Handicap

Handicap; itulah sebuah kata yang kiranya cocok untuk menjadi kata kunci jawaban yang berkaitan dengan perbedaan perlakuan yang diterima. Dari beberapa kasus yang ada, satu kasus yang mencolok adalah adanya kemandegan pelaksanaan dan penyelesaian tugas yang diberi “permakluman”, atau dispensasi, kata orang. Sudah sekian lama kemandegan itu terjadi, sehingga lambat laun sorotan berpindah dari masalah di atas ke keadaan bahwa si pelaksana tugas merasa “kerepotan” dan perlu dibantu (baca: dimaklum). Untuk itu mari kita lepaskan tugas itu dari si pelaksana (dapat beberapa orang), demikian kata orang yang lain menilik “handicap” yang dimiliki-nya (atau mereka).
Gejala ini menjadi “trend”. Jadi, tidak perlu “ngoyo” mengerjakan tugas, toh nantinya juga “dimaklum”. Luar biasa. Kalau tugas itu dibebankan ke saya, wah.. wah.., segudang amunisi diberondongkan ke saya kalau bekerja se-kena-nya dan tiada ampun, tidak bisa dimaklum. Kata singkatnya: “haram” bagiku melakukan hal yang sama seperti si pelaksana di atas karena (mungkin) saya berada di kasta yang berbeda. Tidak diperkenankan berpindah kasta karena handicap saya berbeda.

Adakah reward dan punishment bekerja? Tidak perlu reward dululah, punishment itu saja toh praktis tak ada. Adakah sebabnya? Ya, ada, yaitu: handicap yang menjadi benteng kuat yang meniadakan punishment.

This entry was posted in Policy. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

To use reCAPTCHA you must get an API key from https://www.google.com/recaptcha/admin/create