BUMI, PLANET BERKEHIDUPAN

 

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi membangunkan kesadaran manusia sebagai mahluk cerdas, bahwa hidupnya berkembang di sebuah planet istimewa, planet Bumi.  Planet Bumi mempunyai kedudukan istimewa diantara planet – planet lain dalam tatasurya. Planet Bumi merupakan planet padat yang terbesar dalam tatasurya, permukaan planet Bumi masih hidup dengan aktivitas lempeng tektoniknya, gempa, tsunami dan letusan gunung masih terus berlangsung. Permukaan Bumi dengan komposisi 29% daratan dan 71% lautan, air dalam bentuk fluida atau dalam bentuk cair (bukan gas dan beku) dapat berlangsung sangat lama berjuta tahun. Dinamika angkasa Bumi sangat luar biasa, siklus penguapan air laut, gumpalan awan, badai, hujan dan salju membuat proses erosi dan proses pertumbuhan kehidupan pada permukaan Bumi terus berlangsung. Planet Bumi tidak hanya merupakan planet yang berkehidupan biasa, bahkan dihuni oleh kehidupan mahluk cerdas, manusia. Keberadaan air dalam bentuk fluida yang memerlukan kesetimbangan antara energi radiasi Matahari yang diterima planet Bumi (variasi jarak Bumi – Matahari dan variasi daya Matahari) dengan ukuran massa planet Bumi.

 

Sebagai planet berkehidupan, planet Bumi mempunyai kondisi biosfer yang berbeda dengan lingkungan dekatnya dalam lingkup tatasurya. Bola – bola karang tetangga terdekat planet Bumi seperti Bulan, planet Mars, planet Venus merupakan tempat tak berkehidupan. Di tempat – tempat tersebut tidak terdapat lapisan udara yang pas (tidak terlalu tebal dan tidak terlalu tipis) dan tidak ada air yang menyangga kehidupan.

 

Kondisi ini membangunkan kesadaran manusia tidak ada pilihan, agar kehidupan di planet Bumi ini tetap nyaman dan bersinambung, pilihan kita adalah melestarikan lingkungan biosfer Bumi yang asri.  Kini “rumah kita” telah dihuni sekitar 7 milyard manusia, sudah sewajarnya manusia perlu merenungkan sejenak tentang keadaan planet Bumi. Peringatan hari Bumi, 22 April hendaknya bisa menjadi momentum untuk berbuat sesuatu bagi kenyamanan lingkungan “rumah kita”. Senantiasa bertukar pengalaman membangun kualitas lingkungan planet Bumi yang lebih baik.

 

Manusia secara individu maupun kolektif sebagai suatu bangsa perlu membangkitkan rasa “kepemilikan planet Bumi sebagai rumah yang paling nyaman bagi kita semua”.  Planet Bumi tempat kita dilahirkan, tempat kita dibesarkan, tempat kita belajar, tempat kita bermain, tempat kita tertawa, tempat kita menangis, tempat kita bersujud kepada Penguasa Alam Semesta, tempat kita bertarung atau berlaga dan juga tempat kuburan/makam kita.

 

Seperti layaknya sebuah rumah tinggal, manusia menghendaki rumah tinggal yang nyaman, apakah planet Bumi kita akan tetap nyaman seterusnya? Apakah Bumi masih mampu menyangga kebutuhan kenyamanan hidup kita semua? Bagaimana bersikap yang senantiasa menjaga agar planet Bumi sebagai “rumah” yang tetap nyaman bagi kehidupan kita semua?.

 

Bumi yang nyaman memerlukan sikap kasih sayang manusia terhadap Bumi. Sikap kasih sayang manusia itu terekspresikan dalam sikap untuk tidak melakukan tindakan yang hanya “merusak dan mencemari” lingkungan planet Bumi, tapi juga menumbuhkan sikap dan tindakan memelihara kenyamanan biosfer Bumi dan memperbaiki lingkungan biosfer planet Bumi yang rusak akibat ulah dan sikap “serakah” atau berlebihan, sikap semaunya mengumbar nafsu dalam eksploatasi dan sikap “salah kaprah” manusia, berbuat sesuatu yang merusak . Bagaimana memanfaatkan ruang untuk menambah tanaman yang  bisa ditumbuhkan dan dipelihara dengan keterbatasan waktu dan tenaga kita punyai?

 

Manusia perlu membangun sikap damai lahir batin, membina kehidupan rasionalitas dan spiritualitas dalam kesetimbangan. Membangun kesadaran bahwa kehidupan di planet Bumi merupakan anugerah Allah swt yang perlu disyukuri bersama. Lingkungan planet Bumi telah disiapkan untuk kehidupan manusia, berbagi peristiwa dahsyat, tabrakan batuan kecil dan besar membentuk planet Bumi, semula lingkungan planet Bumi tandus, panas tapi pada akhirnya menjadi lingkungan yang ramah bagi kehidupan setelah proses jutaan tahun. Dalam perspektif agama manusia tidak diberi kesempatan atau kekuasaan dalam pembuatan planet Bumi, ada pencipta, penguasa dan pemelihara alam semesta, Allah swt. 

 

Dan sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Nya bahwa engkau melihat Bumi itu tandus, maka apabila Kami turunkan air kepadaNya, ia bergerak dan tumbuh. Sesungguhnya Dia yang menghidupkannya niscaya Dia dapat menghidupkan orang-orang yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.  S. Fushshilat (dijelaskan) 41 ayat 39

 

Walaupun manusia belum memperoleh cara bagaimana menghidupkan unsur yang mati. Pada hakekatnya kehidupan merupakan sesuatu yang universal, kehidupan dapat terbentuk dari “zat yang mati” yang tersebar di alam semesta. Kehidupan bisa dikeluarkan dari unsur yang mati dan unsur yang mati juga bisa dikeluarkan dari yang hidup, merupakan sifat umum kehidupan di alam semesta.

 

Kehidupan di planet Bumi dapat dikatakan mewakili hanya satu contoh sistem kehidupan di alam semesta. Satu kode genetic, satu set asam amino yang mempunyai konfigurasi khusus, dan satu aliran energi telah bertahan dari zaman Bumi masih primitive, Bumi masih dalam lingkungan yang kacau balau oleh hantaman asteroid. Untuk mengetahui potensi menyeluruh  kehidupan di alam semesta dibutuhkan usaha explorasi di luar contoh khusus di planit Bumi dan terus mengembangkan prinsip-prinsip umum fisika dan kimia  yang mempunyai peran penting untuk memunculkan/ melahirkan sifat utama status kehidupan: auto-catalysis (pertumbuhan secara otomatis), self-organization (mengorganisasi sendiri), spatial containment of functions (menahan pertumbuhan bagian/organ yang berfungsi), reproduction (mereproduksi, menurunkan keturunan) dan evolusi (beradaptasi dengan lingkungan).

 

Perhatikan tentang pertumbuhan kita sebagai manusia dari sejak pertemuan antara sperma dan sel telur dalam rahim ibu yang berukuran relatif sangat kecil tumbuh menjadi seorang bayi, berbagai makanan telah diubah menjadi bentuk manusia, kemudian akan berhenti pada saat tertentu ketika usia dewasa dicapai, ukuran maksimum semua organ tubuh telinga, hidung, tangan, bulu mata dsb. Kemudian setelah dewasa manusia menikah dan menurunkan generasi berikutnya. Berbagai kondisi baik dan buruk lingkungan di planet Bumi, manusia masih tetap ada.  

 

Kehidupan di planet Bumi merupakan bagian pelajaran adanya sebuah proses “menghidupkan planet Bumi yang tandus, menjadi planet Bumi berkehidupan dengan adanya fluida air. Fluida air merupakan katalisator untuk reaksi kimia untuk membentuk untaian atom dalam molekul yang lebih kompleks dan selain itu untuk transportasi bagi mahluk hidup. Benih kehidupan di planet Bumi telah bertahan dalam lingkungan yang berubah secara ekstrim.

 

Pada masa yang nyaman ini terdapat ragam benih kehidupan yang melahirkan generasi baru, misalnya padi – padian ditumbuhkan melalui mekanisme reproduksi bulir dan beberapa generasi baru pepohonan juga dari reproduksi biji maupun kultur jaringan.

 

Sebagai insan beragama, kita meyakini bahwa ada Allah swt yang menciptakan, menghidupkan, mematikan, memelihara, memberi rezeki mahluk hidup. Terdapat makhluk-makhluk yang melata (min daabbah(tin)), yang disebarkan di antara langit dan Bumi dan pada keduanya. Keberadaan mahluk – mahluk tersebut masih belum terdeteksi keberadaannya. Pesan ayat al Quran dapat menjadi pelajaran bagi kita semua, menyelesaikan masalah dengan pendekatan berbagai paradigm kehidupan diperlukan, tidak hanya paradigm sains saja.

 

QS Ali ‘Imraan 3 :  27 Engkau masukkan malam kedalam siang dan Engkau masukkan siang kedalam malam, Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup, dan Engkau beri rizki kepada siapa yang Engkau kehendaki tanpa perhitungan. 

 

QS al Anam, 6 ayat 95 Sungguh, Allah yang menumbuhkan butir (padi-padian) dan biji (kurma). Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup.

 

Semoga dengan peringatan hari Bumi 22 April, senantiasa dapat menggugah qalbu manusia untuk lebih bersyukur dan bertaqwa, dan menggerakan akal-pikir manusia untuk bisa membangun kualitas kehidupan yang lebih baik di planet Bumi bersama 7 milyard manusia.

 

Lembang, 21 April 2014

Dr. Moedji Raharto

Anggota Kelompok Keahlian Astronomi – FMIPA ITB

Peneliti Observatorium Bosscha ITB

Tlp 085221088854

Leave a Reply

To use reCAPTCHA you must get an API key from https://www.google.com/recaptcha/admin/create