan 29 hari, perbandingannya 9142 : 8090 atau sekitar 113 : 100. Secara teoritis dalam sistem hisab Urfi, jumlah bulan Dzulhijjah dengan 30 hari akan berjumlah 526 sedang bulan Dzulhijjah dengan 29 hari akan berkurang sebanyak 526 atau menjadi (1436 ? 526) = 910 bulan. Mana yang lebih banyak apakah Ramadhan dengan 29 hari atau 30 hari?  Tabel 1.1 menunjukkan sebuah contoh bahwa dalam dua tahun tersebut Ramadhan terdiri dari 29 hari.

 

Jumlah hari dalam satu bulan Islam 29 atau 30 hari, namun pola tahunan bisa berbeda satu dengan lainnya walaupun sama?sama tahun basit seperti 1435 H dan 1436 H.  

Tabel 1.1 Pola Jumlah hari dalam bulan Hijriah pada Taqwim Standar Indonesia 2014 – 2015

Bulan Hijriah

Awal Bulan

Akhir Bulan

Jumlah Hari

Rabi’ul Awal 1435 H

3 Januari (Jm)

31 Januari (Jm)

29

Rabi’ul Akhir 1435 H

1 Februari (Sb)

2 Maret (Ah)

30

Jumadal Ula 1435 H

3 Maret (Sn)

31  Maret (Sn)

29

Jumadal Akhirah1435 H

1 April (Sl)

30 April (Rb)

30

Rajab 1435 H

1 Mei (Km)

29 Mei (Km)

29

Sya’ban 1435 H

30  Mei (Jm)

28 Juni (Sb)

30

Ramadhan 1435 H

29  Juni (Ah)

27 Juli (Ah)

29

Syawal 1435 H

28 Juli (Sn)

26 Agustus (Sl)

30

Dzulkaedah 1435 H

27  Agustus (Rb)

25 September (Km)

30

Dzulhijjah 1435 H

26  September (Jm)

24  Oktober (Jm)

29

Muharram 1436 H

25  Oktober (Sb)

23 November (Ah)

30

Safar 1436 H

24 November (Sn)

22 Desember (Sn)

29

Rabi’ul Awal 1436 H

23 Desember (Sl)

21 Januari (Rb) 2015

30

1 Rabi’ul Akhir 1436 H

22 Januari 2015

19 Februari 2015

29

1 Jumadal Ula 1436 H

20 Februari 2015

21  Maret 2015

30

1 Jumadal Akhirah1436H

22  Maret 2015

19 Aprl 2015

29

1 Rajab 1436 H

20 Aprl 2015

18 Mei 2015

29

1 Sya’ban 1436 H

19 Mei 2015

17 Juni 2015

30

1 Ramadhan 1436 H

18 Juni 2015

16 Juli 2015

29

1 Syawal 1436 H

17 Juli 2015

15 Agustus 2015

30

1 Dzulkaedah 1436 H

16 Agustus 2015

14-Septmber 2015

30

1 Dzulhijjah 1436 H

15-Septmber 2015

13 Oktober 2015

29

1 Muharram 1437 H

14 Oktober 2015

12-Novmber 2015

30

1 Safar 1437 H

13-Novmber 2015

12 Desember 2015

30

1 Rabi’ul Awal 1437 H

13 Desember 2015

10 Januari 2016

29

 

 

 

Kalendar Negara 1 Muharram 1 H (15 Juli 622 jam 18:00 wib; J  1948439.42) dan 1 Muharram 1437 H (13 Oktober 2015 jam 18:00 wib; J  2457309.42), Jumlah bulan Islam 1 Muharram 1 H sampai 1 Muharram 1437 H = (1437 ? 1) x12 = 17232 bulan Islam, JD 1 Muharram 1 H (15 Juli 622 jam 18:00 wib; J  1948439.42) dan JD 1 Muharram 1437 H (13 Oktober 2015 jam 18:00 wib; J  2457309.42), maka jumlah hari dari 1 Muharram 1 H hingga 1 Muharram 1437 H = J  2457309.42 ? J  1948439.42 = 508870 hari maka 1 bulan Islam rata ? rata = (508870 hari / 17232) = 29.53052461 hari.

 

J= JD = Julian Date [urutan hari Matahari Rata-Rata sejak 1.5 Januari –4712 (tengah siang hari 1 Januari 4713 SM), acuan meridian Greenwich atau jam UT] dikenalkan oleh Joseph Scaliger pada tahun 1582.  Kalendar Julian ini juga dinamakan dengan Julian Day (JD) atau Julian Date (JD)

Sistem Kalendar ini menghitung jumlah hari Matahari Rata-Rata sejak 1.5 Januari tahun -4712 (atau 4713 SM) melalui meridian Greenwich dan unit hari dimulai pada tengah hari jam 12 UT, jadi JD = 0.0 bersesuaian dengan 1 Januari 4713 SM jam 12 UT .

 

Kajian astronomi, Stephenson and Baolin (1991) mengkaji selang waktu siklus sinodik Bulan selama 5000 tahun, dari 1000 SM hingga tahun 4000 M, dan mendapatkan siklus terpendek sinodis Bulan adalah 29.2679 hari dan siklus terpanjang sinodis Bulan adalah 29.8376 hari. Siklus sinodik Bulan rata-rata yang diadopsi adalah 29.530589 hari. Kenyataan bahwa periode sinodis Bulan bisa lebih pendek dan lebih panjang dari periode rata ? rata menjadi penyebab perbedaan antara realitas fasa bulan atau penampakan hilal dengan awal bulan Islam dalam hisab Urfi.

 

Stephenson, F. R. and Baolin, L., 1991, The Length of Synodic Month, The Observatory III, p.21-22.

 

Terdapatnya dua sistem penentuan awal bulan Islam, yang pertama hisab Urfi dan hisab Hakiki. Hisab Urfi awal bulan ditetapkan berdasarkan ketentuan jumlah hari dalam tiap bulan, tanpa kriteria visibilitas hilal atau posisi Bulan dan Matahari. Khalifah Umar bin Khatab (581 – 644 M) dikenal sebagai pencetus Kalendar Hijriah yang dikenal sebagai hisab Urfi. Dalam kalendar hisab Urfi, jumlah hari tiap bulan ditetapkan dengan aturan 29 atau 30 hari saja, kecuali bulan Dzulhijjah bisa 29 atau 30 hari pada tahun Kabisat.  Bulan Ramadhan selalu 30 hari dan tatanan tahun kabisat ditetapkan melalui aturan.

 

Dalam sistem hisab Urfi jumlah hari dalam satu bulan Islam, ditetapkan bergantian 30 hari dan 29 hari. Jumlah hari dalam bulan Ramadhan selalu 30 hari sedang bulan Dzulhijjah bisa 29 atau 30 hari bergantung pada tahun kabisat atau basit. Secara keseluruhan bulan Muharram terdiri dari 30 hari, Safar 29 hari, Rabi’ul awal 30 hari, Rabi’ul akhir 29 hari, Jumadil awal/ Jumadal Ula 30 hari, Jumadil akhir/ Jumadal Akhirah 29 hari, Rajab 30 hari, Sya’ban 29 hari, Ramadhan 30 hari, Syawal 29 hari, Zulkaedah 30 hari dan Zulhijjah 29 (untuk tahun basit) atau 30 (untuk tahun kabisat) hari.  

Sistem hisab Urfi tanpa menggunakan kriteria kedudukan/posisi Bulan dan Matahari di langit dan terdapat keaneka ragaman aturan penataan tahun kabisat.  Keaneka ragaman aturan tersebut menjadi penyebab awal dan akhir bulan Islam dalam sistem hisab Urfi bisa mempunyai potensi berbeda.  Periodisitas fenomena langit fasa Bulan dipergunakan untuk dijadikan acuan agar tidak terjadi pergeseran yang terlalu jauh antara penanggalan qamariah dengan fenomena fasa bulan, periode tersebut adalah periode sinodis Bulan.

 

Tabel 1.2 Perbandingan Periode Sinodis dengan Periode rata – rata kalendar Hijriah

 

hari

hari, jam,men,det

Periode Sinodis hisab Urfi

29.53055556 hari

29d 12h 44m 00s
Periode Sinodis hisab Hakiki Taqwim Standard

29.53052461 hari

29d 12h 43m 57.33s
Periode Sinodis Bulan (rata – rata 5000 tahun)

29.530589 hari

29d 12h 44m 02.89s
Periode Sinodis Bulan (Espenak, NASA)

29.53059 hari

 29d 12h 44m 03s

 

Hasil perhitungan di atas menunjukkan bahwa secara rata – rata satu bulan Islam sistem hisab Urfi adalah 29.53055556 hari, rata – rata kalendar taqwim standard adalah  29.53052461 hari, rata – rata periode sinodis Bulan adalah 29.530589 hari, ketiganya mempunyai kesamaan hingga digit ke 4 dibelakang koma. Realitas periode sinodis Bulan dari Ijtimak/konjungsi atau fasa Bulan Mati ke fasa Bulan Mati berikutnya untuk tahun 2014 dan 2015 diperlihatkan dalam Tabel 1.4.

 

Tabel 1.3 Periodisitas beberapa fenomena Astronomi

Periode Matahari di arah titik Aries

Periode Tahun Tropis Matahari =

365.24220 hari

Periode Bulan

Periode Sinodis Bulan  (P-sin)=

29.530589 hari

Periode Sideris Bulan =

27.321662 hari

Periode Anomalistik Bulan (P-ano) =

27.554550 hari

Periode Nodikal  Bulan (P-nod)  =

27.212221 hari

Siklus Metonik (berulangnya fasa Bulan pada tanggal Masehi yang sama)

235 P-sin =

6939.688415 hari

19 tahun tropis =

6939.601781 hari

Siklus Saros (siklus berulangnya gerhana Bulan & Matahari)

223 P-sin =

6585.3213 hari

239 P-ano =

6585.5375 hari

242 P-nod =

6585.3575 hari

 

Sedang hisab Hakiki menggunakan kriteria astronomi, kriteria posisi Bulan dan Matahari atau fenomena yang bertautan dengan visibilitas hilal.  Penyusunan kalendar Islam berdasarkan hisab hakiki, juga mempunyai potensi beraneka ragam apabila dipergunakan kriteria posisi Bulan dan Matahari yang berbeda. Kalendar Islam yang disusun berdasar hisab hakiki mempunyai peluang untuk menyatukan antara metode hisab-rukyat dalam penentuan awal bulan Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah dengan kalendar Islam hakiki.

 

 

Tabel 1.4 Pola periode sinodis Bulan pada tahun 2014 – 2015 (Espenak, NASA)

Date of New Moon (GMT)

Length of Synodic Month

Difference from

 
 tahun  bulan  tgl  Jm GMT  hari  jam  menit

Mean  Synodic Month

 

2014

Jan

1

11:14

29d

10h

24m

-02h

20m

 

2014

Jan

30

21:39

29d

10h

21m

-02h

23m

shortest

2014

Mar

1

8:00

29d

10h

45m

-01h

59m

 

2014

Mar

30

18:45

29d

11h

30m

-01h

14m

 

2014

Apr

29

6:14

29d

12h

26m

-00h

18m

 

2014

May

28

18:40

29d

13h

28m

+00h

44m

 

2014

Jun

27

8:08

29d

14h

33m

+01h

49m

 

2014

Jul

26

22:42

29d

15h

31m

+02h

47m

 

2014

Aug

25

14:13

29d

16h

01m

+03h

17m

longest

2014

Sep

24

6:14

29d

15h

43m

+02h

59m

 

2014

Oct

23

21:57

29d

14h

36m

+01h

52m

 

2014

Nov

22

12:32

29d

13h

04m

+00h

20m

 

2014

Dec

22

1:36

29d

11h

38m

-01h

06m

 

             

 

 

 

2015

Jan

20

13:14

29d

10h

34m

-02h

10m

 

2015

Feb

18

23:47

29d

09h

49m

-02h

55m

 

2015

Mar

20

9:36

29d

09h

21m

-03h

23m

 

2015

Apr

18

18:57

29d

09h

16m

-03h

28m

shortest

2015

May

18

4:13

29d

09h

52m

-02h

52m

 

2015

Jun

16

14:05

29d

11h

19m

-01h

25m

 

2015

Jul

16

1:24

29d

13h

29m

+00h

45m

 

2015

Aug

14

14:53

29d

15h

48m

+03h

04m

 

2015

Sep

13

6:41

29d

17h

24m

+04h

40m

 

2015

Oct

13

0:06

29d

17h

41m

+04h

57m

longest

2015

Nov

11

17:47

29d

16h

42m

+03h

58m

 

2015

Dec

11

10:29

29d

15h

01m

+02h

17m

 

 

 

Terlepas belum menyatunya kriteria dalam penanggalan hisab Urfi dan hisab Hakiki, ilmu Hisab (ilmu hitung) untuk pembuatan penanggalan Islam merupakan ilmu pengetahuan yang penting dan harus dilestarikan dan dikembangkan sesuai dengan kemajuan teknologi dan pengetahuan yang telah dicapai umat manusia.  Ilmu Hisab diperlukan untuk pembuatan kalendar Islam yang menjadi kesepakatan bersama untuk dipergunakan dalam kehidupan sehari – hari, paling sedikit perlu kalendar Islam yang ditetapkan oleh masing – masing Negara di dunia (“kalendar Islam yang lazim dan benar”, berkekuatan hukum dan disahkan oleh yang berwewenang, mempunyai legitimasi), untuk keperluan transaksi masyarakat muslim dan non-muslim dan jadual kenegaraan dan acuan waktu ibadah umat Islam.

 

Sifat umum sebuah kalendar adalah menjejaki waktu dalam jangka panjang ribuan atau bahkan jutaan tahun, jauh lebih panjang dari usia manusia.  Kalendar juga sangat bermanfaat untuk menelusur peristiwa dalam kehidupan manusia, mempelajari sejarah jatuh – bangunnya kerajaan – kerajaan atau negara – negara dengan berbagai fenomena social di sekelilingnya.  Kalendar juga berguna untuk melihat ritme fenomena jangka panjang yang berulang.  Kalendar Islam juga menjadi ukuran tegaknya ajaran Islam dan perkembangannya.

 

 

  1. KALENDAR TAQWIM STANDARD INDONESIA

     

    Negara Republik Indonesia berpenduduk mayoritas beragama Islam dan Negara Republik Indonesia dikenal sebagai negeri dengan jumlah umat Islam terbesar di dunia.  Negara Republik Indonesia memerlukan kalendar Islam untuk keperluan pengaturan kegiatan berbangsa dan bernegara. Kalendar Islam yang dipergunakan Negara bersifat unik, mempunyai aturan baku, mempunyai konsistensi dan mempunyai kepastian. Umat Islam Indonesia secara formal saat ini menggunakan Taqwim Standard sebagai kalendar Islam negara. Hari – hari libur dan hari – hari besar umat Islam secara nasional tertera dalam Taqwim Standard dan dipergunakan sebagai jadual acara resmi kenegaraan, dan bagi bangsa Indonesia secara keseluruhan (muslim maupun non muslim).  Kalendar Islam Taqwim Standard dibuat dengan cara hisab hakiki, menggunakan perhitungan astronomi dan kriteria awal bulan Islam. Saat ini kalendar Islam Taqwim Standard mempergunakan kriteria 2-3-8 (di wilayah Indonesia tinggi bulan pada hari ke 29: saat matahari terbenam sama atau lebih tinggi dari 2 derajat, sudut elongasi atau jarak sudut Bulan – Matahari sama atau lebih besar dari 3 derajat dan/atau umur bulan 8 jam dari ijtimak/konjungsi hingga Matahari terbenam (atau Bulan terbenam)).  Musyawarah kerja Nasional Hisab – Rukyat diselenggarakan tiap tahun, musyawarah tersebut memberikan masukan awal bulan Islam sebagai dasar untuk menentukan hari libur nasional pada hari – hari besar umat Islam.  Tabel 2.1 merupakan kalendar Taqwim Standard Indonesia hasil perhitungan hisab hakiki dengan kriteria 2-3-8.

     

 

 

 

Tabel 2.1: Padanan Awal Bulan Hijriah pada tahun 2015 M (kriteria taqwim standard)

 

Tanggal Hijriah

Tanggal Masehi

Hari

1 Rabi’ul Akhir 1436 H

22 Januari 2015

Kamis

1 Jumadal Ula 1436 H

20 Februari 2015

Jum’at

1 Jumadal Akhirah 1436 H

22  Maret 2015

Ahad

1 Rajab 1436 H

20 Aprl 2015

Senin

1 Sya’ban 1436 H

19 Mei 2015

Selasa

1 Ramadhan 1436 H

18 Juni 2015

Kamis

1 Syawal 1436 H

17 Juli 2015

Jum’at

1 Dzulkaedah 1436 H

16 Agustus 2015

Ahad

1 Dzulhijjah 1436 H

15 September 2015

Selasa

1 Muharram 1437 H

14 Oktober 2015

Rabu

1 Safar 1437 H

13 November 2015

Jum’at

1 Rabi’ul Awal 1437 H

13 Desember 2015

Ahad

 

 

Musyawarah kerja Nasional Hisab – Rukyat mendikusikan dan mempertimbangkan hasil perhitungan dan penetapan awal bulan Islam dari berbagai ormas Islam. Selain itu, secara khusus Musyawarah kerja Nasional Hisab – Rukyat memberi masukkan bagi Menteri Agama dalam penetapan awal bulan Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah dalam sidang itsbat. Di Indonesia penetapan awal bulan Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah menggunakan cara Hisab dan Rukyat, untuk keperluan tersebut diselenggarakan gelar sidang itsbat.  Pada akhirnya secara operasional kalendar nasional diputuskan diselenggarakan dalam Keputusan bersama Menteri Agama, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia. 

 

Hari – hari libur Nasional pada Tabel 2.2 dan kalendar negara 2015 yang berisi hari – hari libur nasional didasarkan pada Keputusan bersama Menteri Agama, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia, No 16 tahun 2014, No 310 tahun 2014 dan 07/SKB/MENPAN-RB/09/2014. Perubahan atas keputusan bersama Menteri Agama, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia No 5 tahun 2014, 03/SKB/MEN/V/2014 dan 02/SKB/MENPAN/V/2014 tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama tahun 2015.

 

 

Tabel 2.2 Hari Libur Nasional 2015 di Indonesia

 

Hari Libur Nasional

Tahun 2015

1

Tahun Baru Masehi Kamis, 1 Januari

2

Tahun Baru Imlek 2566 Kongzili Kamis, 19 Februari

3

Hari raya Idul Adha 1436 H Kamis, 24 September

4

Tahun Baru Hijriah 1437 H Rabu, 14 Oktober

5

Hari Raya Nyepi, Tahun Baru Saka 1937S Sabtu, 21 Maret

6

Wafat Isa Almasih/ Yesus Kristus Jum’at, 3 April

7

Maulid Nabi saw , Rabi’ul Awal 1436 H Sabtu, 3 Januari,

8

Maulid Nabi saw , Rabi’ul Awal 1437 H Kamis, 24 Des

9

Hari buruh Internasional Jum’at, 1 Mei 

10

Kenaikan Yesus Kristus Kamis, 14 Mei

11

Hari raya Waisak  2559 Selasa, 2 Juni

12

Proklamasi Kemerdekaan RI Senin, 17 Agustus

13

Isra’ Mi’raj nabi saw 1436 H Sabtu, 16 Mei

14

Idul Fitri 1436H, 1 – 2 Syawal 1436 H Jm, Sb; 17, 18 Juli;

 

Cuti Idul Fitri 1436H Cuti:  Km, 16 Juli, Sn-Sl, 20,21 Juli

15

Hari Natal Jum’at, 25 Desember

 

 

 

PERHITUNGAN ASTRONOMI HISAB HAKIKI TAQWIM STANDARD

Penetapan awal bulan Hijriah dalam kalendar Taqwim Standard pada tahun 2015 Masehi telah mengacu perhitungan astronomi antara lain (1) Tanggal terjadinya konjungsi atau ijtimak dibandingkan dengan hasil perhitungan ijtimak (Espenak, NASA) diperlihatkan dalam Tabel 2.3 dan (2) Tinggi Bulan saat Matahari terbenam pada hari momen konjungsi berlangsung, diperlihatkan dalam Tabel 2.4.

 

Tabel 2.3 Momen konjungsi/ijtimak (Ijtmk) akhir Bulan Hijriah pada tahun 2015

LI (ILn) LA ILVn Ijtimak Penentu Awal  Tanggal Ijtm(2015) Jam (wib) Ijtmk Ijtmk USNO/NASA
          J:m (wib) J:m (wib)
17224 1139 69 Rabi’ul Akhir 1436 H 20 Januari (Sl)

20:14

20:14

17225 1140 70 Jumadal Ula 1436 H 19 Februari (Km)

06:47

06:47

17226 1141 71 Jumadal Akhirah 1436 H 20 Maret (Jm)

16:36T

16:36T

17227 1142 72 Rajab 1436 H 19 April (Ah)

01:57p

01:57p

17228 1143 73 Sya’ban 1436 H 18 Mei (Sn)

11:13

11:13

17229 1144 74 Ramadhan 1436 H 16 Juni (Sl)

21:05

21:05

17230 1145 75 Syawal 1436 H 16 Juli (Km)

08:24

08:24

17231 1146 76 Dzulkaedah 1436 H 14 Agustus (Jm)

21:53

21:53

17232 1147 77 Dzulhijjah 1436 H 13 Septmber (Ah)

13:41P,t

13:41P,t

17233 1148 78 Muharram 1437 H 13 Oktober (Sl)

07:06

07:06

17234 1149 79 Safar 1437 H 12 Novmber (Km)

00:47

00:47

17235 1150 80 Rabi’ul Awal 1437 H 11 Desember (Jm)

17:29

17:29

 

Keterangan:

Jumlah awal BI = (1150 – 1139) + 1 = 12 atau (17235 – 17224)+ 1 = 12. BI = Bulan Islam, TH = Tahun Hijriah, LA = Lunasi Astronomi, LI = Lunasi Islam atau ILn = Islamic Lunation Number [ LI = (TH – 1) x 12 + BIs; Muharram = 1, Safar = 2, Rabi’ul Awal = 3, Rabi’ul Akhir = 4, Jumadil Awal/ Jumadal Ula = 5, Jumadil Tsani / Jumadal Akhirah = 6, Rajab = 7, Sya’ban = 8, Ramadhan = 9, Syawal = 10, Dzulkaedah = 11, Dzulhijjah =  12; LI – LA = 16085], ILVn = Islamic Lunation Variant Number (1, 2, 3, …235), ILVn = 1, semua ILn=1 + n x 235, ILVn = (Frac (ILn / 235)x235).

Ah=Ahad, Sn=Senin, Sl=Selasa, Rb=Rabu, Km=Kamis, Jm= Jum’at, Sb=Sabtu.

GMC = Gerhana Matahari Cincin (A), GMS = Gerhana Matahari Sebagian(P), GMT = Gerhana Matahari Total (T), GBT = Gerhana Bulan Total (t), GBS = Gerhana Bulan Sebagian(p), GBP = Gerhana Bulan Penumbra (n).

 

 

 

 

Tabel 2.4: Tinggi Bulan pada saat Matahari Terbenam di PELABUHAN RATU 2015 (prog-ascript) (Ref: muker 2010 : BT 106° 33¢ 27.8” atau 106°.5577222 dan LS  -7° 01¢ 44.6” atau -7°.029055556, tinggi tempat: 52.685 m). 

Tinggi Bulan saat Matahari terbenam di sekitar masa Ijtimak

Tgl Ijtimak, Tgl Ijtimak + 1

 Matahari

Bulan

Tinggi Bln

F (%)

Awal bulan Hijriah

tahun2015

Terbenam

Terbenam

der, men, det bs

 

 

 

jam (wib)

jam (wib)

 

 

 

20 Januari (Sl)

18:18

18:01

 -  4 38 20.0

0

22 Januari(Km)

21 Januari (Rb)

18:18

18:59

 +08 38 27.6

1

 

 

 

 

 

 

 

19 Februari (Km)

18:16

18:31

+02 44 19.5

0

20 Februari(Jm)

20 Februari (Jm)

18:15

19:25

+15 54 50.6

3

 

 

 

 

 

 

 

20 Maret (Jm)

18:04

18:21

? 01 36 46.8

1

22  Maret (Ah)

21 Maret (Sb)

18:03

18:54

+11 20  7.8

2

 

 

 

 

 

 

 

19 April (Ah)

17:50

18:25

+07 17 59.3

1

20 April (Sn)

20 April (Sn)

17:49

19:19

+ 19 53 24.4

4

 

 

 

 

 

 

 

18 Mei (Sn)

17:43

17:59

+02 50 43.2

0

19 Mei (Sl)

19 Mei (Sl)

17:43

18:54

+15 13 35.6

2

 

 

 

 

 

 

 

16 Juni (Sl)

17:45

17:37

- 2 43 38.5

0

18 Juni (Km)

17 Juni (Rb)

17:45

18:31

+9 29 28.6

1

 

 

 

 

 

 

 

16 Juli (Km)

17:51

18:06

+2 42  7.0

0

17 Juli (Jm)

17 Juli (Jm)

17:51

18:56

+14 16  8.6

2

 

 

 

 

 

 

 

14 Agustus (Jm)

17:54

17:39

-  4 19 42.0

0

16 Agustus (Ah)

15 Agustus (Sb)

17:54

18:26

+6 42 12.6

1

 

 

 

 

 

 

 

13 Septmber (Ah)

17:50

17:53

-  0  5 28.8

0

15 Septmber (Sl)

14 Septmber (Sn)

17:50

18:37

+10 33 54.7

1

 

 

 

 

 

 

 

13 Oktober (Sl)

17:49

18:04

+2 50 16.3

0

14 Oktober (Rb)

14 Oktober (Rb)

17:50

18:50

+13 24 56.7

2

 

 

 

 

 

 

 

12 Novmber (Km)

17:54

18:22

+5 41 45.5

1

13 Novmber (Jm)

13 Novmber (Jm)

17:54

19:12

+17  9  8.8

3

 

 

 

 

 

 

 

11 Desember (Jm)

18:01

17:57

-  1 40 39.0

0

13 Desmber (Ah)

12 Desember (Sb)

18:02

18:50

+10  4  5.7

1

 

 

Pada hari – hari libur nasional dalam kalendar Islam Taqwim standard menunjukkan bahwa:

  1. Awal Ramadhan 1436 H adalah hari Kamis, 18 Juni 2015. Jumlah hari dalam Ramadhan 1435 H dan Ramadhan 1436 H sama yaitu 29 hari.
  2. Awal Syawal 1436 H adalah hari Jum’at, 17 Juli 2015, bertepatan dengan Hari libur Idul Fitri 1436 H,  yaitu 1 & 2 Syawal 1436 H yang bertepatan dengan hari Jum’at 17 Juli 2015 dan Sabtu 18 Juli 2015. Jumlah hari dalam Syawal 1435 H dan Syawal 1436 H sama yaitu 30 hari.
  3. Awal Dzulhijjah 1436 H adalah hari Selasa, 15 September 2015.  Hari libur hari Raya Idul Adha 1436 H bertepatan dengan 10 Dzulhijjah 1436 H yang bertepatan dengan hari Kamis, 24 September 2015. Jumlah hari dalam Dzulhijjah 1435 H dan Dzulhijjah 1436 H sama yaitu 30 hari.
  4. Pada tahun 2015 terdapat dua tanggal hari  libur Nasional Maulid Nabi Muhammad saw yaitu tanggal 12 Rabiul Awal 1436 H betepatan dengan hari Sabtu, 3 Januari 2015 dan tanggal 12 Rabiul Awal 1437 H bertepatan dengan hari Kamis, 24 Desember 2015.  Keduanya merupakan hari libur Nasional Maulid Nabi Muhammad saw.  Hal ini mungkin terjadi karena jumlah hari dalam setahun Masehi adalah 365 hari atau 366 hari, sedang setahun qamariah adalah 354 hari atau 355 hari.  Misalnya pada tahun 2006 Hari Raya Idul Adha 1426 H bertepatan dengan 10 Januari 2006 dan Hari Raya Idul Adha 1427 H bertepatan dengan 21 Desember 2006.

     

 

 

  1. JUMLAH HARI DALAM SETAHUN HIJRIAH TAQWIM STANDARD

Taqwim Standard merupakan sebuah praktek kalendar Islam yang dipergunakan acuan dalam skala negara di Indonesia. Kalendar ini diperuntukkan  sebagai acuan dalam membuat jadual kenegaraan, transaksi antar negara dsb. Secara umum sosok kalendar Islam di Indonesia adalah sebagai berikut:

Jumlah hari dalam setahun kalendar Hijriah adalah 354 hari atau 355 hari. Jumlah hari dalam setahun juga merupakan indikator komposisi jumlah Bulan Islam yang terdiri dari 29 hari dan 30 hari, untuk tahun basit perbandingan jumlah Bulan Islam yang terdiri dari 29 hari dan 30 hari tersebut 6 : 6, 6 bulan dengan 29 hari dan 6 bulan dengan 30 hari. Sedang untuk tahun kabisat perbandingan jumlah Bulan Islam yang terdiri dari 29 hari dan 30 hari tersebut adalah 5 : 7,  5 bulan Islam dengan 29 hari dan 7 bulan Islam dengan 30 hari.  Pola jumlah hari dalam setahun kalendar Hijriah bisa menjadi salah satu indikator dari akibat adanya perbedaan kriteria dalam penentuan awal bulan Islam. Indikator ini dapat dipergunakan untuk membandingkan kalendar Islam antar negara di seluruh dunia. Contoh pola jumlah hari dalam setahun untuk sistem Taqwim Standard Indonesia dapat diperlihatkan pada Tabel 3.1.

Tabel 3.1 POLA JUMLAH HARI DALAM SETAHUN: dalam periode 1424 H – 1437 H

1 Muharram tahun 

 Padanan Kalendar Masehi Gregorian

Julian Date  (pada jam 18:00 wib) 

Jumlah Hari tahun Hijriah

1437

14 Oktober 2015

2457309.958

354 

1436

25 Oktober 2014

2456955.958

354

1435

5 Nopember 2013

2456601.958

354

1434

15 Nopember 2012

2456246.958

355

1433

27 Nopember 2011

2455892.958

354

1432

7 Desember 2010

2455537.958

355

1431

18 Desember 2009

2455183.958

354

1430

29 Desember 2008

2454829.958

354

1429

10 Januari 2008

2454475.958

354

1428

20 Januari 2007

2454120.958

355

1427

31 Januari 2006

2453766.958

354

1426

10 Februari 2005

2453411.958

355

1425

22 Februari 2004

2453057.958

354

1424

4 Maret 2003

2452702.958

355

 

 

 

Walaupun Bulan dan Matahari yang dipergunakan adalah sama, namun variasi aturan yang dipergunakan untuk membangun sebuah kalendar berbeda maka pola jumlah hari pertahun juga bisa berbeda. Pola jumlah hari dalam setahun kalendar qamariah atau kalendar Bulan lebih sederhana yaitu 354 hari atau 355 hari, dibanding dengan pola jumlah hari dalam setahun kalendar Luni-Solar lebih banyak variasinya yaitu 354, 355, 383, 384 atau 385 hari. Begitupula dalam penentuan hari Paskah mempunyai aturan Luni-Solar sehingga selang waktu Hari Paskah ke Paskah berikutnya bisa bervariasi dari 350, 357 dan 385 hari.  Selain itu sistem luni-solar juga bergantung pada sistem syamsiah yang bermasalah hingga reformasi Gregorian pada abad 16.  Untuk lebih detail dapat dilihat pada Tabel 3.2 – 3.6

Tabel 3.2 POLA JUMLAH HARI DALAM SETAHUN kalendar Saka (Luni-Solar) periode 1925S – 1937S

Pola Jumlah Hari dalam Setahun dalam Kalendar Saka (Luni-Solar)

 Tahun

Tgl Hari Raya Nyepi

JD Hari Nyepi

Jmlh Hari /thn

Hari

 1925S

2 – Aprl 2003

2452731.92

354

Rabu

1926S

21 – Maret 2004

2453085.92

384

Ahad/Minggu

1927S

9 – Aprl 2005

2453469.92

355

Sabtu

1928S

30 – Maret 2006

2453824.92

354

Kamis

1929S

19 – Maret 2007

2454178.92

354

Senin

1930S

7 – Maret 2008

2454532.92

384

Jum’at

1931S

26 – Maret 2009

2454916.92

355

Kamis

1932S

16 – Maret 2010

2455271.92

354

Selasa

1933S

5 Maret  2011

2455625.92

384

Sabtu

1934S

23 Maret  2012

2456009.92

354

Jum’at

1935S

 12 Maret  2013

2456363.92

384

Selasa

1936S

31 Maret 2014

2456747.92

355

Senin

1937S

21 Maret 2015

2457102.92

 

Sabtu

 

  •        Kalendar Syamsiah, awal dan akhir tahun ditetapkan berdasar New Moon atau konjungsi atau ijtimak atau bulan Mati berdekatan dengan tanggal 21 Maret atau disebut juga tilem kasanga, tilem yang berdekatan dengan tanggal 21 Maret, momen tilem saat Matahari dekat dengan ekuator langit.
  •        Setelah Upacara tawur Agung keesokan hari dimulai dengan tahun baru Saka (Caka) umat Hindu atau dikenal sebagai hari Raya Nyepi (sepi atas semua aktivitas, puasa maupun kegiatan biasa bahkan TV lokal tidak siaran selama 24 jam untuk menghormati kegiatan tsb, catatan : tidak  semua umat Hindu melakukan kegiatan Nyepi tsb )  

 

 

 

Tabel 3.3 POLA JUMLAH HARI DALAM SETAHUN kalendar Cina/Imlek(Luni-Solar) periode 2551I – 2570I

Pola Jumlah Hari dalam setahun dalam kalendar Cina/Imlek

T. Imlek

T. Cina

Nama Tahun Imlek

Tgl Gregorian

JD

Jmlh Hari

2551

4698

Naga-Api

Feb. 5, 2000

2451579.667

354

2552

4699

Ular-Tanah

Jan. 24, 2001

2451933.667

384

2553

4700

Kuda-Logam

Feb. 12, 2002

2452317.667

354

2554

4701

Kambing-Air

Feb. 1, 2003

2452671.667

355

2555

4702

Monyet-Kayu

Jan. 22, 2004

2453026.667

384

2556

4703

Ayam-Api

Feb. 9, 2005

2453410.667

354

2557

4704

Anjing-Tanah

Jan. 29, 2006

2453764.667

385

2558

4705

Babi-Logam

Feb. 18, 2007

2454149.667

354

2559

4706

Tikus-Air

Feb. 7, 2008

2454503.667

354

2560

4707

Kerbau-Kayu

Jan. 26, 2009

2454857.667

384

2561

4708

Harimau-Api

Feb. 14, 2010

2455241.667

354

2562

4709

Kelinci-Tanah

Feb. 3, 2011

2455595.667

354

2563

4710

Naga-Logam

Jan. 23, 2012

2455949.667

384

2564

4711

Ular-Air

Feb. 10, 2013

2456333.667

355

2565

4712

Kuda-Kayu

Jan. 31, 2014

2456688.667

384

2566

4713

Kambing-Api

Feb. 19, 2015

2457072.667

355

2567

4714

Monyet-Tanah

Feb. 9, 2016

2457427.667

354

2568

4715

Ayam-Logam

Jan. 28, 2017

2457781.667

384

2569

4716

Anjing-Air

Feb. 16, 2018

2458165.667

354

2570

4717

Babi-Kayu

Feb. 5, 2019

2458519.667

 

 

  •           Hari pertama dalam bulan kalendar Cina adalah merupakan hari terjadinya bulan baru dengan meridian waktu (UT+ 8 jam), atau perhitungan based on meridian 120° east ( bujur timur 120°). Hal ini sama dengan WITA = (UT + 8 jam) bukan WIB = (UT + 7 jam).
  •           Tahun biasa (pendek) terdiri 12 bulan, tahun (panjang) dengan sisipan (intercalary) terdiri dari 13 bulan. Winter solstice P – 11 selalu jatuh pada bulan ke 11
  •           Dalam tahun panjang: intercalary month adalah bulan tanpa nomor “principle term”.  Sebagai bulan yang mendahului/sebelumnya dengan catatan sebagai bulan sisipan.
  •           Jika terdapat dua bulan intercalary dalam tahun intercalary terdiri tanpa principle term, hanya bulan setelah winter solstice yang dipertimbangkan sebagai sisipan. 
  •           P = principle (Zhongqi); major solar term, P mulai dengan bujur ekliptika Matahari ?mthr= k x 30°
  •           S = sectional (Jieqi); minor solar term, S mulai dengan bujur ekliptika Matahari ?mthr= k x 30°+ 15°
  •           RD = rata die; fixed date  elapsed days since the onset of Monday, January 1, 1 ( Gregorian)
  •           Periode sinodis bervariasi 29.27 sampai 29.84 hari, setahun bisa 12 atau 13 bulan sinodis
  •           Batas atas bila ada 12 bulan sinodis dalam setahun: (12 x 29.84) < 358 hari atau batas bawah bila ada 13 bulan sinodis dalam setahun :13 x 29. 27 > 380 hari

 

 

Tabel 3.4 POLA JUMLAH HARI DALAM SETAHUN kalendar Budha(Luni-Solar) periode 2547 – 2559

Pola Jumlah Hari dalam Setahun dalam kalendar Budha

Tahun Waisak

Hari Waisak

Hari

JD Waisak/12:00

Hari/thn

2547

16 Mei 2003

Jum’at

2452775.92

384

2548

3 Juni 2004

Kamis

2453159.92

355

2549

24 Mei 2005

Selasa

2453514.92

354

2550

13 Mei 2006

Sabtu

2453868.92

384

2551

1 Juni 2007

Jum’at

2454252.92

354

2552

20 Mei 2008

Selasa

2454606.92

354

2553

9 Mei 2009

Sabtu

2454960.92

384

2554

28 Mei 2010

Jum’at

2455344.92

354

2555

17 Mei 2011

Selasa

2455698.92

355

2556

6 Mei 2012

Ahad

2456053.92

384

2557

25 Mei 2013

Sabtu

2456437.92

355

2558

15 Mei 2014

Kamis

2456792.92

383

2559

2 Juni 2015

Selasa

2457175.92

 

 

  •        Hisab Hakiki:  Hari Waisak adalah Oposisi Bulan (beda bujur ekliptika Bulan dan Matahari adalah 180 ?) atau Astronomical Full Moon (Bulan Purnama) yang berlangsung antara 6 Mei – 6 Juni
  •        Untuk penentuan tanggal  Waisak  dipergunakan fenomena full moon antara 6 Mei dan 6 juni dengan mengacu  “time zone negara India”  (= UT + 5.5 jam)
  •        Jika terjadi 2 oposisi antara tanggal 6 Mei – 6 Juni, maka referensinya adalah Waisak tahun sebelumnya, kalau Waisak tahun sebelumnya berlangsung bulan Mei maka pada kasus ada dua bulan purnama antara tanggal 6 Mei – 6 Juni maka tanggalnya dipilih bulan Mei. [kasus bila oposisi berlangsung 7 Mei dan 5 Juni)

 

 

 

 

Tabel 3.5 POLA JUMLAH HARI jumlah hari dari hari Paskah ke hari Paskah periode 2000 – 2015 M

Pola jumlah hari dari hari Paskah ke hari Paskah berikutnya

Tanggal Easter Day

JD pada jam 12 UT

Jmlh hari

2000

23

April

2451658

357

2001

15

April

2452015

350

2002

31

Maret

2452365

385

2003

20

April

2452750

357

2004

11

April

2453107

350

2005

27

Maret

2453457

385

2006

16

April

2453842

357

2007

8

April

2454199

350

2008

23

Maret

2454549

385

2009

12

April

2454934

357

2010

4

April

2455291

385

2011

24

April

2455676

350

2012

8

April

2456026

357

2013

31

Maret

2456383

385

2014

20

April

2456768

350

2015

5

April

2457118

357

 

(1)    Tanggal Hari besar umat Kristiani ada bersifat tetap dalam kalendar Masehi Gregorian yaitu hari Natal setiap tanggal 25 Desember.  

(2)    Selain itu ada tanggal yang tidak tetap dalam kalendar Masehi Gregorian yaitu penentuan hari Libur Wafat Yesus Kristus dan Kenaikan Yesus Kristus. Keduanya ditetapkan mengacu pada hari Paskah, sedangkan hari Paskah ditetapkan berdasarkan dengan sistem Luni Solar. Hari Paskah hari Minggu setelah bulan Purnama pada tanggal 21 Maret atau sesudah tanggal 21 Maret.  Libur Wafat Yesus Kristus dua hari sebelum Paskah. Dan Libur Kenaikan Yesus Kristus hari Kamis hari ke 40 setelah Paskah/Easter Sunday.

(3)    Paskah Hari Minggu/Ahad setelah Bulan Purnama 21 Maret, Hari wafat Isa al Masih selalu hari Jum’at, 2 hari sebelum Paskah, Hari kenaikan Isa al Masih jatuh hari Kamis, 40  hari setelah Paskah.  

(4)    Rentang tanggal Paskah (paling awal tanggal 22 Maret dan paling lambat tanggal 25 April)

 

 

 

 

  1. MASALAH – MASALAH PENYATUAN AWAL BULAN ISLAM

Pembahasan masalah – masalah penyatuan kalendar Islam menyangkut masalah nasional, regional dan internasional.

  • PENYATUAN KALENDAR, Hisab – Rukyat DAN ITSBAT

Umat Islam di Indonesia menggunakan metoda hisab dan rukyat untuk menentukan awal Bulan Islam terutama dalam pelaksanaan ibadah shaum Ramadhan maupun penentuan awal Dzulhijjah.

  • Sidang itsbat awal Ramadhan pada tanggal 29 bulan Sya’ban 1436 H (Selasa, 16 Juni 2015?)
  • Sidang itsbat awal Syawal pada tanggal 29 bulan Ramadhan 1436 H (Kamis, 16 Juli 2015?)

Bagi yang berkeyakinan penentuan awal bulan Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah untuk keperluan ibadah dianggap cukup dengan cara hisab, maka bila menggunakan kriteria yang berbeda dengan kriteria 2-3-8, yang digunakan dalam Kalendar Taqwim Standard bisa mempunyai kemungkinan berbeda atau tidak berbeda, bergantung pada keadaan Bulan dan Matahari.

  • Lebih rendah dari kriteria 2-3-8 misalnya kriteria wujudul – hilal
  • Lebih tinggi dari kriteria 2-3-8 misalnya kriteria Istanbul , kriteria Ilyas (International Islamic Kalendar Program), kriteria Odeh
  • Kriteria hisab Urfi
AWAL RAMADHAN 1436 H

 

Menilik hari Selasa tanggal 16 Juni 2015 merupakan hari ke 29 bulan Sya’ban 1436 H, posisi Bulan pada saat Matahari terbenam tanggal 16 Juni 2015 masih di bawah ufuq serta ijtimak baru akan berlangsung pada 16 Juni 2015 jam 21:05 wib, maka secara hisab maupun rukyat nampaknya tidak beralasan untuk menentukan awal bulan Ramadhan 1436 H pada tanggal 18 Juni 2015. (tarawih pertama tanggal 17 Juni 2015).

 

 

AWAL SYAWAL 1436 H

 

Ijtimak akhir Ramadhan 1436 H pada hari Kamis tanggal 16 Juli 2015 pada jam 08:24 wib bertepatan dengan tanggal 29 Ramadhan 1436 H.  Pada saat Matahari terbenam tanggal 16 Juli 2015, tinggi Bulan di wilayah Indonesia sudah positif di Pelabuhan Ratu misalnya tinggi Bulan mencapai +2? 42? 7″.0. Penentuan secara hisab dengan kriteria wujudul hilal maupun kriteria 2-3-8 tidak bermasalah. Ramadhan 1436 H berakhir pada tanggal 16 Juli 2015 dan tanggal 17 Juli 2015 shalat Idul Fitri 1436 H.  Apakah para ahli rukyat dapat berhasil melihat hilal pada tanggal 16 Juli 2015?. Melihat posisi bulan dan matahari, hilal tersebut tergolong sulit untuk bisa diamati, walaupun memenuhi kriteria 2-3-8.

 

 

 

AWAL DZULHIJJAH 1436 H

 

Ijtimak akhir Ramadhan 1436 H pada hari Ahad tanggal 13 September 2015 pada jam 13:41 wib bertepatan dengan tanggal 29 Dzulkaedah1436 H.  Pada saat Matahari terbenam tanggal 13 September 2015, tinggi Bulan di wilayah Indonesia masih negative di Pelabuhan Ratu misalnya tinggi Bulan baru mencapai -  0?  5? 28″.8,  pada tanggal 14 September 2015 +10? 33? 54″.7. Penentuan secara hisab dengan kriteria wujudul hilal maupun kriteria 2-3-8 punya potensi bermasalah dengan wujudul hilal, awal Dzulhijjah 1436 H 15 Septmber (Sl). Tanggal 10 Dzulhijjah 1436 H Kamis 24 September 2015.

 

 

 

Bagi yang berkeyakinan penentuan awal bulan Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah untuk keperluan ibadah dianggap tidak cukup dengan cara hisab, perlu adanya hasil rukyat maka bisa mempunyai kemungkinan berbeda atau tidak berbeda bilan dibandingkan dengan awal Bulan yang telah tertera pada kalendar Taqwim Standard, bergantung pada cuaca, keadaan Bulan dan Matahari dan penggunaan peralatan teropong dan teknik pendukung lainnya.

  • Beberapa telaah hasil pengamatan hilal visual dengan mata bugil dan teleskop visual dari Negara – Negara MABIMS menyarankan pengkajian ulang penggunaan kriteria 2-3-8
  • Pengamatan sabit Bulan setelah ijtimak pada saat Matahari belum terbenam dimungkinkan dengan teknik inframerah. Teleskop dengan perangkat perekam citra inframerah. Sebagian berpendapat bahwa sabit bulan tersebut adalah hilal dan dapat dipergunakan untuk menentukan awal Bulan Islam. Kriteria yang akan dipergunakan adalah setelah konjungsi bila elongasi Bulan – Matahari sekitar 4.5 derajat, dapat dianggap telah memasuki awal Bulan Islam.  Bila elongasi dipergunakan sebagai kriteria maka dipergunakan secara universal, tidak bergantung cuaca local.
  • Dr. Yaseen Almleaky (Chair Director) dari King Abdullah bin Abdulaziz Chair (kantornya di balik jam besar zam – zam tower Mekah), berkunjung ke Observatorium Bosscha pada tanggal 5-6 April 2015 dalam rangka rencana pemasangan teleskop Arab Saudi di Indonesia untuk pengamatan hilal di kawasan Observatorium Nasional di Timau atau di Univ Nusacendana (info yang update dan detail bisa ditanyakan Kepala Observatorium Bosscha, Dr. Mahasena Putra). Program pengamatan hilal di seluruh dunia, teleskop KACCOLR ditebar di beberapa Negara muslim dan dikoordinasikan  King Abdullah Chair for Crescent Observation and Lunar Research (KACCOLR).
  • Saat ini Arab Saudi telah memasuki fase baru dalam penentuan awal bulan Islam, selain berbasis syariah juga rukyatul hilal dan sains astronomi. Sebaiknya umat Islam di Indonesia bisa berkesempatan mendengar dan berdiskusi langsung dari direktur King Abdullah Chair for Crescent Observation and Lunar Research (KACCOLR) Dr. Yaseen M. Almleaky dan tim nya. 

     

     

  • Gagasan tentang hilal global dan model kalendar Islam Internasional.
  • Gagasan Mekah Mean Time sebagai meridian acuan

MASALAH KRITERIA VISIBILITAS HILAL

Hilal dalam astronomi dikenal dengan nama (Earliest Visibility of) New Crescent Moon. Saat ini menjadi issu yang luas karena terkait dengan penentuan awal bulan Islam.  Institusi dunia seperti NASA, HM Nautical Almanac Office, McDonald Observatory, SAAO (South African Astrophysical Observatory) dll turut berpartisipasi aktif untuk pengamatan hilal.  Begitupula di dunia Islam, IICP, ICOP, MABIMS dsb. Selain di luar negeri juga di dalam negeri partisipasi luas dari kalangan Universitas maupun berbagai departemen yang terkait seperti KEMENAG,  Observatorium Bosscha ITB, LAPAN, BMKG, KOMINFO maupun dikalangan akademisi yang berasal dari Universitas seperti IAIN Wali Songo, UIN SUSKA, UPI, ITB, UNHAS dsb. Sosialisasi maupun pengamatan hilal juga dilakukan oleh kelompok aktif di masyarakat dan berbagai Ormas Islam seperti NU, Muhammadiyah, Ponpes As Salam, RHI, Condrodipo dll. Fenomena ini hendaknya menjadi momentum untuk membangkitkan kegiatan penelitian dalam dunia Islam dan sekaligus juga membangun kerjasama untuk membangun masa depan dunia yang lebih baik. Usaha membangun databased hilal yang terpercaya dan lengkap, databased yang mengakomodasi data pengamatan hilal baik dengan alat optik, binokuler, teleskop dan detektornya maupun hasil pengamatan hilal dengan mata bugil.

 

Selain databased juga perlu menginventaritasi dan mengkaji dengan lebih detail berbagai metode dan implikasinya pada penentuan awal bulan Islam. Penulis belum sempat mengkaji keseluruhan materi tersebut, karena sangat luas. Menurut Ilyas (1994) secara umum aturan penetapan awal Bulan dalam dunia Islam dikelompokkan sebagai berikut:

  1. Konjungsi dan fenomena kedudukan Matahari sebagai acuan :
  1. konjungsi sebelum tengah malam (ada acuan LOKASI)
  2. konjungsi sebelum Matahari terbenam (lokasi pengamat)

     

     

  1. Time lag (beda waktu terbenam Matahari dan Bulan) sebagai acuan :
  1. Umur Bulan pada waktu Matahari terbenam di lokasi pengamat (fungsi lintang pengamat)
  2. Selang waktu Bulan terbenam dan Matahari terbenam pada lokasi pengamat (fungsi lintang pengamat )

     

  1. Kriteria satu dimensi atau satu parameter posisi:
  1. Aturan umum Babylonia ( aS ? 12°)
  2. Limit Danjon ( aL ? 7°) aturan umum elongasi

     

    Permasalahan adalah apakah sabit bulan lenyap setelah jarak elongasi kurang dari 7 derajat? Perdebatan belum selesai, elongasi bisa makin kecil bila manusia bisa mengatasi turbulensi angkasa, atau memperbaiki kontras dalam vision.

Danjon (1932) mengajukan hipotesa ektrapolasi dari hasil pengamatan pengurangan tanduk hilal yang merupakan fungsi dari jarak sudut antara Bulan dan Matahari, tanduk hilal menjadi nol sehingga hilal tak nampak bila jarak sudut Bulan dan Matahari, aL, mencapai 7°. MacNally (1983) menjelaskan pengurangan tanduk hilal akibat seeing dan ekstingsi dan limit aL = 5°. Schaefer (1991) menjelaskan pengurangan tanduk hilal akibat pengurangan brightness permukaan, aL = 7°. Odeh (2004) dari data based jumlah besar menyimpulkan bahwa elongasi minimal bisa dicapai hingga 6°.4, sedang Ilyas (1994)  elongasi  dengan pengamatan mata telanjang mencapai 10°.0.

 

 

Tabel  4.1 : Beberapa Kajian  Limit Danjon

 

aL (°) = ARCL

Al – Khawarizmi ( – 830 )

< 9°.5

Moses (Ibn Maimon, Maimonides) 731 – 861

9°.0 ? aL ? 24°.0

Thabet Ibn Qurra ( 826 – 901)

11°.0 ? aL ? 25°.0

Fotheringham&Maunder (1910 – 1911), obs

12°

Mauder  (1911)

11°

Danjon (1932)

Istambul (1978)

? 8°

Ilyas (1983)

? 10°.5

Ilyas (1983) lower limit of aL

10° – 10°.5

Kriteria Taqwim Standard Indonesia (2000)

? 3°

Baharruddin bin Zainal (2003)

? 9°.5

Yallop (1996)

10° – 10°.5

Stamm (21 Jan 1996) the Youngest  optik, 13:14 toposentrik

6°.4

Pierce (25 Feb 1990), the Youngest hilal 15:33 toposentrik

7°.7

Fatoohi (1998) (kesimpulan dari 52 kasus dengan e ? 9°; dipilih dari 503 )

7°.5

Fatoohi (1998) (common place)

9°.4, and lower limit 7°.5

Schaefer  (1998)

Odeh (2004), large databased

6°.4

MacNally (1983), bila langit tanpa turbulensi?

Sultan (2007)

7°.5

Sultan (2007) teleskopik

   
JAR Caldwell (2011), McDonald Observatory, Univ of Texas (30 thn, lag terpanjang)

10° – 15°

JAR Caldwell (2011), McDonald Observatory, Univ of Texas (30 thn, lag terpanjang)

7° – 7°.5

James Stamm (2004) dengan teleskop 8 inch, berhasil melihat sabit bulan dikritik?

6°.5

Martin Elsasser (15 Juni 2007) sabit bulan bisa terbentuk walau e kurang dari 5°

< 5°

Martin Elsasser (15 Mei 2008) kurang dari 5° ( 5 menit setelah konjungsi)

< 5°

Thierry Legault (2010), sabit bulan saat posisi e sekitar 4.5 di bawah Danjon limit

4°.5 atau < 5°

Amir Hasanzadeh (2012), Institute of Geophysics, University of Tehran, Tehran, Iran

4°.25 and 5°.5

 

 


 

 

  1. Indonesia (h ? 2°) aturan umum tinggi Bulan saat Matahari terbenam

     

    Tabel 4.2: Kriteria satu dimensi

h (°)
Kriteria Taqwim Standard Indonesia ? 
Jamaluddin (Persatuan) > 4°
Jamaluddin (LAPAN) > 2° (fungsi Azimuth)
> 9° (fungsi Azimuth)
Baharruddin bin Zainal (2003) ? 5°.5

 

 

  1. Kriteria dua dimensi atau dua parameter kondisi rata – rata:
  1. ?Z, ?Az Maunder/Fotheringham
  2. ?A, aL Bruin/Arabian
  3. Composite /campuran Ilyas – Bruin – Fotheringham
  4. Ad-hoc combinations :  Istanbul 8 j + 8°/5° dan SE Asia 8j + 5°

     

  1. Extingsi dan berbagai variable :
  1. Extingsi bergantung pada sistem global
  2. Lokasi atau zone khusus didasarkan satu set kriteria sederhana
  3. Zone lintang lebar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

FENOMENA GERHANA

  1. GERHANA BULAN DAN GERHANA MATAHARI 2015

     

    Pada tahun 2015 terdapat dua gerhana Bulan Total (GBT), satu gerhana Matahari Total  (GMT) dan satu gerhana Matahari Sebagian (GMS). Diskripsi singkat keempat gerhana tersebut sebagai berikut:

  1. GMT 20 Maret 2015 : Merupakan gerhana Matahari ke 61 dari 71 gerhana Matahari dalam seri Saros 120. Bertepatan dengan konjungsi atau ijtimak akhir Jumadil Awal 1436 H pada tanggal 20 Maret jam 16:36 wib dan durasi totalitasnya 2 menit 47 detik.  Gerhana ini  tidak dapat disaksikan dari wilayah Indonesia. GMT 20 Maret 2015 dapat disaksikan dari wilayah  Iceland, Eropa, Africa Utara, Asia Utara. Jalur gerhana Matahari Total melewati Utara laut Atlantik, Pulau Faeroe dan Svalbard.
  2. GBT Apr 4, 2015: merupakan Gerhana Bulan ke 30 dari 71 gerhana Bulan dalam seri Saros 132, GBT Apr 4, 2015 dapat disaksikan dari seluruh wilayah Indonesia, GBT maksimum (terdekat ke sumbu Umbra) berlangsung pada  jam 19:02 wib dan fasa Bulan Purnama 19:06 wib. GBT Apr 4, 2015 juga dapat disaksikan di Asia, Australia, Amerika, Lautan Pasific.  Gerhana akan berlangsung selama 3 jam 29 menit dan Gerhana Bulan Totalnya hanya berlangsung singkat sekitar 5 menit.
  3. GMS 13 September 2015: merupakan gerhana Matahari ke 54 dari 73 gerhana Matahari dalam seri Saros 125. Konjungsi atau ijtimak akhir Zulkaedah 1436 H bertepatan dengan tanggal 13 September pada jam 13:41 wib. GMS 13 September 2015 ini  tidak dapat disaksikan dari wilayah Indonesia. Gerhana Matahari Sebagian ini dapat disaksikan di kawasan Afrika Selatan, Lautan India bagian selatan dan Antarctica.
  4. GBT Sept 28, 2015: Merupakan Gerhana Bulan ke 28 dari 81 gerhana Bulan dalam Saros 137 mencapai maksimum jam 10:23 wib dan fasa Bulan Purnama berlangsung pada jam 09:50 wib. GBT Sept 28, 2015 ini tidak dapat disaksikan dari wilayah Indonesia. Gerhana Bulan dapat disaksikan di sebagian wilayah Asia Tengah, Timur Tengah, Arab Saudi, Afrika , Eropa, Amerika Latin, Amerika Serikat. Gerhana Bulan Total berlangsung  selama 1jam 12 menit,  durasi gerhana 3 jam 20 menit. Pertengahan Bulan Dzulhijjah 1436 H.

     


 

 

  1. GERHANA BULAN DAN GERHANA MATAHARI 2016

    Gerhana Bulan Penumbra, Gerhana Matahari Total dan Gerhana Matahari Cincin 2016

    Tabel 1a: Jadual Fasa Bulan 2016 dan indikator gerhana Matahari (Espenak, NASA)

Ijtimak 2016

GM 2016

Kuartir Pertama 2016

Tanggal

UT

 

Tanggal

UT

 

 

Jan

10

1:30

 

Jan

16

23:26

Feb

8

14:39

 

Feb

15

7:46

Mar

9

1:54

 T

Mar

15

17:03

Apr

7

11:24

 

Apr

14

3:59

May

6

19:30

 

May

13

17:02

Jun

5

3:00

 

Jun

12

8:10

Jul

4

11:01

 

Jul

12

0:52

Aug

2

20:45

 

Aug

10

18:21

Sep

1

9:03

A

Sep

9

11:49

Oct

1

0:12

 

Oct

9

4:33

Oct

30

17:38

 

Nov

7

19:51

Nov

29

12:18

 

Dec

7

9:03

Dec

29

6:53

 

 

 

 

 

Tabel 1b: Jadual Fasa Bulan 2016 dan indikator gerhana (Espenak, NASA)

Bulan Purnama 2016

GB 2016

Kuartir Akhir 2016

Tanggal

UT

 

Tanggal

UT

 

Jan

2

5:30

Jan

24

1:46

 

Feb

1

3:28

Feb

22

18:20

 

Mar

1

23:11

Mar

23

12:01

n

Mar

31

15:17

Apr

22

5:24

 

Apr

30

3:29

May

21

21:15

 

May

29

12:12

Jun

20

11:02

 

Jun

27

18:19

Jul

19

22:57

 

Jul

26

23:00

Aug

18

9:27

 

Aug

25

3:41

Sep

16

19:05

n

Sep

23

9:56

Oct

16

4:23

 

Oct

22

19:14

Nov

14

13:52

 

Nov

21

8:33

Dec

14

0:06

 

Dec

21

1:56

 Secara ringkas Fenomena Gerhana 2016 adalah sebagai berikut:

  1. Gerhana Matahari Total, Rabu,  9 Maret 2016 saros 130, 52/73
  2. Gerhana Matahari Cincin, Kamis, 1 September 2016 saros 135, 39/71
  3. Gerhana Bulan Penumbra, Rabu, 23 Maret 2016 saros 142, 18/74
  4. Gerhana Bulan Penumbra, Kamis, 18 Agustus 2016 (berakhirnya gerhana seri Saros 109; gerhana 73 dari 73. Di sebagian wilayah Indonesia timur dan di sebagian wilayah Indonesia Tengah). Nyaris gerhana?  Tidak tercantum dalam catalog gerhana. Hanya sekitar 1.6 % bagian bulan yang berada di kawasan penumbra.
  5. Gerhana Bulan Penumbra, Jum’at 16 ?  Sabtu, 17 September 2016 saros 147, 9/71

     

 

B.1 Gerhana Bulan Penumbra 23 Maret 2016

Gerhana Bulan Penumbra 23 Maret 2016 merupakan gerhana Bulan  seri Saros 142, gerhana Bulan ke 18 dari 74 gerhana Bulan seri saros 142. Sekitar 80% permukaan Bulan mengalami gerhana Bulan Penumbra pada momen pertengahan gerhana Bulan Penumbra 23 Maret 2016. Pada prinsipnya gerhana bulan penumbra 23 Maret 2016 dapat disaksikan dari seluruh wilayah Indonesia. Namun bagi awam sukar membedakan antara momen gerhana penumbra dengan momen bulan purnama, bulan seolah tidak berubah terang cahayanya, namun sebenarnya sorot cahaya Matahari ke Bulan telah berkurang karena terhalang Bumi, namun belum mencapai 100%. Bila ada sorot cahaya Matahari di sebagian Bulan telah berkurang 100%, maka gerhana Bulan dinamakan gerhana umbra sebagian dan bila sorot cahaya Matahari di seluruh permukaan Bulan telah berkurang 100%, maka gerhana Bulan dinamakan gerhana umbra total atau gerhana Bulan Total.

Gerhana Penumbra mulai 23 Maret 2016 jam 16:39 wib, pertengahan gerhana Penumbra 23 Maret 2016 jam 18: 47 wib, Gerhana Penumbra 23 Maret 2016 berakhir jam 20: 55 wib. Bulan terbit di wilayah Indonesia telah dalam keadaan gerhana penumbra, kecuali di beberapa tempat Indonesia timur seperti Ambon, Sorong dan Jayapura dapat menyaksikan awal gerhana bulan penumbra 23 Maret 2016. Pada pertengahan gerhana sekitar 80% bundaran Bulan berada dalam kawasan penumbra atau mengalami pengurangan sorot cahaya Matahari. Momen fasa Bulan Purnama berlangsung pada tanggal 23 Maret 2016  jam 19:01 wib.

 

 

Tabel 2: Gerhana Bulan Penumbra 23 Maret 2016

Nama Ibukota Provinsi

Mulai Gerhana Pn

Pertengahan

Akhir Gerhana Pn

Pulau Sumatera

jam

tinggi

jam

tinggi

jam

tinggi

Banda Aceh

16:39

-31

18:47

-1

20:55

30

Medan

16:39

-28

18:47

3

20:55

34

Padang

16:39

-27

18:47

4

20:55

36

Pakan Baru

16:39

-25

18:47

5

20:55

37

Bengkulu

16:39

-25

18:47

6

20:55

37

Jambi

16:39

-23

18:47

8

20:55

39

Tanjung Pinang

16:39

-22

18:47

8

20:55

40

Palembang

16:39

-22

18:47

9

20:55

40

Bandar Lampung (Teluk Betung)

16:39

-22

18:47

9

20:55

40

Pangkal Pinang

16:39

-21

18:47

10

20:55

41

             
Pulau Kalimantan            
Pontianak

16:39

-18

18:47

13

20:55

45

Palangkaraya

16:39

-13

18:47

18

20:55

49

Banjarmasin

16:39

-13

18:47

18

20:55

50

Samarinda

16:39

-10

18:47

21

20:55

53

Tanjung Selor

16:39

-10

18:47

21

20:55

53

             
Pulau Sulawesi            
Manado

16:39

-2

18:47

29

20:55

60

Gorontalo

16:39

-4

18:47

27

20:55

58

Palu

16:39

-7

18:47

24

20:55

55

Mamuju

16:39

-8

18:47

23

20:55

54

Makassar

16:39

-8

18:47

23

20:55

55

Kendari

16:39

-4

18:47

27

20:55

58

             
Halmahera, Ambon dan Irian Jaya            
Ternate

16:39

0

18:47

31

20:55

63

Ambon

16:39

1

18:47

32

20:55

64

Sorong

16:39

4

18:47

35

20:55

67

Jayapura

16:39

14

18:47

45

20:55

76

             
NTT, NTB dan Bali            
Kupang

16:39

-3

18:47

27

20:55

58

Mataram

16:39

-11

18:47

20

20:55

51

Denpasar

16:39

-12

18:47

19

20:55

50

             
Pulau Jawa            
Surabaya

16:39

-14

18:47

17

20:55

48

Semarang

16:39

-16

18:47

14

20:55

45

Yogyakarta

16:39

-16

18:47

14

20:55

45

Bandung

16:39

-19

18:47

12

20:55

43

Serang

16:39

-21

18:47

10

20:55

41

Jakarta

16:39

-20

18:47

11

20:55

42

 

B.2 Gerhana Bulan Penumbra 16 ? 17 September 2016

Gerhana Bulan Penumbra 16 ? 17 September 2016 merupakan gerhana Bulan  seri Saros 147, gerhana Bulan ke 9 dari 71 gerhana Bulan seri saros 147. Sekitar 93% permukaan Bulan mengalami gerhana Bulan Penumbra pada momen pertengahan gerhana Bulan Penumbra 16 ? 17 September 2016. Pada prinsipnya gerhana bulan penumbra 16 ? 17 September 2016 dapat disaksikan dari seluruh wilayah Indonesia. Namun bagi awam sukar membedakan antara momen gerhana penumbra dengan momen bulan purnama, bulan seolah tidak berubah terang cahayanya, namun sebenarnya sorot cahaya Matahari ke Bulan telah berkurang karena terhalang Bumi, namun belum mencapai 100%. Bila ada sorot cahaya Matahari di sebagian Bulan telah berkurang 100%, maka gerhana Bulan dinamakan gerhana umbra sebagian dan bila sorot cahaya Matahari di seluruh permukaan Bulan telah berkurang 100%, maka gerhana Bulan dinamakan gerhana umbra total atau gerhana Bulan Total.

Gerhana Penumbra mulai 16  September 2016 jam 23:55 wib, pertengahan gerhana Penumbra 17 September 2016 jam 1: 54 wib, Gerhana Penumbra 17 September 2016 berakhir jam 3: 54 wib. Pada pertengahan gerhana sekitar 93% bundaran Bulan berada dalam kawasan penumbra atau mengalami pengurangan sorot cahaya Matahari. Momen fasa Bulan Purnama berlangsung pada tanggal 17 September 2016 jam 02:05 wib.

Tabel 3. Gerhana Bulan Penumbra 16-17 September 2016

Nama Ibukota Provinsi

Mulai Gerhana Pn

Pertengahan

Akhir Gerhana Pn

Pulau Sumatera

jam

tinggi

jam

tinggi

jam

tinggi

Banda Aceh

23:55

77

1:54

68

3:54

40

Medan

23:55

81

1:54

65

3:54

37

Padang

23:55

85

1:54

64

3:54

35

Pakan Baru

23:55

85

1:54

63

3:54

34

Bengkulu

23:55

88

1:54

63

3:54

34

Jambi

23:55

88

1:54

61

3:54

32

Tanjung Pinang

23:55

87

1:54

60

3:54

31

Palembang

23:55

89

1:54

60

3:54

31

Bandar Lampung (Teluk Betung)

23:55

88

1:54

60

3:54

31

Pangkal Pinang

23:55

87

1:54

59

3:54

30

             
Pulau Kalimantan            
Pontianak

23:55

84

1:54

55

3:54

26

Palangkaraya

23:55

80

1:54

51

3:54

22

Banjarmasin

23:55

80

1:54

50

3:54

21

Samarinda

23:55

76

1:54

47

3:54

18

Tanjung Selor

23:55

75

1:54

47

3:54

18

             
Pulau Sulawesi            
Manado

23:55

68

1:54

40

3:54

11

Gorontalo

23:55

70

1:54

41

3:54

12

Palu

23:55

74

1:54

45

3:54

16

Mamuju

23:55

75

1:54

46

3:54

17

Makassar

23:55

74

1:54

45

3:54

16

Kendari

23:55

71

1:54

42

3:54

13

             
Halmahera, Ambon dan Irian Jaya            
Ternate

23:55

66

1:54

37

3:54

8

Ambon

23:55

66

1:54

36

3:54

7

Sorong

23:55

62

1:54

33

3:54

4

Jayapura

23:55

53

1:54

24

3:54

-5

             
NTT, NTB dan Bali            
Kupang

23:55

69

1:54

41

3:54

12

Mataram

23:55

77

1:54

48

3:54

20

Denpasar

23:55

78

1:54

49

3:54

21

             
Pulau Jawa            
Surabaya

23:55

81

1:54

52

3:54

23

Semarang

23:55

83

1:54

54

3:54

25

Yogyakarta

23:55

82

1:54

54

3:54

25

Bandung

23:55

85

1:54

57

3:54

28

Serang

23:55

87

1:54

59

3:54

30

Jakarta

16:39

-20

1:54

58

3:54

29

 

 

B.3 GERHANA MATAHARI TOTAL 2016 (berlangsung pada pagi hari, 9 Maret 2016)

Keistimewaan gerhana Matahari total tahun 2016 jalur GMT melewati pulau – pulau di Indonesia, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Halmahera, secara detail waktu awal dan akhir gerhana Matahari dapat dilihat pada Tabel Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 (1a, 1b, 2a, 2b, 3a dan 3b). Kota – kota Palembang (lama gerhana Matahari Total 1 menit 58 detik dari jam 7:20:45 wib hingga jam 7:22:43 wib; maksimum  pada jam 7:21:44 wib), Plangkaraya (lama gerhana Matahari Total 2 menit 27 detik dari jam 7:28:56 wib hingga jam 7:31:24 wib; maksimum  pada jam 7:30:10 wib)  dan Palu (lama gerhana Matahari Total 1 menit 45 detik dari jam 7:38:00 wib hingga jam 7:39:46 wib; maksimum  pada jam 7:38:53 wib) merupakan kota yang dilalui oleh jalur gerhana Matahari Total. Selain itu kota – kota lain dalam Tabel di bawah ini hanya menyaksikan gerhana Matahari Sebagian, yang bervariasi dari 65.4% di Kupang hingga 99.9% di Pangkal Pinang.

 

 

 

 

Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 (1a)

 

Tipe Gerhana

Gerhana Matahari Mulai

tinggi

magnitudo gerhana

Obskurasi Max

lama totalitas

Nama Ibukota Provinsi

 

jam (wib)

der

 

 

men, det

Pulau Sumatera

 

 

 

 

 

 

Banda Aceh

P

06:50(r)

0(r)

0.759

0.703

-

Medan

P

06:36(r)

0(r)

0.816

0.774

-

Padang

P

06:28(r)

0(r)

0.942

0.934

-

Pakan Baru

P

06:24(r)

0(r)

0.912

0.897

-

Bengkulu

P

6:19:59

0

0.984

0.986

-

Jambi

P

6:21:02

1

0.979

0.98

-

Tanjung Pinang

P

6:21:30

2

0.958

0.955

-

Palembang

T

6:20:30

2

1.032

1

1m58s

Bandar Lampung (Teluk Betung)

P

6:19:44

3

0.931

0.921

-

Pangkal Pinang

P

6:21:05

4

0.998

0.999

-

 

 

 

 

Pulau Kalimantan

 

 

 

Pontianak

P

6:23:07

7

0.94

0.933

-

Palangkaraya

T

6:23:27

12

1.036

1

2m27s

Banjarmasin

P

6:23:05

13

0.979

0.98

-

Samarinda

P

6:26:22

16

0.979

0.981

-

Tanjung Selor

P

6:29:27

17

0.879

0.856

-

 

 

 

 

Pulau Sulawesi

 

 

 

Manado

P

6:34:09

26

0.965

0.965

-

Gorontalo

P

6:31:34

23

0.982

0.984

-

Palu

T

6:27:53

19

1.038

1

1m45s

Mamuju

P

6:26:00

18

0.981

0.983

-

Makassar

P

6:25:21

18

0.902

0.886

-

Kendari

P

6:28:11

22

0.922

0.911

-

 

 

 

Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 (1b)

 

Tipe Gerhana

Gerhana Matahari Mulai

tinggi

magnitudo gerhana

Obskurasi Max

lama totalitas

Nama Ibukota Provinsi

 

jam (wib)

der

 

 

men, det

Halmahera, Ambon dan Irian Jaya

 

 

 

Ternate

P

6:37:03

29

0.978

0.98

-

Ambon

P

6:33:55

29

0.889

0.869

-

Sorong

P

6:39:21

33

0.95

0.946

-

Jayapura

P

6:53:31

46

0.783

0.736

-

 

 

 

 

NTT, NTB dan Bali

 

 

 

Kupang

P

6:28:25

23

0.719

0.654

-

Mataram

P

6:22:54

15

0.806

0.763

-

Denpasar

P

6:22:27

14

0.809

0.767

-

 

 

 

 

Pulau Jawa

 

 

 

Surabaya

P

6:21:22

11

0.86

0.832

-

Semarang

P

6:20:35

8

0.874

0.849

-

Yogyakarta

P

6:20:35

9

0.848

0.816

-

Bandung

P

6:19:53

5

0.882

0.858

-

Serang

P

6:19:44

4

0.908

0.891

-

Jakarta

P

6:19:51

5

0.906

0.889

-

 


 

Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 (2a)

Waktu pada momen gerhana Matahari Total Dimulai dan Berakhir

Nama Ibukota Provinsi

Gerhana Total Mulai

Gerhana Max

Tinggi

Azimuth

Gerhana Total Selesai

max obskurasi

Pulau Sumatera

jam (wib)

wib

der

der

wib

bagian

Banda Aceh

-

7:22:30

8

95

-

0.703

Medan

-

7:22:27

11

95

-

0.774

Padang

-

7:20:39

13

94

-

0.934

Pakan Baru

-

7:21:47

14

95

-

0.897

Bengkulu

-

7:19:49

15

94

-

0.986

Jambi

-

7:21:47

17

94

-

0.98

Tanjung Pinang

-

7:22:43

18

94

-

0.955

Palembang

7:20:45

7:21:44

18

94

7:22:43

1

Bandar Lampung (Teluk Betung)

-

7:20:48

18

93

-

0.921

Pangkal Pinang

-

7:23:10

19

94

-

0.999

Pulau Kalimantan

Pontianak

-

7:27:08

23

95

-

0.933

Palangkaraya

7:28:56

7:30:10

29

94

7:31:24

1

Banjarmasin

-

7:29:51

29

93

-

0.98

Samarinda

-

7:35:29

33

95

-

0.981

Tanjung Selor

-

7:38:42

34

97

-

0.856

Pulau Sulawesi

Manado

-

7:49:14

44

98

-

0.965

Gorontalo

-

7:45:08

42

96

-

0.984

Palu

7:38:00

7:38:53

37

95

7:39:46

1

Mamuju

-

7:35:54

35

93

-

0.983

Makassar

-

7:34:50

36

92

-

0.886

Kendari

-

7:40:13

40

92

-

0.911

 


 

Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 (2b)

Waktu pada momen gerhana Matahari Total dimulai dan Berakhir

Nama Ibukota Provinsi

Gerhana Total Mulai

Gerhana Max

Tinggi

Azimuth

Gerhana Total Selesai

max obskurasi

Halmahera, Ambon dan Irian Jaya

jam (wib)

wib

der

der

wib

bagian

Ternate

-

7:54:10

48

99

-

0.98

Ambon

-

7:49:53

48

92

-

0.869

Sorong

-

7:58:42

53

96

-

0.946

Jayapura

-

8:17:20

67

95

-

0.736

NTT, NTB dan Bali

Kupang

-

7:37:13

40

87

-

0.654

Mataram

-

7:28:41

31

90

-

0.763

Denpasar

-

7:27:42

30

90

-

0.767

Pulau Jawa

Surabaya

-

7:25:55

27

91

-

0.832

Semarang

-

7:23:54

24

92

-

0.849

Yogyakarta

-

7:23:38

24

91

-

0.816

Bandung

-

7:21:44

21

92

-

0.858

Serang

-

7:21:03

19

93

-

0.891

Jakarta

-

7:21:30

20

92

-

0.889

 

 


 

Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 (3a)

Nama Ibukota Provinsi

Gerhana Total Berakhir

Gerhana Selesai

Tinggi Matahari

Pulau Sumatera

jam (wib)

jam (wib)

der

Banda Aceh

-

8:24:57

23

Medan

-

8:27:35

27

Padang

-

8:27:34

30

Pakan Baru

-

8:29:23

31

Bengkulu

-

8:27:38

32

Jambi

-

8:30:52

34

Tanjung Pinang

-

8:32:26

35

Palembang

7:22:43

8:31:26

35

Bandar Lampung (Teluk Betung)

-

8:30:12

35

Pangkal Pinang

-

8:34:00

37

Pulau Kalimantan

Pontianak

-

8:40:30

42

Palangkaraya

7:31:24

8:46:52

48

Banjarmasin

-

8:46:33

48

Samarinda

-

8:55:06

53

Tanjung Selor

-

8:58:27

54

Pulau Sulawesi

Manado

-

9:15:19

65

Gorontalo

-

9:09:42

62

Palu

7:39:46

9:00:40

57

Mamuju

-

8:56:23

55

Makassar

-

8:54:37

56

Kendari

-

9:02:53

61

 

 

 

Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 (3b)

Nama Ibukota Provinsi

Gerhana Total Berakhir

Gerhana Selesai

Tinggi Matahari

Halmahera, Ambon dan Irian Jaya

jam (wib)

jam (wib)

der

Ternate

-

9:22:10

69

Ambon

-

9:16:23

70

Sorong

-

9:28:25

75

Jayapura

-

9:48:19

88

NTT, NTB dan Bali

Kupang

-

8:55:21

59

Mataram

-

8:43:49

50

Denpasar

-

8:42:12

48

Pulau Jawa

Surabaya

-

8:39:39

45

Semarang

-

8:36:09

42

Yogyakarta

-

8:35:29

42

Bandung

-

8:32:05

38

Serang

-

8:30:46

36

Jakarta

-

8:31:39

37

 

B.4. Gerhana Matahari Cincin 1 September 2016 saros 135, 39/71

Jalur Gerhana Matahari Cincin 1 September 2016 tidak melewati wilayah Indonesia.  Di beberapa wilayah Indonesia diantaranya adalah sebagian Sumatera Selatan, Bengkulu dan Jawa dapat menyaksikan nyaris menjelang matahari terbenam, misalnya di Bengkulu mulai gerhana pada jam 17:38:06 wib, dengan tinggi 8 derajat, pertengahan gerhana pada jam 17:53:29 wib dengan tinggi 4 derajat  dan pada saat terbenam gerhana berakhir pada jam 18:08:42 wib. Di Bandar Lampung mulai gerhana pada jam 17:32:18 wib, dengan tinggi 6 derajat, pertengahan gerhana pada jam 17:54:57 wib dengan tinggi 0 derajat  dan pada saat terbenam gerhana berakhir pada jam 17:57 wib. Gerhana sebagian yang sangat tipis 0.5% hingga 1.8%.

Di kota Semarang (max 0.8%) gerhana matahari sebagian mulai jam 17:29:43 wib dengan tinggi 1 derajat dan matahari terbenam dalam keadaan gerhana pada jam 17:35(s) wib, di Yogyakarta (max 1.3%) gerhana matahari sebagian mulai jam 17:26:56 wib,  dengan tinggi Matahari 2 derajat,  dan matahari terbenam dalam keadaan gerhana pada jam  17:35(s) wib, di Bandung (max 2.9%) gerhana matahari sebagian mulai pada jam 17:28:13 wib dengan tinggi Matahari 4 derajat dan matahari terbenam dalam keadaan gerhana  17:47(s) wib, di Serang ( max 2.5%) gerhana matahari sebagian mulai pada jam 17:29:59 wib dengan tinggi matahari 5 derajat dan  matahari terbenam dalam keadaan gerhana 17:53(s) wib dan Jakarta (max 2.3%) gerhana matahari sebagian mulai pada jam 17:30:27 wib dengan tinggi matahari tinggi 5 derajat dan  matahari terbenam dalam keadaan gerhana pada jam 17:50(s) wib. Kota – kota lainnya tidak dapat menyaksikan gerhana Matahari Cincin yang di amati dari wilayah Indonesia sebagai Gerhana Matahari sebagian. 

 

Lembang, 1 Mei 2015/13 Rajab 1436 H

Leave a Reply

To use reCAPTCHA you must get an API key from https://www.google.com/recaptcha/admin/create